Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

HMP PAI Unismuh Makassar Gelar Bazar Dialog, Soroti Nasib Guru Honorer di Persimpangan Jalan

×

HMP PAI Unismuh Makassar Gelar Bazar Dialog, Soroti Nasib Guru Honorer di Persimpangan Jalan

Share this article

KHITTAH.CO, Makassar — Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HMP PAI) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggelar kegiatan Bazar Dialog bertajuk “Guru Honorer di Persimpangan Jalan”, di Cafe Bundu Makassar, Rabu malam, 4 Februari 2026.

Forum dialog ini menjadi ruang reflektif sekaligus kritis untuk membahas realitas, tantangan, dan masa depan guru honorer di Indonesia, khususnya dari sudut pandang kesejahteraan, profesionalitas, dan makna keberkahan profesi guru.

Hadir sebagai narasumber, Ketua PGRI Kota Makassar periode 2025–2030, Dr. Panjta Nur Wahidlin, M.Pd, serta Dosen Universitas Negeri Makassar, Dr. Alimin Alwi, S.Sos., M.Pd. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa PAI Unismuh Makassar dan kalangan pemerhati pendidikan.

Dalam paparannya, Dr. Panjta Nur Wahidlin menegaskan bahwa persoalan guru honorer tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang profesi guru sebagai pilar peradaban. Ia menyoroti ironi kesejahteraan guru honorer yang hingga kini masih banyak berada di bawah standar upah minimum, meskipun peran dan tanggung jawabnya sangat strategis.

“Jika orientasinya semata-mata kekayaan, maka profesi guru memang bukan jawabannya. Namun jika yang dicari adalah keberkahan, ketenteraman, dan makna hidup, maka guru adalah jalan yang mulia,” ujar Panjta.

Ia juga menekankan pentingnya membangun etos profesionalisme guru sejak dini, bahkan sebelum memperoleh sertifikasi pendidik. Menurutnya, guru yang benar-benar profesional akan selalu dibutuhkan dan dicari, terlepas dari status honorer atau aparatur negara.

Sementara itu, Dr. Alimin Alwi membagikan pengalamannya sebagai mantan guru tidak tetap (GTT) di daerah pedesaan dengan honor yang sangat minim. Ia menggambarkan kesenjangan nyata antara kondisi guru di desa dan di perkotaan, termasuk fenomena guru yang terpaksa berhenti mengajar karena tekanan ekonomi.

“Banyak guru di daerah mengabdi bertahun-tahun dengan honor yang tidak layak, bahkan sebelum lulus sarjana. Namun tetap bertahan karena panggilan moral dan sosial,” kata Alimin.

Menurutnya, di tengah keterbatasan kesejahteraan, peningkatan kompetensi guru menjadi kunci penting agar guru tetap memiliki posisi tawar, baik secara akademik maupun sosial. Ia menegaskan bahwa kualitas guru tidak semata ditentukan oleh sertifikat, tetapi oleh kapasitas pedagogik, penguasaan materi, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan.

Ketua HMP PAI Unismuh Makassar, Nur Sidrah Sariadi, dalam komentarnya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kegelisahan akademik mahasiswa PAI terhadap masa depan profesi guru, khususnya guru agama Islam.

“Data dan realitas yang kami temukan menunjukkan bahwa banyak calon guru mengalami dilema antara idealisme pengabdian dan tuntutan kesejahteraan hidup. Melalui forum ini, kami ingin menghadirkan ruang dialog yang jujur, kritis, sekaligus reflektif,” ujar Nur Sidrah.

Ia berharap diskusi ini mampu menumbuhkan kesadaran mahasiswa PAI bahwa menjadi guru bukan hanya soal profesi, tetapi juga soal komitmen intelektual, moral, dan spiritual.

Kegiatan Bazar Dialog ini ditutup dengan diskusi interaktif antara peserta dan narasumber, menegaskan kembali bahwa persoalan guru honorer bukan sekadar isu ekonomi, melainkan juga persoalan kebijakan, keadilan sosial, dan masa depan pendidikan nasional.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner PMB UNIMEN

Leave a Reply