Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
LiterasiOpini

Zakat Membangun Kohesivitas Sosial

×

Zakat Membangun Kohesivitas Sosial

Share this article

Oleh: Agusliadi Massere (Pimpinan BAZNAS Kab. Bantaeng 2025-2030)

KHITTAH. CO – Belajar dari sejarah Nusantara dan/atau Indonesia, kita akan sampai—salah satunya—pada pemahaman dan kesadaran betapa pentingnya kohesivitas sosial. Nusantara dan/atau Indonesia pernah mengalami kondisi di mana penjajahan langgen menikmati wilayah jajahannya karena masyarakat sampai penguasa lokal pada saat itu masih mudah diadu domba. Pada sisi lain, kita pun akhirnya sadar bahwa kesadaran nasional yang terkristalisasi dengan kebangkitan nasional melalui dua momentum bersejarah kolosal yang berhasil mengantarkan sampai pada pintu gerbang kemerdekaan.

Indonesia sesungguhnya adalah bangsa dan negara yang besar, terutama dilihat dari perspektif geografi dan demografinya. Indonesia sebagai bangsa dan negara yang besar sejak awal kemerdekaanya telah dirumuskan tujuan dan cita-cita yang amat mulia. Bahkan, untuk menopang tujuan dan cita-cita mulia nan besar itu, telah dirumuskan dasar negara, falsafah, dan pandangan hidup (baca: Pancasila) yang sebenarnya bisa menjadi modal besar dan utama.

Apalagi hari ini, Indonesia pun kembali mengusung satu impian besar yaitu Indonesia Emas 2045, yang dalam perspektif saya bukan sekadar sebagai capaian rentang waktu seratus tahun kemerdekaan Indonesia, tetapi identik dengan kemajuan-kemajuan yang akan melintasi abad kedua kemerdekaannya yang bukan sekadar parade. Kembali belajar dari sejarah dan mengamati realitas hari ini, kesimpulannya masih sama yaitu kohesivitas sosial sangat penting.

Modal sejarah, konstitusi, falsafah hidup, pandangan dunia, dan dasar negara sebenarnya telah tersedia dalam jati diri Indonesia yang akan memperkuat kohesivitas sosial tersebut. Meskipun, realitas sosial masih sering menggambarkan hal paradoks yang bahkan menyeret kondisi psikologis ke dalam jurang kekhawatiran akan nasib bangsa dan negara Indonesia yang besar ini. Kita seharusnya membutuhkan instrumen lain untuk memperkuat agar kohesivitas sosial bisa terbangun kokoh yang akan akan menopang stabilitas dan kemajuan Indonesia.

Ketika agama diyakini memiliki mekanisme institusionalisasi sebagaimana pandangan yang ditegaskan oleh Ahmad Norma Permata dan ini nyata dalam peradaban dunia, khususnya dunia Islam. Begitu pun ketika ibadah yang melekat dalam suatu agama diyakini membentuk akhlak dan/atau karakter, maka saya menemukan satu instrumen dalam agama Islam, tepatnya ada di antara rukun Islam yang bisa menjadi jalan untuk membangun kohesivitas sosial yang kukuh.

Zakat adalah instrumennya. Zakat sebagai bagian dari ajaran agama Islam bahkan sebagai ibadah yang berkarakter muamalah tentu saja di dalamnya pun memiliki mekanisme institusiaonalisasi dan penunaiannya akan bermuara pada pembentukan karakter atau akhlak yang akan menopang terbangunnya kohesivitas sosial.

Ketika kohesivitas sosial dimaknai sebagai bukan sekadar kebersamaan fisik, tetapi keterikatan emosional, moral, dan struktural yang membuat masyarakat mampu hidup harmonis dalam keberagaman, maka melalui zakat hal tersebut bisa diwujudkan. Zakat apalagi yang dipandang berkualitas tinggi yang indikatornya bukan hanya pada persentase tetapi dorongan psikologis-spiritualitas, tentu saja memiliki potensi bahkan kristalisasi terhadap keterkaitan emosional. Zakat tidak bisa tidak diawali rasa kasih-sayang, empati, dan secara psikologis harus mampu menghadirkan diri dalam suasana, kondisi, dan perasaan yang dirasakan oleh saudara muslim yang lemah dan dilemahkan.

