Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

IMM FKIP Unismuh Makassar Gelar Dialog Publik, Tekankan Etika Gerakan dan Nalar Kritis Mahasiswa

×

IMM FKIP Unismuh Makassar Gelar Dialog Publik, Tekankan Etika Gerakan dan Nalar Kritis Mahasiswa

Share this article

KHITTAH.CO, Makassar — Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggelar dialog publik yang dirangkaikan dengan pembukaan kegiatan Madrasah Siyasah (MASSA) Jilid I. Kegiatan ini berlangsung di Aula Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, Jumat, 16 Januari 2026.

Dialog publik tersebut mengangkat tema “Siyasah sebagai Etika Gerakan: Merawat Nalar, Menguatkan Advokasi”. Tema ini diusung sebagai upaya membangun kesadaran politik mahasiswa yang berlandaskan etika, nalar kritis, serta keberpihakan pada kepentingan publik di tengah dinamika demokrasi dan arus informasi digital.

Ketua Umum PIKOM IMM FKIP Unismuh Makassar, Aidil Akbar Iskam, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada para narasumber yang telah meluangkan waktu untuk berbagi gagasan dalam forum tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada para narasumber yang telah hadir dan berbagi pengetahuan. Kehadiran mereka menjadi energi intelektual bagi kader IMM dalam merawat nalar kritis dan memperkuat kerja-kerja advokasi,” ujar Aidil.

Ia menegaskan bahwa dialog publik ini merupakan bagian dari komitmen PIKOM IMM FKIP Unismuh Makassar dalam membangun kader yang tidak hanya aktif secara organisatoris, tetapi juga matang secara ideologis dan intelektual.

Dialog ini menghadirkan dua narasumber di bidang politik dan kebijakan publik. Narasumber pertama, Dr. H. Syamsu Rizal MI, S.Sos., M.Si., anggota Komisi I DPR RI yang akrab disapa Daeng Ical, menekankan pentingnya sikap kritis mahasiswa dalam menyikapi derasnya arus informasi.

“Mahasiswa harus teliti terhadap informasi yang diperoleh agar tidak terjerumus pada berita yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan kebenaran,” tegas Daeng Ical.

Menurutnya, propaganda media kerap bekerja melalui framing dan kepentingan tertentu. Karena itu, mahasiswa dituntut tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu membaca, memilah, dan mengkritisi pesan yang disampaikan media.

Sementara itu, Kepala Bidang Hikmah, Politik, dan Kebijakan Publik DPD IMM Sulawesi Selatan menegaskan bahwa makna pergerakan mahasiswa tidak boleh dipahami secara sempit.

“Pergerakan mahasiswa bukan hanya turun ke jalan. Membaca buku dan mendistribusikan gagasan juga merupakan bagian dari gerakan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa gerakan mahasiswa yang kuat harus berangkat dari penguasaan ilmu pengetahuan. Tanpa basis intelektual, aksi dan advokasi berpotensi kehilangan arah dan substansi.

Dialog publik berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif peserta. Forum ini menjadi ruang pembentukan kesadaran politik kader IMM agar mampu menghadapi kompleksitas demokrasi serta hegemoni media secara kritis dan bertanggung jawab.

Kegiatan ini sekaligus menandai dimulainya rangkaian Madrasah Siyasah (MASSA) Jilid I sebagai sekolah politik kader yang diharapkan melahirkan mahasiswa yang kritis, beretika, dan konsisten dalam kerja-kerja advokasi sosial.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner UIAD

Leave a Reply