Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Syawalan Muhammadiyah Sulsel Dirangkaikan dengan Launching Buku “Tauhid sebagai Energi Spiritual dan Sosial Muhammadiyah”

×

Syawalan Muhammadiyah Sulsel Dirangkaikan dengan Launching Buku “Tauhid sebagai Energi Spiritual dan Sosial Muhammadiyah”

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR — Syawalan 1447 Hijriah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Sabtu, 28 Maret 2026, tidak hanya menjadi ajang silaturahmi warga persyarikatan, tetapi juga menjadi panggung peluncuran buku “Tauhid sebagai Energi Spiritual dan Sosial Muhammadiyah: Bunga Rampai Pemikiran dan Aplikasinya.”

Peluncuran buku itu menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian acara Syawalan yang digelar di Halaman Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan.
Peluncuran buku ditandai dengan penandatanganan pada replika sampul buku oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Abdul Mu’ti, M.Ed., Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, dan Ketua PWM Sulsel Prof Dr Ambo Asse, M.Ag.

Setelah penandatanganan, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan buku oleh Prof Ambo Asse kepada Prof Abdul Mu’ti, Andi Sudirman Sulaiman, perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), dan perwakilan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (PTMA).

Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PWM Sulsel, Dr Hadisaputra, yang juga menjadi editor buku bersama Andi Asywid Nur, M.Pd., mengatakan, peluncuran buku itu sengaja ditempatkan dalam momentum Syawalan karena forum tersebut tidak hanya mempertemukan warga Muhammadiyah dalam suasana kebersamaan pasca-Ramadhan, tetapi juga menyediakan ruang untuk meneguhkan kembali fondasi ideologis gerakan.

Menurut Hadisaputra, buku itu lahir dari forum pengajian Ramadan PWM Sulsel, yang kemudian dibukukan, sebagai sumber pengetahuan, sumber orientasi gerakan, dan sumber energi peradaban. Karena itu, kehadiran buku tersebut di tengah Syawalan dimaksudkan sebagai pengingat bahwa persyarikatan tidak cukup hanya dirawat dengan silaturahmi, tetapi juga harus diteguhkan dengan gagasan.

“Buku ini sesungguhnya lahir dari persilangan antara penguatan akidah, kebutuhan konsolidasi persyarikatan, dan ikhtiar untuk menurunkan gagasan tauhid ke dalam aksi. Karena itu, judulnya tidak ornamental. Ada penekanan pada pemikiran, tetapi pemikiran itu tidak dibiarkan membeku. Ada penekanan pada tauhid, tetapi tauhid itu tidak diperlakukan sebagai wilayah abstraksi yang jauh dari realitas,” kata Hadisaputra.

Ia menjelaskan, buku tersebut merupakan buah intelektual dari Pengajian Ramadan 1447 Hijriah PWM Sulsel yang digelar di Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara pada 11-12 Ramadan 1447 H atau 28 Februari-1 Maret 2026.

Dari forum itu, menurut dia, lahir himpunan pemikiran yang kemudian disusun menjadi mozaik gagasan tentang bagaimana Muhammadiyah memahami tauhid bukan hanya sebagai akidah yang diyakini, tetapi juga sebagai horizon yang menggerakkan pembaruan sosial, pendidikan, ekonomi, kelembagaan, dan pemberdayaan umat.
Hadisaputra menilai, salah satu kekuatan utama buku tersebut terletak pada kemampuannya memperlihatkan tauhid sebagai sistem makna yang hidup.

Dalam pembacaan itu, tauhid tidak tampil sekadar sebagai doktrin, tetapi sebagai kerangka simbolik, etis, dan praksis yang membentuk cara warga Muhammadiyah memandang dunia, menilai krisis, menyusun strategi, dan membangun institusi. Karena itu, peluncuran buku di momentum Syawalan dipandang sejalan dengan semangat Muhammadiyah yang menjadikan Syawal bukan sekadar penutup suasana Lebaran, tetapi awal untuk melanjutkan energi Ramadhan ke dalam kerja-kerja gerakan.

“Kalau seluruh bagian buku ini dibaca sebagai satu tubuh pemikiran, tampak jelas bahwa buku ini sesungguhnya merupakan abstrak bagi gerakan Muhammadiyah itu sendiri. Ia memetakan dari mana akidah itu datang, problem apa yang sedang dihadapinya, bagaimana ia dibaca oleh para tokoh, dengan metodologi apa ia direkonstruksi, di mana ia diaktualisasikan, ke mana ia diarahkan dalam bidang ekonomi, dan di titik mana ia harus membumi dalam basis-basis jamaah,” ujar Hadisaputra.

Buku setebal lebih dari 300 halaman itu diterbitkan oleh Majelis Pustaka dan Informasi PWM Sulsel dan menghimpun tulisan dari sejumlah tokoh Muhammadiyah Sulawesi Selatan, yakni Prof Ambo Asse, Prof A Qadir Gassing, Prof Arifuddin Ahmad, Prof Mustari Bosra, Dr Abd Rakhim Nanda, Dr Dahlan Lama Bawa, Dr Abbas Baco Miro, Prof Zulfahmi Alwi, Dr Muhammad Syaiful Saleh, Dr Pantja Nur Wahidin, Prof Budu, Prof Gagaring Pagalung, Dr Husain Abd Rahman, Dr Mawardi Pewangi, dan Dr Mahmudah.

Dalam uraian pembahasannya, buku itu bergerak dari genealogi pemikiran akidah Muhammadiyah, isu-isu akidah kontemporer, gagasan tauhid para tokoh, manhaj tarjih, praksis amal usaha, ekonomi umat, hingga pengembangan cabang, ranting, dan masjid sebagai pusat pemberdayaan.

Bagi PWM Sulsel, peluncuran buku dalam rangkaian Syawalan mengandung makna simbolik yang kuat. Di satu sisi, ia menegaskan bahwa tradisi silaturahmi dalam Muhammadiyah selalu dihubungkan dengan penguatan orientasi gerakan. Di sisi lain, ia memperlihatkan bahwa gagasan yang lahir dari forum pengajian tidak berhenti sebagai wacana sesaat, tetapi diabadikan, didokumentasikan, dan disebarluaskan agar dapat dibaca lintas generasi.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner UNISMUH MAKASSAR

Leave a Reply