Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
LiterasiOpini

Prof. Ambo Asse Mata Air Keteladanan dari Telaga Timur

×

Prof. Ambo Asse Mata Air Keteladanan dari Telaga Timur

Share this article

Oleh: Agusliadi Massere*

KHITTAH. CO – Atas pemahaman dan kesadarann tinggi serta mendalam Yudi Latif terhadap pentingnya “keteladanan” maka lahirlah bukunya yang sangat tebal itu—xxii + 658 halaman—dengan judul Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan. Secara substansial buku Yudi Latif itu, menggambarkan sejumlah tokoh bangsa yang penuh inspirasi dan keteladanan dengan pikiran/pemikiran dan tindakannya menunjukkan kristalisasi nilai-nilai dan sila dari Pancasila. Saya senang dengan hal-hal inspiratif dan menunjukkan “Mata air keteladanan”.

Sambil menikmati hari kemenangan pasca bulan Ramadan, beberapa hari ini, saya menemukan “Mata air keteladanan” yang mengalir deras mengisi relung hati dan pikiran ini. Minimal ada tiga: Pertama, Ustaz Adi Hidayat (UAH). Ceramah, kedalaman ilmunya, spirit berbagi/bersedekahnya yang luar biasa. UAH pun pernah menegaskan tentang kalimat paling mahal sebagai jalan untuk membebaskan diri dari segala kegalauan, adalah “Aku punya Allah”; Kedua, Kang Dedi Mulyadi (KDM), Gubernur Jawa Barat.

KDM ini menjadi teladan terbaik sebagai pemimpin yang tegas, merakyat, dan semangat berbagi/bersedekahnya yang luar biasa. Terakhir dalam sambutannya sebagai Gubernur Jawa Barat—meskipun gayanya seperti sedang menjadi khatib—pada pelaksanaan hari raya Idulfitri menegaskan “Keislaman seorang pemimpin diukur dari senyuman rakyatnya”. Pada diri KDM, saya tidak menemukan, bahwa yang dilakukan itu adalah pencitraan, apa lagi jika menelusuri latar belakang hidupnya.

Setelah keduanya di atas yang saya dan mungkin kita semua bisa menyebutnya sebagai “Mata air keteladanan”. Seorang senior dengan multiaspek (Senior dari semua aspek) menunjukkan ke saya, satu lagi mata air keteladanan. Jika keduanya (baca: UAH dan KDM) bisa disebut “Mata air keteladanan dari telaga barat” maka yang satu ini adalah “Mata air keteladanan dari telaga timur”. Senior ini, Hadi Saputra (saya akrab menyapanya dengan Kak Hadi)—seorang Antropolog Unismuh Makassar “menyodorkan” buku dengan judul Ambo Asse, Sang Penegak Purifikasi, Pendorong Dinamisasi.

Belajar dari pandangan dan prinsip apresiatif Diana Whitney & Amanda Trosten-Bloom—penulis buku The Power of Appreciative Inquiry—sejatinya, kita harus senantiasa menemukan hal-hal inspiratif dari siapa pun, bahkan dari seseorang yang (mungkin) dipandang biasa-biasa saja oleh kebanyakan orang. Apa lagi, jika hal inspiratif itu merupakan mata air keteladanan dari telaga jiwa sosok yang luar biasa, ketokohan, keilmuan, dan perilakunya sangat kharismatif, otoritatif, dengan kredibilitas dan integritas yang sangat tinggi dan diakui oleh banyak kalangan. Begitu pun jika kita mengikuti hukum heliotropic, di mana tumbuhan bertumbuh dengan mengarah pada cahaya atau sumber energi. Maka, kita pun terutama generasi muda, generasi pelanjut seharusnya memiliki sosok yang bisa menjadi mata air keteladanan sebagai sumber cahaya atau energi agar kita bisa bertumbuh menjadi generasi yang bermanfaat, positif, produktif, dan konstruktif pada masa yang akan datang.

Buku Ambo Asse, Sang Penegak Purifikasi, Pendorong Dinamisasi karya Hadi Saputra & Eka Damayanti (Penulis kedua ini seorang Psikolog UIN Alauddin Makassar), yang berketebalan vii + 139 halaman, itu sejatinya menjadi “Mata air keteladanan” bagi banyak orang. Saya sesungguhnya ingin mengatakan atau menempatkan frasa “sangat layak” di depan frasa “Mata air keteladanan” ini, tetapi saya merasa tidak tepat karena penilaian saya jauh melampaui dari penilaian tersebut. Jika saya mengenang perdebatan masa kecil kami dalam hal menunjukkan penilaian yang fokus pada jumlah atau indikator tertentu, kami memiliki istilah “sekunci-kunci” (artinya, tak terbatas) yang lebih tinggi atau lebih banyak dari istilah “se-dunia”. Kedua istilah saya ini, tidak ditemukan dalam perbendaharaan kata formal, baku, dan orang dewasa. Hanya berlaku di masa kecil sebelum menduduki bangku sekolah dasar, tetapi saya tidak bisa menemukan lagi frasa yang tepat untuk saya lekatkan pada buku tersebut serta sosok yang digambarkan di dalamnya.

Melalui buku Ambo Asse, Sang Penegak Purifikasi, Pendorong Dinamisasi, yang terbit pada Juli 2024, Kak Hadi dan Kak Eka ini, ingin menunjukkan atau sedang membawa kita para pembaca untuk menemukan, bahwa ternyata ada lagi satu mata air yang berasal dari telaga timur. Telaga yang airnya jernih, penuh keindahan, dengan kesejukan udaranya, dan suara-suara alam yang sangat merdu di sekitarnya, tentu saja sebagai mata air yang terbaik. Apa lagi jika itu adalah analogi keteladan, pikiran, dan pemikiran dari sosok Prof. Ambo Asse yang lahir dari Kawasan Indonesia Timur yaitu di Sulawesi Selatan, tepatnya di sebuah desa yang bernama Tanrutedong, Kabupaten Sidrap. Di sana pun, tempat kelahirannya, dalam makna yang sebenarnya ada sebuah telaga yang bernama “Telaga Sidenreng”—satu di antara empat telaga yang dikenal di Sulawesi Selatan.

Membaca buku tersebut, dari halaman pertama (baca: satu) , tepatnya Bagian 1 Jejak Langkah Ambo Asse sampai halaman terakhir sebagai bagian dari Mozaik 13 Testimoni Kolega di Unismuh Makassar, kita selaku pembaca bisa menemukan mata air keteladanan, sesuatu yang semestinya menjadi inspirasi kemudian diinternalisasi ke dalam diri, selanjutnya kita pun berupaya menjadi sungai-sungai kecil keteladanan itu di tengah kehidupan masing-masing.

Prof. Ambo Asse—seorang guru besar, Rektor Unismuh Makassar (sekarang mantan), dan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, yang sedang memimpin dalam periode keduanya—jika kita membaca Mozaik Masa Kelahirannya, adalah sosok yang dipersiapkan oleh Allah Swt, untuk menjadi pemimpin umat, tokoh kharismatik, dan teladan untuk episode kehidupan hari ini. Mengapa? Pada masa kecilnya, malaikat maut telah pernah “mengambil” nyawa/ruhnya, dirinya telah dibaringkan sambil ditutupi kain putih—tentu perhatian orang-orang sekitar, terutama keluarganya, tertuju padanya dan dipastikan ada yang bersedih dan menangis. Namun, Allah Swt kembali memberikan kesempatan untuk hidup meskipun sering sakit di masa kecilnya, dan takdir lainnya, saudara kembarnya satu pekan kemudian meninggal di ayunan.

Sebagaimana makna harfiah telaga yang ciri khasnya airnya jernih, maka kita pun bisa menemukan dalam buku tersebut dan bisa disimpulkan bahwa keimanan sosok Prof. Ambo Asse jernih tepatnya murni. Ini tergambar dari kebiasaan Prof. Ambo Asse—itu pun diajarkan dan menjadi teladan dalam keluarganya, sebagaimana pengakuan dari seorang anaknya—sejak masa mudanya sebelum menentukan pilihan dan menetapkan suatu keputusan, mulai dari urusan kecil sampai yang besar, senantiasa diawalinya dengan salat istikharah untuk mendapatkan petunjuk dari Allah Swt.

