KHITTAH.CO, MAKASSAR — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan menegaskan bahwa para santriwati harus tampil sebagai perempuan berkemajuan yang memiliki pola pikir maju, percaya diri, adaptif, dan siap mengambil peran dalam dakwah kemanusiaan di tengah perubahan zaman. Pesan itu disampaikan Wakil Ketua PWM Sulsel, Prof. Dr. dr. Budu, Ph.D., Sp.M(K), M.Med.Ed., saat menghadiri Penamatan Santriwati ke-34 SMA dan MA Pondok Pesantren Puteri Ummul Mukminin (PPPUM) ‘Aisyiyah Wilayah Sulawesi Selatan, Sabtu, 23 Mei 2026.
Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut mengusung tema “Mencetak Alumni Unggul dan Kader Ulama guna Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian.” Acara dihadiri ratusan orang tua santri, tokoh Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, pimpinan pesantren, mitra kerja, hingga para tamu undangan dari berbagai lembaga pendidikan dan keagamaan.
Dalam sambutannya, Prof Budu menyampaikan bahwa momentum penamatan santriwati tahun ini berada di antara dua momentum besar, yakni Milad ke-109 ‘Aisyiyah dan peringatan Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah.
Menurutnya, dua momentum tersebut memiliki makna penting bagi pembentukan karakter perempuan muslimah tangguh.
“Adik-adik sekalian hari ini ditamatkan di antara dua hari besar. Baru saja kita memperingati Milad ‘Aisyiyah ke-109, organisasi perempuan terbesar di bangsa ini, yang dikenal sebagai perempuan pendamping peradaban. Kemudian sebentar lagi kita menyambut Iduladha yang menghadirkan keteladanan Siti Hajar sebagai sosok ibu salehah, tangguh, dan tulus,” ujarnya.
Ia menyebut para santriwati PPPUM merupakan calon perempuan tangguh masa depan yang diharapkan mampu meneruskan nilai-nilai dakwah dan kemanusiaan Muhammadiyah-‘Aisyiyah.
Prof Budu juga mengapresiasi capaian Pondok Pesantren Puteri Ummul Mukminin yang dinilainya berhasil melahirkan lulusan berkualitas, termasuk para penghafal Al-Qur’an dan santriwati yang berhasil lolos di berbagai perguruan tinggi negeri.
“Saat ini dunia sangat berpihak kepada anak-anak tangguh dan perempuan-perempuan cerdas. Kita tadi mendengar ada santriwati yang lulus di perguruan tinggi negeri. Itu menandakan kita mampu bersaing,” katanya.
Ia menjelaskan, saat ini banyak perguruan tinggi membuka jalur prestasi khusus bagi hafiz Al-Qur’an. Selain itu, pemerintah juga menyediakan berbagai bantuan pendidikan dan beasiswa bagi santri dan santriwati yang memiliki kemampuan di bidang religiusitas.
Karena itu, ia meminta para lulusan PPPUM tidak menyia-nyiakan peluang besar yang tersedia saat ini.
“Jangan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Dunia hari ini penuh opportunity bagi perempuan muslimah yang memiliki kemampuan, ilmu, dan karakter,” tegasnya.
Dalam pidatonya, Prof Budu turut menjelaskan makna “Perempuan Berkemajuan” yang selama ini menjadi slogan gerakan ‘Aisyiyah. Menurutnya, perempuan berkemajuan harus memiliki growth mindset, selalu ingin berkembang, tidak mudah menyerah, serta memiliki visi ilmu pengetahuan.
“Perempuan berkemajuan itu harus selalu mau maju. Tidak boleh merasa cukup dengan keadaan hari ini. Kalau gagal, harus bangkit lagi,” ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, perempuan berkemajuan juga harus percaya diri, adaptif, dan menjadi pembelajar yang lincah (agile learner) dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Penamatan santriwati ke-34 PPPUM, turut hadir, Kiyai Pondok PPPUM Drs. KH. Jalaluddin Sanusi, Ketua PWA Sulsel Dr. Mahmudah, M.Hum, Ketua Badan Pembina PPPUM Prof. Hj. St. Aisyah Kara, Ph.D, perwakilan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan Dr. Saenong, LC., MA.
Hadir pula pimpinan Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara, Darul Aman Buq’atun Mubarakah, IMMIM Putra, Komite PPPUM yang diketuai Dr. Nurhayati Azis, S.E., M.Si., serta sejumlah mitra kerja seperti LP2M, Ma’had Al-Birr Unismuh Makassar, PUTM Makassar, lembaga bimbingan belajar SCI, dan mitra perbankan syariah.
Penamatan kali ini menjadi momentum penting bagi PPPUM ‘Aisyiyah Sulsel dalam meneguhkan komitmennya mencetak generasi muslimah unggul, berilmu, berkarakter, serta siap menjadi kader ulama dan penggerak dakwah kemanusiaan di masa depan.
Kontributor/Editor: Asywid




















