Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Unismuh Makassar Konsolidasikan Penguatan AIK Menuju Kampus Unggul Berkarakter

×

Unismuh Makassar Konsolidasikan Penguatan AIK Menuju Kampus Unggul Berkarakter

Share this article

Khittah.co, Makassar  — Usai prosesi Wisuda ke-87 Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, suasana akademik kampus belum usai. Di Ruang Rapat Wakil Rektor, Gedung Iqra lantai 16, pada Senin, 16 Februari 2026, Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag., dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, memberikan kuliah tamu yang mengupas arah penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di perguruan tinggi Muhammadiyah. Kegiatan diawali dengan pengantar oleh Wakil Rektor IV Unismuh Dr Mawardi Pewangi.

Di hadapan pimpinan universitas, dosen AIK, serta pengelola Ma’had dan pesantren kampus, Prof. Sutrisno menekankan bahwa AIK tidak boleh berhenti sebagai mata kuliah formal, melainkan harus menjadi “living values” yang menjiwai seluruh sistem pendidikan.

“AIK itu bukan sekadar pengajaran, tetapi pendidikan. Bukan hanya untuk mahasiswa, tetapi juga untuk pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan,” ujarnya.

Dari Pengajaran ke Pendidikan

Dalam paparannya, Prof. Sutrisno mengkritisi praktik pendidikan tinggi yang sering kali berhenti pada aspek kognitif. Menurut dia, banyak dosen yang mengajar agama atau AIK hanya sebatas transfer materi, tanpa proses pendalaman makna (tadabbur) yang melahirkan transformasi karakter.

Ia mencontohkan pentingnya membiasakan tradisi memahami Al-Qur’an secara bertahap dan konsisten. Transformasi, katanya, lahir dari proses yang rutin dan berkelanjutan, bukan dari seremoni sesaat.

“Kalau setiap hari dua ayat saja dipahami, dalam beberapa tahun akan terasa perubahannya. Tapi kalau hanya membaca tanpa mentadabburi, sulit terjadi perubahan,” tuturnya.

Prof. Sutrisno juga mengingatkan bahwa keunggulan perguruan tinggi Muhammadiyah harus bertumpu pada identitas ideologis yang kuat. Core values kampus, menurutnya, harus diturunkan ke dalam kurikulum, capaian pembelajaran lulusan (CPL), hingga evaluasi akademik.

Integrasi Ilmu dan Keislaman

Salah satu diskusi penting dalam kuliah tamu tersebut adalah integrasi ilmu pengetahuan dan nilai Islam. Prof. Sutrisno mengakui bahwa tantangan terbesar pendidikan tinggi Islam hari ini adalah menjembatani sains modern dengan nilai-nilai Qur’ani.

Ia menyoroti kecenderungan pendidikan yang masih memisahkan ilmu umum dan agama secara kaku. Akibatnya, mahasiswa kerap mengalami kebingungan epistemologis ketika menerima teori sains yang tidak dikontekstualisasikan dengan perspektif keislaman.

“Integrasi itu bukan sekadar menempelkan ayat pada teori. Integrasi berarti memberi ruh Qur’an dan Sunnah pada seluruh proses keilmuan,” tegasnya.

Ia mendorong agar dosen AIK memiliki kompetensi akademik yang kuat dan konsisten dalam riset serta publikasi, sehingga AIK tidak dipandang sebagai pelengkap administratif, tetapi sebagai fondasi intelektual kampus.

Penguatan Sistem dan Standar Mutu

Prof. Sutrisno juga menyinggung pentingnya standar mutu AIK yang telah dirumuskan Majelis Diktilitbang. Standar tersebut mencakup pembinaan bagi pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan, serta penguatan program seperti Darul Arqam, Baitul Arqam, dan pembinaan ideologi Muhammadiyah.

Ia menilai, Unismuh Makassar telah menunjukkan dinamika positif melalui program Ma’had, pesantren mahasiswa, dan integrasi kegiatan masjid kampus. Namun, ia mengingatkan agar seluruh program tetap terhubung dengan pedoman dan sistem persyarikatan.

“Kalau semua berjalan dalam satu sistem dan terhubung, maka hasilnya akan kuat. Tapi kalau berjalan sendiri-sendiri, sulit membangun sinergi,” katanya.

Menjawab Tantangan Zaman

Dalam sesi dialog, sejumlah dosen mengangkat isu pengembangan Ekonomi Islam, sertifikasi dosen AIK, hingga peluang jabatan akademik khusus AIK. Prof. Sutrisno menekankan pentingnya konsistensi dalam membangun keunggulan akademik, termasuk memperkuat kompetensi dosen melalui riset yang relevan dan terarah.

Ia menegaskan bahwa ke depan, perguruan tinggi Muhammadiyah harus mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara profesional, tetapi juga matang secara spiritual dan ideologis.

“Keunggulan itu lahir dari sistem yang kuat dan komitmen yang berkelanjutan,” ujarnya.

Kuliah tamu tersebut menjadi penutup rangkaian kegiatan hari itu, setelah sebelumnya Unismuh Makassar mengukuhkan 692 wisudawan dalam Wisuda ke-87. Momentum ini sekaligus menjadi refleksi bahwa penguatan akademik dan penguatan ideologi harus berjalan beriringan dalam membangun universitas yang unggul dan berkarakter.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply