Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Prof Mustari Bosra Ingatkan Akidah Perlu Respons Rasional di Tengah Arus Saintisisme dan Ateisme Baru

×

Prof Mustari Bosra Ingatkan Akidah Perlu Respons Rasional di Tengah Arus Saintisisme dan Ateisme Baru

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah (PWM) Sulsel Prof Mustari Bosra menegaskan bahwa akidah Islam pada era kontemporer menghadapi tantangan yang bukan hanya bersifat teologis, melainkan juga filosofis dan praksis. Karena itu, respons yang diperlukan tidak cukup dengan penegasan dogma, tetapi juga membutuhkan cara pandang rasional, argumentatif, serta implementatif dalam kehidupan nyata.

Hal itu disampaikan Prof Mustari saat menjadi pemateri dalam rangkaian Pengajian Ramadan 1447 H PWM Sulsel, Sabtu, 28 Februari 2026.

“Tema sentral pengajian bulan Ramadan tahun ini adalah tauhid atau akidah dan implementasinya dalam kehidupan praksis. Saya tidak ahli di bidang ini,” kata Prof Mustari.

Dalam pengantar, Prof Mustari menempatkan akidah sebagai fondasi paling awal yang bekerja bukan hanya pada ranah pikir, tetapi juga pada niat dan tindakan. “Akhidat ini bukan hanya dasar berpikir, tapi dasar berniat, berucap, bersikap, dan bertindak,” ujarnya. Ia mengaitkan itu dengan pengertian iman yang mencakup pembenaran dalam hati, pengikraran, dan pembuktian dalam amal.

Prof Mustari kemudian menelusuri jejak historis lahirnya ilmu kalam dalam tradisi Islam. Menurut dia, perdebatan teologis pada masa awal berkelindan dengan konflik politik, terutama perebutan kekuasaan yang memicu saling tuding mengenai dosa besar dan status keislaman seseorang. Dari situ, lahir beragam kecenderungan seperti Khawarij dan Murji’ah serta perdebatan mengenai relasi kehendak Tuhan dan perbuatan manusia.

Baca juga: Prof Ambo Asse Tegaskan Tauhid Jadi Poros Gerakan dan Amal Usaha Muhammadiyah

Ia menjelaskan, perkembangan ilmu kalam semakin menguat ketika umat Islam bersentuhan dengan khazanah Yunani. “Saya mulai dari akhidat Islam dan interaksinya dengan filsafat Yunani,” katanya. Ia menyebut intensifikasi kajian terhadap ilmu peninggalan Yunani, dari Plato hingga Aristoteles, memengaruhi cara berpikir umat Islam, terutama logika dan kausalitas. Pola berpikir sebab-akibat yang berkembang itu ikut membentuk dinamika pemikiran tentang Tuhan dan sifat-sifat-Nya.

Dalam pembacaan sejarahnya, Prof Mustari menyinggung ironi peradaban ketika Eropa memasuki masa Renaissance, sementara dunia Islam mengalami kemunduran. Ia menilai, ilmu yang sempat berkembang di dunia Islam kemudian turut menjadi fondasi kebangkitan ilmu pengetahuan di Barat. Dari fase itu, muncul antropo-sentrisme serta arus rasionalisme modern yang melahirkan berbagai aliran filsafat dan ideologi. Baginya, perkembangan pemikiran Barat pasca-Renaissance menjadi salah satu sumber isu kontemporer yang menantang akidah.

Salah satu isu yang ia soroti adalah saintisisme yang memutlakkan kebenaran hasil observasi ilmiah serta menafikan dimensi metafisik dan etika. “Filsafat saintisisme menganggap bahwa kebenaran itu sesungguhnya tidak ada kebenaran yang hakiki, tidak ada kebenaran yang mutlak. Satu-satunya kebenaran adalah kebenaran yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Dari situ, ia menyinggung kemunculan “new atheism” atau ateisme baru yang, menurut dia, tampil lebih agresif dibanding ateisme pada fase sebelumnya. Prof Mustari mengaitkan sebagian akar ideologinya dengan perubahan sosial-ekonomi modern, ketika manusia ditempatkan sebagai pusat pengatur kehidupan dan Tuhan dipinggirkan dari ruang publik. “Belakangan kemudian secara agresif melakukan kampanye-kampanye… dan meniadakan peranan agama, kemudian dicaplah sebagai new ateisme,” katanya.

Isu lain yang ia angkat adalah krisis makna spiritual yang menyertai sekularisasi di Barat. Ketika agama dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, manusia, menurut dia, berhadapan dengan kekosongan batin, kehilangan makna, lalu mencari pengganti melalui pelarian-pelarian gaya hidup yang sering tidak menyelesaikan masalah. “Menimbulkanlah kekosongan-kekosongan batin. Manusia kehilangan makna hidup,” ujarnya.

Prof Mustari menilai, respons atas situasi itu melahirkan berbagai corak teologi praksis. Ia mencontohkan teologi pembebasan yang menekankan iman sebagai keberpihakan pada kaum tertindas, serta teologi sosial yang menegaskan tanggung jawab sosial sebagai konsekuensi keberagamaan. Dalam konteks Muhammadiyah, ia menyebut penguatan teologi Al-Ma’un sebagai wujud bahwa iman harus menampakkan diri dalam kepedulian sosial.

“Keimanan yang sejati harusnya diwujudkan dalam kepedulian sosial,” ujarnya, seraya mengingatkan penekanan KH Ahmad Dahlan pada spirit Al-Ma’un tentang keberpihakan pada yatim dan miskin serta kewajiban mendorong solidaritas.

Pada bagian penutup, Prof Mustari menautkan akidah dengan kerangka Risalah Islam Berkemajuan. Ia menilai akidah Islam seharusnya mendorong umat menjadi dinamis, progresif, rasional, dan berorientasi amal praksis untuk mewujudkan kehidupan yang baik. “Sejatinya akidah Islam itu adalah akidah yang mendorong kemajuan dan yang membawa Islam menjadi rahmatan lil’alamin,” katanya.

Karena itu, ia menekankan agenda kemajuan tidak dapat dilepaskan dari penguasaan ilmu pengetahuan dan penguatan basis ekonomi umat. Prof Mustari mengutip pesan almarhum Dawam Rahardjo bahwa penguasaan ekonomi memengaruhi banyak sektor kehidupan. “Siapa yang menguasai ekonomi maka… bisa mengendalikan semua sektor kehidupan manusia,” ujarnya.

Bagi Prof Mustari, penguatan akidah di Muhammadiyah bukan sekadar menjaga batas teologis, melainkan juga menyiapkan umat menghadapi perubahan zaman dengan fondasi iman yang kokoh, nalar yang jernih, dan amal sosial yang nyata. “Akhidah Islam dan kaitannya dengan Islam berkemajuan” itulah, menurut dia, yang menjadi kerja bersama agar Islam hadir sebagai rahmat, terutama bagi umat Islam sendiri, sekaligus bagi kemanusiaan yang lebih luas.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply