Scroll untuk baca artikel
Berita

SWSC Unismuh Ajak Seventeen Community Ubah Sampah Jadi Bernilai Ekonomi

×

SWSC Unismuh Ajak Seventeen Community Ubah Sampah Jadi Bernilai Ekonomi

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR – Pusat Solusi Limbah Berkelanjutan atau Sustainable Waste Solution Center (SWSC) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggelar sosialisasi pengelolaan sampah berkelanjutan kepada mahasiswa yang tergabung dalam Seventeen Community di Mini Hall Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unismuh Makassar, Selasa, 23 Januari 2026.

Kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran mahasiswa mengenai pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumber serta mendukung program Green Campus yang sedang dikembangkan Unismuh Makassar.

Sosialisasi yang mengusung tema “Tindakan Kecilmu Memberikan Dampak yang Besar” tersebut menghadirkan Wakil Rektor I Unismuh Prof Andi Sukri Syamsuri dan Kepala SWSC Unismuh Makassar, Dr Andi Fatmawati Mappasere. Kegiatan ini diikuti mahasiswa, pengurus Seventeen Community, serta sejumlah dosen dan pimpinan FKIP Unismuh Makassar.

Kegiatan berlangsung melalui pemaparan materi, diskusi, serta pengenalan sistem pengelolaan sampah yang diterapkan SWSC Unismuh Makassar.

*Latar Belakang Seventeen Community*

Seventeen Community merupakan komunitas mahasiswa dan alumni Unismuh Makassar yang telah eksis selama 17 tahun. Komunitas ini memiliki kedekatan historis dengan Prof Andis, sapaan akrab Andi Sukri Syamsuri, yang pernah membina dan mendampingi para anggotanya sebagai penasihat akademik. Di bawah arahan Prof Andis, Seventeen Community tidak hanya menjadi ruang berkumpul, tetapi juga wadah pembinaan akademik, penguatan karakter, pengembangan kreativitas, serta pembelajaran organisasi bagi mahasiswa dan alumni Unismuh Makassar.

Dalam sosialisasi SWSC ini, Wakil Rektor I Unismuh Makassar, Prof Andis menegaskan bahwa isu sampah merupakan persoalan global yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa.

Menurutnya, pengelolaan sampah tidak boleh hanya dipandang sebagai upaya membuang limbah, tetapi harus menjadi bagian dari solusi lingkungan yang berkelanjutan.

“Kita ini bertindak lokal, kecil, tapi dampaknya luas. Dengan sampah, tindakan kecil dapat memberikan dampak yang besar,” kata Andis saat membuka kegiatan sosialisasi.

Ia juga mengajak mahasiswa menjadi agen perubahan yang dapat menyebarluaskan edukasi pengelolaan sampah kepada lingkungan kampus maupun masyarakat. Menurut dia, keberhasilan program pengelolaan sampah tidak mungkin dicapai hanya oleh pengelola SWSC, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh sivitas akademika.

“Kita harus semua bersatu padu. Tidak bisa hal ini terwujud kalau hanya Bu Andi Fatma sendiri dengan tim yang bekerja,” ujarnya.

Prof Andis menjelaskan bahwa pembentukan SWSC merupakan bagian dari komitmen Unismuh Makassar dalam mendukung pengembangan Green Campus. Lembaga tersebut diharapkan menjadi salah satu ciri khas kampus dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

*Model Pengelolaan Sampah di Unismuh*

Sementara itu, Kepala SWSC Unismuh Makassar, Dr. Andi Fatmawati Mappasere, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah merupakan bentuk tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Menurutnya, perubahan perilaku dalam mengelola sampah harus dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.

“Bentuk salah satu kekhalifahan kita adalah melalui mengelola sampah,” ujar Fatmawati di hadapan peserta sosialisasi.

Ia menerangkan bahwa SWSC memiliki visi menjadi pusat unggulan pengolahan limbah berkelanjutan berbasis inovasi teknologi sekaligus model Green Campus di tingkat nasional. Untuk mencapai tujuan tersebut, SWSC menjalankan program pendidikan lingkungan, penelitian, pengabdian masyarakat, serta pengembangan kewirausahaan hijau.

Fatmawati menilai masih terdapat sejumlah tantangan dalam pengelolaan sampah di lingkungan kampus. Salah satunya adalah rendahnya kesadaran warga kampus dalam memilah sampah sesuai kategori yang telah disediakan.

“Tantangannya, sampah belum dipilah dari sumber. Mengubah perilaku membutuhkan waktu dan kerja keras,” katanya.

Dalam pemaparannya, Fatmawati menjelaskan bahwa SWSC mengelompokkan sampah menjadi empat kategori, yakni organik, anorganik, residu, dan bahan berbahaya serta beracun (B3).

Sampah organik diolah menjadi kompos melalui sistem komposter dan maggot. Sementara itu, sampah anorganik dapat ditabung melalui bank sampah karena memiliki nilai ekonomi.

Ia juga mengungkapkan bahwa sebagian besar jenis sampah yang dihasilkan masyarakat sebenarnya masih memiliki harga jual. Karena itu, paradigma yang menganggap sampah sebagai barang tidak berguna perlu diubah menjadi sumber daya yang bernilai.

“Tidak ada lagi, hampir tidak ada lagi sampah yang tidak ada harganya. Tinggal bagaimana menurunkan gengsi untuk memungut dan mengelolanya,” ujar Fatmawati.

Menurut Fatmawati, program bank sampah yang dijalankan SWSC telah membuka peluang ekonomi sekaligus menjadi sarana edukasi lingkungan bagi mahasiswa. Ia mencontohkan mahasiswa yang rutin mengumpulkan botol plastik dan kertas bekas mampu mengubah sampah menjadi tabungan kelas maupun tabungan pribadi.

Selain memberikan edukasi, SWSC juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk menjadi nasabah bank sampah dan relawan Eco Ranger. Program tersebut diharapkan dapat memperluas keterlibatan mahasiswa, termasuk anggota Seventeen Community, dalam mewujudkan lingkungan kampus yang lebih hijau dan bersih.

Melalui sosialisasi ini, Unismuh Makassar berharap mahasiswa yang tergabung dalam Seventeen Community dapat menjadi pelopor perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah. Kampus juga menargetkan penguatan budaya pemilahan sampah dan peningkatan partisipasi warga kampus guna mendukung pencapaian Green Campus yang berkelanjutan.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply