KHITTAH.CO, MAKASSAR — Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan Dr. Dahlan Lamabawa menegaskan bahwa tauhid adalah inti ajaran Islam sekaligus fondasi peradaban, bukan semata doktrin teologis. Tauhid, kata dia, bekerja sebagai energi kehidupan spiritual dan sosial yang membentuk cara pandang, etos, hingga keberanian moral dalam memperjuangkan keadilan.
Hal itu disampaikan Dahlan dalam sesi bertema “Gagasan dan Spirit Tauhid Tokoh-tokoh Muhammadiyah” pada rangkaian Pengajian Ramadan PWM Sulsel di Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara, Makassar, Sabtu, 28 Desember 2026.
“Karena bicara gagasan biasanya terasa berat, saya selingi dengan cerita tanpa menghilangkan substansinya,” ujar Dahlan di hadapan peserta pengajian, termasuk unsur pimpinan wilayah, pimpinan daerah, organisasi otonom, serta panitia.
Perspektif Tauhid Tiga Tokoh Nasional Muhammadiyah
Dahlan mengurai dimensi tauhid dalam pemikiran tiga tokoh nasional Muhammadiyah: Amien Rais, Ahmad Syafii Maarif, dan Haedar Nashir. Ia menyebut ketiganya mempunyai corak yang berbeda, tetapi bertemu pada satu titik: tauhid melahirkan keberanian moral, kerja intelektual, dan transformasi peradaban.
Pertama, Amien Rais. Dahlan menempatkan Amien sebagai figur yang memaknai tauhid sebagai worldview Islam berkemajuan: Allah menjadi pusat orientasi hidup yang membebaskan manusia dari ketergantungan pada kekuasaan, ideologi, maupun sistem yang menindas. Dari keyakinan tauhid itulah, kata Dahlan, Amien menunjukkan keberanian menghadapi tirani Orde Baru dan memimpin gerakan reformasi dengan kritik tajam terhadap korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Ia juga membagikan pengalaman ketika bertugas di DPP IMM, mendengar langsung kisah-kisah reformasi dan dinamika politik dari Amien Rais. Bagi Dahlan, cerita itu memperlihatkan bagaimana tauhid yang utuh dapat menjadi energi perubahan sosial.
Baca juga: Pengajian Ramadan, Sekretaris PWM Sulsel Bahas Tauhid dari Purifikasi hingga Etika Kebangsaan
Kedua, Ahmad Syafii Maarif. Tokoh itu, menurut Dahlan, menunjukkan tauhid sebagai etos intelektual dan kekuatan pembebasan bagi akal. Tauhid menolak segala bentuk substitusi selain Allah, termasuk kultus individu. Dahlan mencontohkan inisiatif Buya Syafii membangun ruang-ruang kajian yang kemudian melahirkan tradisi intelektual progresif di kalangan muda Muhammadiyah, termasuk melalui lembaga kajian yang berkembang menjadi Maarif Institute.
“Buya Syafii dikenal tegas, lugas, dan tidak takut menyampaikan pendapat. Ia memandang Muhammadiyah sebagai ‘tenda besar’ bagi bangsa,” kata Dahlan.
Ketiga, Haedar Nashir. Dalam paparan Dahlan, Haidar menampilkan tauhid sebagai transformasi peradaban, yaitu integrasi iman, ilmu, dan amal yang bermuara pada agenda keadilan sosial. Dahlan menyebut Haidar sebagai salah satu ideolog Muhammadiyah yang menekankan teologisasi kehidupan sosial: tauhid harus hadir dalam bangunan peradaban, bukan berhenti dalam ritualitas.
Dahlan juga menyinggung dinamika kebangsaan dan keputusan-keputusan organisasi terkait diaspora kader, yang menurutnya menggambarkan bagaimana tauhid memandu posisi Muhammadiyah agar tetap stabil, kritis, sekaligus menjaga jarak dari tarikan politik praktis.
Pelajaran Tauhid dari Dua Tokoh Lokal
Selain tokoh nasional, Dahlan menambahkan dua tokoh lokal yang ia sebut “keilmuannya menasional, tetapi berkiprah di Makassar”, yakni KH Jamaluddin Amin dan KH Baharuddin Pagim.
Tentang KH Jamaluddin Amin, Dahlan memaparkan pengalaman personal saat diajak melihat lahan yang kemudian menjadi dasar pengembangan pendidikan dan pesantren. Ia menekankan cara berpikir sang kiai yang bertumpu pada keyakinan tauhid: kerja-kerja pembebasan bagi yatim dan dhuafa dijalankan dengan keyakinan penuh pada pertolongan Allah dan keberkahan amal.
Dahlan mencontohkan kebiasaan sang kiai membawa bekal makanan dari rumah untuk santri, serta komitmen memberi makan dan menyekolahkan anak yatim-dhuafa sebagai amanah Al-Qur’an. Ia juga menyinggung pembangunan fasilitas ibadah di lingkungan pesantren yang terus berjalan seiring dukungan berbagai pihak.
Sementara itu, tentang KH Baharuddin Pagim, Dahlan menyoroti peran tokoh tersebut dalam menjaga suasana sosial-keagamaan tetap sejuk menjelang momen politik yang dinamis, khususnya pada masa pemilu. Ia mengingat pesan sang kiai agar mubaligh dan warga menjaga kelembutan, tidak menjadi pemantik sentimen kelompok, serta menghadirkan kepemimpinan yang adil dan menegakkan kebenaran dalam kehidupan kebangsaan.
“Kalau disimpulkan, energi gerakan para tokoh ini bertumpu pada energi tauhid yang melahirkan keteguhan, keteduhan, dan kerja nyata,” ujar Dahlan.
Di akhir pemaparan, Dahlan menegaskan bahwa kajian spirit tauhid para tokoh Muhammadiyah, baik nasional maupun lokal, memperlihatkan kesinambungan gagasan pembaruan dari generasi ke generasi. “Ide-ide pembaruannya tersambung dengan generasi sebelumnya,” katanya.





















