KHITTAH CO, MAKASSAR — Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan Prof. dr. Budu, Ph.D., Sp.M(K)., M.M, menegaskan bahwa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) bukan sekadar institusi akademik, melainkan media dakwah dan pusat kaderisasi ideologis yang menentukan masa depan persyarikatan.
Hal itu ia sampaikan dalam sesi penutup Pengajian Ramadan 1447 H PWM Sulsel, di hadapan pimpinan perguruan tinggi dan Badan Pembina Harian PTMA, Sabtu malam, 28 Februari 2026.
“Amal Usaha Muhammadiyah, khususnya Perguruan Tinggi Muhammadiyah, harus menjadi media dakwah dan kaderisasi,” ujar Prof Budu mengawali paparannya.
Ia mengakui, tema tauhid yang menjadi ruh pengajian Ramadan tahun ini bukan hal ringan untuk dibahas dalam konteks pengelolaan amal usaha. “Bahasa-bahasa tauhid itu melekat dalam keseharian kita, tetapi membahasnya dalam konteks amal usaha Muhammadiyah itu butuh effort khusus,” katanya.
Dari Saudagar Dermawan ke Institusi Modern
Prof Budu mengingatkan bahwa Muhammadiyah tumbuh dari fondasi sosial-ekonomi para saudagar dermawan pada masa awal berdirinya tahun 1912. Modal sosial tersebut kemudian bertransformasi menjadi amal usaha yang bersifat institusional, seperti sekolah, rumah sakit, hingga perguruan tinggi.
“Awalnya ditopang para saudagar yang berjiwa dermawan. Modal sosial itu kemudian bertransformasi menjadi amal usaha yang melembaga,” ujarnya.
Kini, lanjut dia, PTMA telah berkembang menjadi 163 perguruan tinggi setelah proses merger nasional, dengan 23 di antaranya telah terakreditasi unggul. Universitas Muhammadiyah Makassar termasuk di dalamnya.
Ia juga menyoroti perkembangan fakultas kedokteran di lingkungan PTMA. “Awalnya hanya 12 fakultas kedokteran. Awal 2026 ini sudah 23 fakultas kedokteran, dan serentak membuka 29 program pendidikan dokter spesialis,” katanya. Menurutnya, pembukaan program spesialis hanya mungkin dilakukan oleh perguruan tinggi yang kuat secara kelembagaan dan akademik.
Bagi Prof Budu, capaian tersebut menunjukkan bahwa PTMA memiliki potensi besar sebagai instrumen dakwah dan transformasi sosial.
Tauhid sebagai Ruh Tata Kelola
Prof Budu menekankan bahwa kekuatan PTMA terletak pada tauhid sebagai ruh pengelolaan. Tauhid, menurut dia, bukan sekadar doktrin teologis, tetapi harus menjadi fondasi tata kelola yang jujur, amanah, dan akuntabel.
“Tauhid bukan hanya dibaca atau diucapkan, tetapi harus diaktualisasi dalam amal saleh, termasuk dalam pengelolaan perguruan tinggi,” ujarnya.
Ia menegaskan, penyimpangan tata kelola di lembaga mana pun sering kali berakar pada lemahnya internalisasi nilai tauhid. Karena itu, PTMA harus menjaga karakter sebagai kampus dengan tata kelola yang baik dan berintegritas.
“Jika tauhid dijadikan pilar utama, maka perguruan tinggi kita bisa meng-counter kekerasan, amoralitas, dan penyimpangan yang kini marak di berbagai kampus,” katanya.
Menurut Prof Budu, tauhid di PTMA harus berfungsi menggerakkan, membebaskan, dan mencerahkan. Perguruan tinggi tidak boleh berhenti sebagai tempat transfer ilmu, melainkan menjadi pusat pembentukan kepribadian unggul yang berdampak bagi kemanusiaan.
Dakwah Intelektual dan Transformasi Sosial
Prof Budu memaparkan bahwa PTMA memiliki perangkat dakwah yang lengkap, mulai dari dakwah bil lisan, bil qalam, hingga bil hal.
Melalui perkuliahan, pengajian, dan diskusi ilmiah, dakwah bil lisan dan bil qalam dapat dikembangkan. Sementara melalui pengabdian masyarakat, kuliah kerja nyata, dan pelayanan kesehatan, dakwah bil hal dapat diwujudkan secara konkret.
“Dakwah modern harus kontekstual, inklusif, menyasar ruang virtual, dan menghadirkan solusi nyata,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dalam kurikulum. Integrasi AIK, menurutnya, menjadi pembeda lulusan PTMA dibandingkan perguruan tinggi lain.
“Alumni PTMA harus lahir sebagai insan berilmu dan berakhlak, insan kamil yang mampu mengintegrasikan sains dan dakwah,” katanya.
Ia bahkan mendorong fakultas-fakultas kedokteran di PTMA untuk berani melakukan riset-riset mutakhir, seperti genomik dan stem cell. “Kita harus punya jiwa iqra dan tidak boleh ketinggalan dalam modernisasi pendidikan,” ujarnya.
Pusat Kaderisasi Ideologis
Selain sebagai media dakwah, Prof Budu menekankan fungsi strategis PTMA sebagai pusat kaderisasi ideologis dan kepemimpinan.
“Kaderisasi adalah proses sistematis untuk menyiapkan generasi penerus yang kompeten, berkarakter, dan loyal terhadap nilai persyarikatan,” ujarnya.
Ia menyebut organisasi kemahasiswaan, asrama, pesantren mahasiswa, serta program pembinaan intensif sebagai instrumen penting kaderisasi. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), menurutnya, menjadi ujung tombak pengkaderan di kampus.
“PTMA harus menjadi pusat penyemaian ideologi Islam berkemajuan dan kepemimpinan strategis,” tegasnya.
Ia mengutip Surah Ali Imran ayat 104 tentang kewajiban menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran sebagai dasar gerakan perguruan tinggi Muhammadiyah.
Pada bagian akhir, Prof Budu merujuk pandangan antropolog Mitsuo Nakamura yang melihat Muhammadiyah bukan sekadar organisasi, melainkan kekuatan sosial berbasis nilai Islam pembaruan. Pengalaman panjang Muhammadiyah dalam pendidikan dan pelayanan sosial, menurutnya, menjadi modal menghadapi abad baru.
“Perguruan Tinggi Muhammadiyah harus menjadi agen perubahan yang berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah, siap menjawab persoalan umat,” katanya.
Bagi Prof Budu, masa depan persyarikatan sangat ditentukan oleh kekuatan PTMA sebagai media dakwah, pusat kaderisasi, sekaligus laboratorium integrasi sains dan nilai-nilai tauhid dalam kehidupan nyata.





