Moral dan keterikatan struktural pun ada dalam zakat. Sebab, zakat akan melewati mekanisme psikologis tentang pengendalian diri dari individualistik yang sangat menggoda dalam kehidupan modern di tengah-tengah kehidupan kapitalisme liberal hari ini. Minimal ini. Zakat pun tentu saja secara psikologis akan sampai pada pemahaman dan kesadaran akan keterikatan struktural karena kelahirannya (baca: penunaian zakat) itu juga berangkat dari pemahaman dan kesadaran bahwa di balik harta yang dimiliki ada hak orang lain. Minimal itu.

Arvan pradiansyah pernah mengungkapkan satu konsep dalam buku karyanya yang pada dasarnya menegaskan tiga relasi penting dalam kehidupan, di mana ini bagian dari The 7 Laws of Happiness yang dirumuskannya, tetapi saya pun menilainya ini adalah hukum dan menjadi kunci penting untuk membangun kohesivitas sosial. Tiga relasi yang dimaksud: Pertama, Intrapersonal relation, secara sederhana ini adalah upaya untuk senantiasa berselancar ke dalam diri untuk mengenal diri lebih dekat dan memahami segala potensi dan kekurangannya; Kedua, interpersonal relation, upaya untuk membangun relasi dengan orang lain secara baik dan benar, di mana ini merekomendasikan satu saran mulia untuk tidak berada dalam posisi dependen yang kaku tanpa karakter dan prinsip, serta independen yang kaku; dan ketiga, God relation, relasi yang baik dan benar dengan Allah tentu saja melalui ibadah atau ritual-ritual yang diridainya.

Tiga relasi di atas, dalam perenungan saya yang bermuara pada pemahaman dan kesadaran, ternyata itu ada dalam kewajiban berzakat. Kita bisa menunaikan zakat, jika kita telah melewati dan menyadari dengan baik tiga relasi tersebut sekaligus atau satu paket. Tidak bisa satu jenis relasi saja. Bahkan kualitas zakat dalam pandanga saya sangat dipengaruhi oleh tingkat pemahaman dan kesadaran terhadap tiga relasi tersebut.

Intrapersonal relation dalam berzakat dimaknai bahwa diri kita agar bisa menjalani kehidupan secara benar dan baik, baik di dunia maupun di akhirat, maka salah satunya harta yang kita nikmati dan miliki harus bersih dan begitu pun jiwa kita harus selalu suci. Ternyata untuk kebersihan harta dan kesucian jiwa, itu ada dalam penunaian zakat.

Interpersonal relation dalam berzakat dimaknai bahwa—ini minimal—kita sebagai manusia bukan hanya sebagai makhluk individual, tetapi juga sebagai makhluk sosial. Selain itu dalam kehidupan sosial dan berdasarkan sistem sosial, setiap dinamika dan begitu pun kondisi kehidupan efeknya—meskipun besar kecilnya sangat relatif—berpotensi dirasakan bersama. Contoh ketika ketidakadilan ekonomi tidak mampu terwujud maka persatuan Indonesia, keutuhan dan stabilitas kehidupan sosial sulit tercapai. Zakat yang di dalamnya melekat nilai dan makna untuk mewujudkan keadilan ekonomi, maka tentu saja ini akan bermuara pada kohesivitas sosial.

God relation. Zakat merupakan ibadah mulia di sisi Allah, tentu saja Allah pun sangat meridai dan memberkahi kewajiban berzakat dan menjadi pintu atau jalan turunnya rahmat Allah Swt. Zakat sebagai bagian God relation tentu saja akan melembutkan tindakan dan perkataan sebagai efek psikologis dari ketenangan jiwa, yang ini pun merupakan modal utama dalam membangun kohesivitas sosial.

Ada dua relasi yang secara nilai dan makna mengalami operasionlisasi dalam dimensi psikologis dan kehidupan sosial dan ini pun merupakan modal utama dalam membangun kohesivitas sosial, dan ternyata semua ini adala dalam nilai, makna, mekanisme psikologis-spritual, dan ruang sosial dari zakat. Apa itu?

Intrapersonal relation secara psikologis bisa dikristalisasi melalui sabar, syukur, sederhana. Sebelum berzakat dipastikan sikap sabar harus terlebih dahulu hadir dalam diri minimal untuk menunda keinginan besar untuk hidup mewah yang invidualistik sebagai hasrat untuk ingin mendapatkan kekuasaan dan penghargaan lebih dalam kehidupan. Jadi orang yang berzakat itu dipastikan adalah orang-orang yang memiliki atau dalam dirinya sudah terbentuk karakter sabar. Sabar pun diketahui sebagai modal penting dalam membangun kohesivitas sosial.

Syukur sebagai satu mekanisme psikologis atau sebagai bagian dari sikap, itu pun ada dalam kewajiban berzakat. Karena, zakat itu adalah kristalisasi dari rasa syukur atas deposit kenikmatan unlimited dari Allah. Orang yang memiliki rasa syukur sebagai basis salah satu karakter penting dalam relasi sosial mampu mengendalikan perilaku tamak atau serakah, di mana perilaku ini berpotensi merusak kohesivitas sosial.

Sikap sederhana pun dipastikan terbersit pun dalam kewajiban berzakat, sebab orang-orang yang di dalam dirinya tidak ada sikap sederhana atau kesederhanaan, maka harta melimpah yang dimilikinya cenderung terasa berat untuk dikeluarkan zakatnya meskipun hanya beberapa rupiah. Sikap sederhana atau bisa pula dimaknai sikap yang tidak ingin menonjolkan diri di balik kekurangan-kekurangan orang lain akan memantik orang-orang untuk membuka diri membangun relasi sosial. Oleh karena itu, ini pun diyakini menjadi modal penting membangun kohesivitas sosial.

Dalam interpersonal relation mekanisme psikologis dan sosialnya bisa terwujud dalam sikap menyayangi dan dalam bentuk tindakan nyata berupa memberi dan memaafkan. Ketiganya pun sejatinya ada dalam nilai, makna, dan mekanisme zakat. Kasih-sayang sudah pasti merupakan prasyarat mutlak, pertama, dan utama agar zakat bisa ditunaikan oleh umat Islam yang telah cukup hartanya. Sikap dan tindakan memberi atau senantiasa memberi, itu pun merupakan bentuk nyata dan lazim dalam kewajiban berzakat, bahkan inilah salah satu hakikatnya. Sebab, zakat itu bukan hanya teori dan/atau tidak hanya berhenti pada sikap menyayangi, tetapi harus terwujud dalam bentuk tindakan nyata, yaitu memberi. Kasih sayang dan memberi tidak terbantahkan itu adalah modal penting dan utama untuk membangun kohesivitas sosial.

Kasih sayang dan tindakan nyata dalam kebiasaan memberi sebagai basis dan wujud dalam berzakat dipastikan pula memantik mekanisme psikologis dan sosial dalam bentuk kebiasaan memaafkan. Apalagi antara individu yang satu dan yang lainnya sering membiasakan untuk saling memaafkan, maka bisa dipastikan kohesivitas sosial itu semakin kukuh. Kebiasaan memaafkan akan mudah tumbuh dan terpancar ketika cinta dan kebiasaan memberi sudah hadir dalam diri.

Jadi telah terang benderang bahwa zakat bisa menjadi instrument penting dalam membangun kohesivitas sosial yang bukan hanya dilihat dalam perspektif sosial dan struktural, tetapi berangkat dan bisa dirasakan dalam perspektif psikologis-spiritualitas.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner PMB UMSI

Leave a Reply