KHITTAH CO, MAKASSAR — Syawalan 1447 Hijriah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Sabtu, 28 Maret 2026, di Halaman Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, tidak hanya menampilkan wajah persaudaraan pasca-Ramadhan. Di forum itu, Muhammadiyah Sulsel juga memperlihatkan sesuatu yang lain: gerak kelembagaan yang terus dibangun, dari layanan kesehatan, penguatan pusat dakwah, hingga infrastruktur baru yang diproyeksikan menopang pengembangan sumber daya manusia persyarikatan.
Di hadapan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, jajaran pimpinan Muhammadiyah dan ’Aisyiyah, kepala daerah, pimpinan amal usaha, serta ribuan warga persyarikatan dari berbagai daerah, Ketua PWM Sulsel Prof Ambo Asse menjadikan Syawalan sebagai panggung untuk melaporkan arah gerak Muhammadiyah Sulsel. Yang ditampilkan bukan semata semangat ukhuwah, melainkan bukti bahwa persyarikatan terus bekerja membangun amal usaha yang menyentuh kebutuhan riil masyarakat.
Bagi Ambo Asse, Syawalan memang bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia memaknainya sebagai forum silaturahmi yang memberi semangat untuk menggerakkan persyarikatan dan membangun amal usaha. Karena itu, di tengah suasana Idulfitri, yang dihadirkan bukan hanya pesan moral tentang persaudaraan, tetapi juga laporan tentang apa yang sedang dikerjakan Muhammadiyah Sulsel dan ke mana arah pembangunan persyarikatan hendak dibawa.
Klinik untuk Layanan yang Lebih Dekat
Salah satu penanda penting yang ditonjolkan dalam Syawalan kali ini ialah peluncuran klinik utama Muhammadiyah. Dalam sambutannya, Ambo Asse menyebut klinik itu sebagai salah satu capaian yang baru saja diperkenalkan sebelum acara inti dimulai. Bahkan, ia sempat melemparkan nama yang menurutnya lahir dari inspirasi spontan: Klinik Utama Sehat Bahagia. Nama itu, meski masih berupa usulan yang menunggu persetujuan resmi pimpinan wilayah, memperlihatkan cara Muhammadiyah membayangkan layanannya: tidak semata menyembuhkan, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan kesejahteraan bagi warga.
Peluncuran klinik tersebut penting dibaca dalam konteks lebih luas. Selama ini Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi yang membangun amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial. Dengan kehadiran klinik utama di kompleks PWM Sulsel, wajah itu kembali ditegaskan. Muhammadiyah Sulsel hendak menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya hadir di mimbar dan pengajian, tetapi juga di ruang periksa, di meja layanan, dan dalam sistem kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Gedung 13 Lantai dan Basis SDM
Selain klinik, Ambo Asse juga melaporkan bahwa rencana pembangunan gedung 13 lantai telah dimulai. Proses awal pembangunan, yang ia sebut sudah berjalan hampir sebulan di belakang gedung pusat dakwah, menjadi simbol bahwa Muhammadiyah Sulsel tengah bergerak ke tahap penguatan infrastruktur yang lebih besar. Gedung itu bukan sekadar proyek fisik, tetapi diposisikan sebagai bangunan untuk menopang pengembangan amal usaha dan penguatan sumber daya persyarikatan ke depan.
Ajakan Ambo Asse kepada warga untuk berinfak bagi pembangunan itu juga menarik. Ia tidak berbicara dalam nada megah, melainkan dengan logika gotong royong yang sangat Muhammadiyah: jika ribuan orang memberi sedikit saja, hasilnya bisa menjadi besar. Dari sana terlihat bahwa pembangunan gedung 13 lantai bukan semata proyek elite organisasi, tetapi dibayangkan sebagai kerja kolektif warga persyarikatan. Bangunan fisiknya mungkin akan berdiri dengan beton dan baja, tetapi fondasi sosialnya dibangun dari partisipasi jamaah.
