Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
LiterasiOpini

Menemukan Magnet Rezeki di BAZNAS Bantaeng

×

Menemukan Magnet Rezeki di BAZNAS Bantaeng

Share this article

Oleh: Agusliadi Massere (Pimpinan BAZNAS Kab. Bantaeng 2025-2030)

KHITTAH. CO – BAZNAS Bantaeng sebagai sumber rezeki khususnya bagi para mustahik (penerima program bantuan) sebagaimana yang tergambar dalam delapan asnaf zakat dan lima bidang program infaq sudah dipahami secara luas oleh masyarakat sampai ke pelosok desa. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya permohonan yang masuk di meja bagian administrasi untuk setiap harinya, yang jumlahnya tidak kurang dari lima permohonan. Namun, BAZNAS Bantaeng sebagai tempat menemukan “Magnet rezeki” masih kurang dipahami, sebab selain ASN masih sedikit masyarakat dan pengusaha yang menjadi muzaki dan munfiq untuk mendatangi BAZNAS Bantaeng dalam rangka menyalurkan zakat, infaq, dan sedekahnya.

Sebelum lanjut, saya ingin bertanya kepada para sahabat “Ingin mendapat rezekinya yang mungkin terbatas atau “Magnet rezeki”-nya yang bisa mendatangkan rezeki yang lebih?”

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang dikenal dan diakui oleh negara sebagai lembaga pemerintah nonstruktural yang diberi wewenang untuk mengelola zakat, infaq, dan sedekah (ZIS) serta dana sosial keagamaan lainnya (DSKL), masih dikenal dan dipahami dengan baik oleh orang-orang yang akan berposisi sebagai mustahik. Bahkan yang idealnya sebagai muzaki dan munfiq pun ada yang datang ke BAZNAS Bantaeng bukan untuk mempertegas dirinya ini, tetapi cenderung berharap dan memosisikan dirinya sebagai mustahik.

Bagi mustahik dan/atau penerima manfaat dari program dan kegiatan distribusi/penyaluran dan pendayagunaan zakat, BAZNAS Kabupaten Bantaeng pun sudah dipastikan sebagai sumber rezeki, itu pun dalam pengertian sempit. Rezeki hanya dimaknai sebatas uang atau yang telah terkonversi dalam berbagai bentuk program bantuan.

Tulisan ini pun  tidak diulas untuk mengungkapkan perspektif yang sempit dan terbatas seperti di atas. Beyond, melampaui dari itu pembaca akan dibawa ke dalam pengertian dan makna yang lebih luas dan mendalam.  Kita ingin memahami dan menyadari ternyata BAZNAS Kabupaten Bantaeng bisa menjadi tempat untuk menemukan “Magnet rezeki”, di mana itu melampaui jauh dari sekadar sumber rezeki.

BAZNAS Kabupaten Bantaeng sebagai tempat menemukan magnet rezeki dipastikan belum mampu dipahami oleh masyarakat pada umumnya. Hanya segelintir orang yang bisa memahami dan menyakini pandangan dan kesimpulan tersebut. Dan, untuk memahami dan menyadari BAZNAS Kabupaten Bantaeng sebagai tempat menemukan magnet rezeki, itu membutuhkan  konsep diri yang matang, pemungsian otak kanan secara baik dan maksimal, menyadari mekanisme kerja alam bawah sadar, afirmasi positif, hukum tarik menarik, serta LoA dan LoSA pun harus dipahami, tanpa kecuali kedahsyatan bersyukur dan penerjemahan operasionalnya dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Sebelum diulas lebih mendalam terkati BAZNAS Kabupaten Bantaeng sebagai tempat menemukan “Magnet rezeki”, terlebih dahulu, kita pun harus memahami bahwa makna dan pengertian rezeki bukan hanya dalam bentuk uang semata. Rezeki dalam makna dan pengertian yang luas bisa pula dalam bentuk kesehatan, rumah tangga yang harmonis, waktu luang, ketenangan jiwa, harta yang terjaga dan terus tumbuh/bertambah, anak saleh/saleha, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Banyak orang yang mengejar, mencari, dan menjemput rezeki tetapi dalam pengertian yang sempit, uang, dan sesuatu yang bersifat material semata. Terkait ini pun dalam kehidupan masih banyak yang memilih jalan rezekinya atau sebagai magnet rezeki bersumber dari atau dengan sesuatu yang tidak diridai Allah Swt. Tidak sedikit yang menggunakan ritual yang bertentangan dengan syariah dan bersekutu dengan makhluk gaib yang terkesan menyekutukan Allah Swt.

Dari lubuk hati yang paling dalam dari setiap diri dipastikan mengharapkan rezeki yang melimpah terutama yang dalam bentuk uang. Ada pula yang membangun afirmasi positif setiap hari hanya untuk mendatangkan rezeki yang melimpah. Hanya saja, masih banyak yang merasa buntu ketika ditegaskan bahwa di BAZNAS Bantaeng itu ada magnet rezeki yang bisa digunakan untuk menarik rezeki yang melimpah, bentuknya bukan hanya berupa uang.

Apa yang dimaknai sebagai magnet rezeki yang ada di BAZNAS Bantaeng dan BAZNAS di daerah lain, yang tentu saja sebagai magnet akan mampu menarik banyak rezeki. Jawabannya singkat, yaitu berzakat, berinfaq, dan bersedekah di BAZNAS Bantaeng akan menjadi sebagai magnet rezeki.

Mengapa berzakat, berinfaq, dan bersedekah di BAZNAS Kabupaten Bantaeng dipandang atau dinilai akan menjadi magnet rezeki. Ini bisa dipahami ketika kita tidak menggunakan rasionalitas dan logika duniawi semata. Membutuhkan basis pemahaman dan kesadaran yang lebih luas dan mendalam. Kita pun harus memahami dan menyadari bahwa tidak ada satu pun perintah Allah yang tidak memberikan banyak manfaat bagi yang melaksanakannya. Apalagi sebagaimana yang saya pahami dan rasakan selama ini ada integrasi, interkoneksi, dan sinergi antara perintah Allah, potensi dan mekanisme diri, dan potensi dan hukum alam, serta memengaruhi hasil relasi-interkonektif yang terbentuk.

Iman; pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan hadis tentang zakat, infaq, dan sedekah; fungsi dan mekanisme kerja alam bawah sadar; law of attraction (LoA) dan law of spiritual attraction (LoSA); dan gelombang elektromagnetik yang bersumber dari pikiran dan perasaan yang beroperasi pula dalam medan quantum adalah basis pemahaman dan kesadaran yang akan membawa kita pada kesimpulan bahwa benar berzakat, berinfaq, dan bersedekah itu bisa menjadi magnet rezeki.

Ketika seseorang setiap hari membangun afirmasi positif dengan harapan pada hari itu rezekinya lancar dan melimpah, sesungguhnya itu adalah ikhtiar psikologis yang memanfaatkan mekanisme yang bekerja di alam bawah sadar, LoA, LoSA, dan gelombang elektromagnetik yang ada dalam dirinya. Apalagi bagi umat Islam yang memiliki “mekanisme” iman dan didukung oleh ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis ini akan memperkuat data di alam bawah sadar yang akan memengaruhi algoritma diri dan alam semesta agar rezeki yang didambakan itu bergerak ke arah dirinya.

Iman dan pemahaman plus kesadaran akan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis tentang zakat, infaq, dan sedekah ,itu dipastikan akan tersimpan di alam bawah sadar untuk selanjutnya memengaruhi dan memperkuat afirmasi positif. Jika pada umumnya seseorang membangun afirmasi positif atau kata-kata positif tentang yang menjadi harapannya hanya terfokus pada dimensi psikologis semata, maka dalam konteks berzakat, berinfaq, dan bersedekah itu lebih kuat afirmasi positifnya karena dibarengi keimanan dan firman Allah sebagai pemilik, pengatur, dan penentu segala sesuatu di alam semesta, tanpa kecuali tentang urusan rezeki manusia. Artinya afirmasi positif yang dibangun oleh orang berzakat, berinfaq, dan bersedekah itu menghadirkan Allah Swt sebagai penentu segalanya.

Berzakat, berinfaq, dan bersedekah ini bukan sekadar aktivitas memberi dari seseorang ke orang lain. Ini adalah bagian dari pada memancarkan gelombang frekuensi kebaikan, kelimpahan, kepedulian, kasih sayang, ketulusan, dan keikhlasan. Dalam hukum tarik menarik, baik LoA maupun dalam pengertian LoSA, maka dipastikan bahwa suatu frekuensi yang dipancarkan seseorang akan menarik frekuensi yang sama. Ketika zakat dan infaq itu diyakini bukan hanya membuat seseorang akan menjadi miskin justru sebaliknya harta dan rezekinya semakin bertambah, maka ini adalah janji yang tak terbantahkan dan terjamin, apalagi penegasannya dari Allah Swt.

Seseorang yang berzakat, berinfaq, dan bersedekah maka dipastikan di alam bawah sadar, dari pikiran, dan perasaannya terbangun satu data (baca: afirmasi positif) yang akan memengaruhi proses algoritmik diri dan selanjutnya memengaruhi pancaran frekuensi ke alam semesta untuk menarik frekuensi yang sama. Satu data yang dimaksud adalah bahwa diri merasa berkelimpahan atau minimal dirinya merasa berkecukupan. Perasaan ini tentu saja merefleksikan rasa syukur, padahal Allah berjanji bahwa siapa yang bersyukur, maka dipastikan akan ditambah rezekinya.

Rasa syukur dalam perspektif gelombang elektromagnetik manusia yang bekerja dan terkoneksi tanpa batas di medan quantum itu adalah modal utama yang akan memengaruhi realitas yang akan terjadi. Gelombang elektromagnetik ini diketahui adalah sebagai hasil paduan antara sinyal elektro (listrik) dari pikiran dan daya magnetis dari perasaan. Sebaik dan sepositif apa pun pikiran termasuk dalam hal rezeki tetapi belum selaras dengan perasaan, maka gelombang elektromagnetik ini belum mampu memengaruhi realitas termasuk dalam urusan rezeki.

Ketika kita berpikir tentang rezeki yang baik dan lancar, tetapi dalam perasaan kita masih ada perasaan penuh kekurangan maka kedahsyatan pikiran akan lumpuh untuk memberikan efek positif dalam diri. Tetapi, ketika kita bersyukur (minimal dalam makna senantiasa merasa berlebihan dan berkecukupan rezeki) yang dibuktikan dengan berzakat, berinfaq, dan bersedekah maka itu berarti pancaran perasaan kita akan selaras dan mengalami mekanisme paduan yang dahsyat dengan pikiran untuk menjadi satu gelombang elektromagnetik dahsyat yang bisa memengaruhi realitas kehidupan tanpa kecuali dalam urusan rezeki.

Kesehatan, ketenangan jiwa, rumah tangga harmonis, kehidupan sosial yang damai, sejahtera, dan tentram, ini juga di antaranya yang dimaknai sebagai rezeki. Ini pun ternyata bisa terwujud melalui zakat, infaq, dan sedekah jika kita memahami ayat-ayat dan/atau dalil-dalilnya. Tanpa kecuali jika kita melihatnya dalam perspektif alam bawah sadar, pikiran, perasaan, LoA, dan LoSA.

Zakat, infaq, dan sedekah tak terbantahkan lagi itu bisa menjadi magnet rezeki. Agar magnet rezekinya bisa lebih dahsyat maka zakat, infaq, dan sedekah itu disalurkan melalui BAZNAS Bantaeng sebagai lembaga yang diakui, memiliki ororitas, dan daya jangkauan penyalurannya memiliki radius yang cukup luas sehingga gelombang kebaikan, kepedulian, ketulusan, keikhlasan, kelimpahan, rasa syukur, dan bahagia semakin luas, dan ini pun semakin memiliki daya tarik frekuensi yang kuat untuk membawa kita semua ke dalam gelombang positif, produktif, dan konstruktif, dan memberikan manfaat sebagai kristalisasi spirit kerahmatan yang menjangkau ke seluruh pelosok wilayah Kabupaten Bantaeng.

Saya yakin, menilai, dan membaca sendiri tulisan ini kembali, ditemukan masih mengulas kulitnya saja. Jika pun ada yang menyentuh kedalaman, tetapi belum terlalu mendalam.

 

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner UNISMUH MAKASSAR

Leave a Reply