Jika dalam perjalanan episode kehidupannya, Prof. Ambo Asse dinilai atau dipandang sebagai Sang Penegak Purifikasi, tentu saja ini bukan hanya karena faktor keilmuan dan posisinya sebagai kader dan kini sebagai pimpinan Muhammadiyah Sulawesi Selatan, di mana Muhammadiyah identik dengan purifikasi dan dinamisasi. Namun, kepada Prof. Ambo Asse, kita bisa mengatakan itu adalah DNA-nya, algoritma pikiran dan perasaannya yang telah membentuk karakter kokoh untuk senantiasa menautkan dirinya dengan Allah Swt Sang Maha Kuasa, sehingga dalam perjalanannya pun hal tersebut mengalami transformasi dalam pemikiran dan tindakannya untuk senantiasa menegakkan purifikasi, baik dalam urusan akidah maupun ibadah.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, pemikiran, nilai, dan makna kehidupan yang terinternalisasi dalam perjalanan waktu yang dilewatinya, mulai sebagai aktivis, akademisi, dan pimpinan organisasi kemahasiswaan, keumatan, dan keagamaan termasuk sekelas Muhammadiyah, maka semangatnya sebagai Sang Penegak Purifikasi, baik dalam akidah maupun ibadah, itu semakin kokoh dan meninggalkan jejak yang jelas dan abadi dalam bentuk karya tulis. Di antara hasil karyanya, “Hadis tentang Basmalah pada Surah al-Fatihah dalam Shalat”, dan “Cincin dan Batu Akik dalam Perspektif Hadis  Nabi Saw (Studi terhadap Kualitas Sanad dan Matan). Kita pun bisa membacanya di halaman 70-71 di buku karya Kak Hadi & Kak Eka tersebut.

Sebagai Sang Pendorong Dinamisasi, saya melihat dari diri Prof. Ambo Asse—berdasarkan yang saya baca dari buku tersebut—bukan semata karena kiprahnya dalam memimpin sejumlah lembaga dan/atau organisasi dan termasuk bukan karena karya-karya dalam bentuk tindakan, pemikiran, dan karya tulis yang dilahirkannya di belakang hari setelah dirinya sebagai akademisi atau pimpinan lembaga/organisasi. Namun, sekali lagi saya harus mengatakan, itu adalah “DNA” dan “algoritma” dasar dari Prof. Ambo Asse, yang memiliki kepedulian tinggi dan mendalam atas kondisi kehidupan yang ada. Kesimpulan ini, bukan tanpa alasan. Karya ilmiah dalam bentuk risalah sebagai persyaratan Program Sarjana Muda Prof. Ambo Asse, itu sudah mengangkat tema pembahasan dengan judul “Konsepsi Syariat Islam tentang Hubungan Orang Kaya dan Fakir Miskin”. Judul skripsinya pun “Konsepsi Syariat Islam tentang Masyarakat Adil dan Makmur”. Keduanya ini bisa ditemukan pada halaman 12-14 di buku tersebut.

Jadi, sejak awal di masa muda Prof. Ambo Asse, embrio sebagai Sang Pendorong Dinamisasi itu telah tampak dengan jelas, karena judul-judul dari karya tulis yang dihasilkan itu adalah proses algoritmik dalam dirinya yang tentu saja dipengaruhi oleh sesuatu yang sangat dalam pada dirinya,  bisa berupa harapan, pemahaman, pikiran, perasaan, kepedulian, dan keresahan yang ada sebagai hasil pembacaannya terhadap realitas kehidupan. Seiring waktu, pada umurnya yang tidak muda lagi, spiritnya sebagai pendorong dinamisasi itu semakin mekar, itu bisa dilihat dari berbagai pemikiran dan hasil penelitiannya, di antaranya, “Tenaga Kerja Wanita pada Pertokoan dan Pusat Perbelanjaan di Kota Makassar” dan “Konsep Islam tentang Pengembangan Ekonomi Umat”.