Dalam cara pandang seperti itu, infrastruktur bukan hanya soal gedung. Ia adalah tanda bahwa organisasi sedang menyiapkan masa depan. Gedung 13 lantai, bila kelak rampung, tidak hanya akan menjadi penanda visual kemajuan Muhammadiyah Sulsel, tetapi juga penanda bahwa persyarikatan menaruh perhatian serius pada pengembangan kapasitas, profesionalisme, dan keberlanjutan amal usaha.
Pusat Dakwah yang Diperbarui
Penanda ketiga yang dilaporkan Ambo Asse adalah rampungnya renovasi Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulsel. Menurut dia, gedung itu kini telah difungsikan lebih jelas: lantai dua digunakan untuk layanan administrasi dan kantor pimpinan wilayah, sedangkan lantai satu diisi oleh unsur-unsur pelayanan persyarikatan seperti Lazismu, majelis ekonomi, dan majelis kesehatan yang mengurus poliklinik. Walau masih ada bagian kecil yang belum sepenuhnya selesai, secara umum pusat dakwah itu telah berubah menjadi simpul layanan organisasi yang lebih tertata.
Renovasi gedung pusat dakwah ini penting, sebab ia menunjukkan pergeseran cara Muhammadiyah memandang pusat organisasinya. Pusat dakwah bukan lagi semata ruang rapat atau simbol kelembagaan, tetapi ruang kerja yang menampung administrasi, pengelolaan filantropi, pelayanan ekonomi, dan kesehatan. Dengan kata lain, pusat dakwah dikembangkan sebagai titik temu antara fungsi ideologis dan fungsi layanan. Di sana dakwah bertemu dengan administrasi, dan nilai-nilai keagamaan bertemu dengan kebutuhan praktis warga.
Lebih dari Organisasi Ritual
Dari tiga penanda itu, klinik utama, pembangunan gedung 13 lantai, dan renovasi pusat dakwah, tampak jelas arah yang hendak diperlihatkan Muhammadiyah Sulsel melalui Syawalan. Persyarikatan ini tidak ingin dibaca semata sebagai organisasi yang merawat ritual keagamaan atau memperingati momentum tahunan. Ia ingin tampil sebagai organisasi yang terus membangun infrastruktur dakwah, kesehatan, dan layanan publik secara nyata.
Dalam konteks itu, Syawalan berubah fungsi. Ia bukan hanya forum saling memaafkan, tetapi etalase kerja kelembagaan. Di satu sisi, warga diajak merasakan hangatnya persaudaraan setelah Ramadhan. Di sisi lain, mereka diajak melihat bahwa persaudaraan itu harus berbuah dalam amal yang terukur: gedung yang dibangun, klinik yang diluncurkan, kantor yang direnovasi, dan pelayanan yang diperluas. Persyarikatan, dengan kata lain, dipelihara bukan hanya dengan pidato, tetapi dengan institusi.
Kehadiran Abdul Mu’ti dan Gubernur Sulsel pada forum itu memberi bobot tambahan. Namun, inti pesannya tetap terletak pada apa yang ditampilkan Muhammadiyah Sulsel sendiri: sebuah organisasi yang berusaha membuktikan bahwa gerakan Islam modern tidak berhenti pada simbol-simbol moral, tetapi menjelma menjadi infrastruktur sosial yang dapat dilihat, dipakai, dan dirasakan manfaatnya.
Di situlah letak makna Syawalan Muhammadiyah Sulsel tahun ini. Ia menjadi panggung yang memperlihatkan bahwa kemajuan persyarikatan bukan hanya diukur dari ramainya jamaah atau kuatnya tradisi silaturahmi, tetapi juga dari kesanggupan membangun sarana yang menopang dakwah dan pelayanan dalam jangka panjang. Dari klinik hingga gedung 13 lantai, dari pusat dakwah hingga ajakan berinfak, Muhammadiyah Sulsel sedang menampilkan dirinya sebagai gerakan yang tidak hanya berbicara tentang amal, tetapi juga terus membangunnya.



