Ada banyak hal bisa menjadi sumber keteladanan dari Prof. Ambo Asse. Hal itu nyata dan dirasakan, disaksikan, dan dialami oleh banyak orang. Kita bisa membaca dari halaman 85 sampai 138, bagaimana para koleganya—dari UIN Alauddin Makassar, dari Persyarikatan Muhammadiyah, dan Unismuh Makassar–menyampaikan pandangan dan penilaiannya tentang Prof. Ambo Asse. Yang pasti Prof. Ambo Asse itu mampu menjawab setiap keraguan dengan karya nyata; dirinya dinilai sebagai ulama dan akademisi birokrat; ilmuwan yang bersahabat; dan sosok mubalig yang sukses memimpin.

Prof. Ambo Asse juga, terutama oleh K.H. Mawardi Pewangi menilainya sebagai “Simbol kader visioner Muhammadiyah Sulsel”. Bukan hanya itu, bahkan Prof. Arifuddin Ahmad pun menilainya sebagai “sosok yang tegas dan berintegritas”. Seorang pemimpin yang mampu membumikan Al-Qur’an dan melakukan transformasi nilai. Ada banyak penilaian yang tidak bisa terungkap di sini, dan tentu saja penilaian ini layak untuk kita teladani, terus dilukiskan di publik agar bisa menjadi sumber inspirasi bagi orang lain.

Keteladanan Prof. Ambo Asse yang nyata dirasakan dan dialami oleh para koleganya,, apa lagi bagi istri dan anak-anaknya sangat bahagia dan bersyukur memiliki suami dan ayah seorang Prof. Ambo Asse. Menurut istrinya, Dra. Andi Marliah Bakri, M.Si, Prof. Ambo Asse itu karakternya sederhana dan sabar. Bahkan sering mengingatkan istrinya “Jangan pinjam pakaian, perhiasan, dan lain-lain. Pakailah apa yang dimiliki walaupun di sekeliling kita orang hidup penuh kemewahan. Dan makanlah apa yang mampu kita beli dari penghasilan saya, jangan pernah pinjam/kredit bahan makanan”. Istrinya pun mengungkapkan, bahwa Prof. Ambo Asse tidak malu pakai hp dan mobil tua. Urusan rumah, dapur, dan anak-anak pun ditanganinya, jauh dari pandangan bahwa itu adalah tugas dan kewajiban istri saja. Prof. Ambo Asse pun tidak melarang istrinya bekerja di luar.

Ada satu pesan yang sangat inspiratif dari Prof. Ambo Asse tentang pemimpin dan kepemimpinan yaitu “Dalam memimpin banyak orang, kita pasti berhadapan SDM dengan karakter yang berbeda-beda, maka berusahalah menyesuaikan diri dengan mereka. Bukan mereka yang harus menyesuaikan diri dengan pimpinan”. Dari mata air keteladanan dan telaga jiwa, pikiran, dan perasaan Prof. Ambo Asse yang luar biasa itu, ternyata di antara perjalanan episode kehidupan yang dilewatinya, menyisakan pula hal yang lucu.

Ketika itu, dirinya dibonceng oleh Dr. KH. Mawardi Pewangi. Mungkin di antara sahabat pembaca, ada yang mengetahui bagaimana badan Prof. Ambo Asse ketimbang KH. Mawardi. Ada yang besar, ada yang kecil. Keadaan itu dilihat oleh seorang polisi dari belakang, mengira bahwa Prof Ambo Asse sedang mengendarai motor dalam keadaan lepas tangan, karena pak polisinya tidak melihat KH. Mawardi yang sedang memboncengnya. Polisi mengikutinya dan meminta Prof. Ambo Asse untuk menepikan kendaraan. Setelah polisi sudah dekat, motor mereka sejajar, polisi baru menyadarinya bahwa Prof. Ambo sedang dibonceng, hanya saja tidak kelihatan sebelumnya. Polisi pun langsung membiarkan mereka berdua untuk melanjutkan perjalanan.

*Pemilik Pustaka “Cahaya Inspirasi”, Wakil Ketua MPI PD. Muhammadiyah Bantaeng, dan Pegiat Literasi Digital & Kebangsaan.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner UNISMUH MAKASSAR

Leave a Reply