Scroll untuk baca artikel
Berita

Hadirkan Dosen Unismuh, Kuliah Tamu Universitas Flores Angkat Kearifan Lokal NTT

×

Hadirkan Dosen Unismuh, Kuliah Tamu Universitas Flores Angkat Kearifan Lokal NTT

Share this article

KHITTAH.CO, ENDE — Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Flores menggelar kuliah tamu bertema “Strategi Merawat Kerukunan Antar Umat Beragama Perspektif Kearifan Lokal Nusa Tenggara Timur”, Rabu, 8 Juli 2026, di Aula Pedagogi Universitas Flores, Ende. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Dahlan Lama Bawa, S.Ag., M.Ag., pakar komunikasi antarbudaya dan agama dari Universitas Muhammadiyah Makassar, sebagai narasumber utama.

Kuliah tamu tersebut menjadi ruang akademik untuk membahas cara merawat harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk. Isu kerukunan antarumat beragama dipandang penting karena Nusa Tenggara Timur memiliki kekayaan budaya, agama, etnis, dan tradisi lokal yang hidup berdampingan dalam keseharian masyarakat.

Kegiatan ini terlaksana atas fasilitasi Ketua Program Studi PGSD FKIP Universitas Flores, Virgilius Bate Lina, S.Pd., M.Pd., bersama Sitti Arafah, dosen Pendidikan Agama Islam pada Prodi PGSD Universitas Flores. Keduanya berperan mempertemukan kebutuhan akademik mahasiswa PGSD dengan isu kerukunan umat beragama yang relevan dengan konteks sosial dan budaya NTT.

Dalam paparannya, Dahlan menekankan bahwa kerukunan umat beragama tidak cukup dibangun melalui slogan toleransi. Kerukunan, menurut dia, harus dirawat melalui komunikasi sosial, penghargaan terhadap perbedaan, serta penguatan kearifan lokal yang telah lama menjadi perekat masyarakat.

“Kerukunan antarumat beragama tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari kebiasaan saling menghargai, saling menyapa, dan saling menjaga dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Dahlan dalam kuliah tamu tersebut.

Ia menjelaskan, Nusa Tenggara Timur memiliki modal sosial yang kuat dalam merawat kehidupan bersama. Tradisi lokal, hubungan kekerabatan, penghormatan terhadap tokoh adat, serta kebiasaan hidup berdampingan menjadi nilai penting yang perlu terus diwariskan kepada generasi muda.

Baca juga: Kuliah Tamu Internasional Unismuh-UTHM Bahas Ketahanan Air Berkelanjutan

Menurut Dahlan, mahasiswa calon guru perlu memahami isu kerukunan bukan hanya sebagai pengetahuan sosial, melainkan juga sebagai bagian dari pendidikan karakter. Guru, katanya, memiliki peran strategis dalam menanamkan sikap terbuka, menghargai keberagaman, dan mencegah prasangka sejak dini di ruang kelas.

“Sekolah harus menjadi tempat pertama anak-anak belajar bahwa perbedaan agama, budaya, dan latar belakang bukan alasan untuk saling menjauh, tetapi alasan untuk saling mengenal,” kata Dahlan.

Kegiatan ini turut dihadiri Dekan FKIP Universitas Flores, Dr. Yosef Demon, M.Hum.; Prof. Dr. Natsir B. Kotten; Ketua Prodi PGSD FKIP Universitas Flores, Virgilius Bate Lina, S.Pd., M.Pd.; Nining Sar’iyyah, S.Pd., M.Pd.; serta Sitti Arafah, dosen Pendidikan Agama Islam pada Prodi PGSD Universitas Flores. Kehadiran unsur pimpinan fakultas, dosen, dan mahasiswa menunjukkan dukungan institusi terhadap penguatan wawasan kebangsaan, toleransi, dan pendidikan multikultural.

Dekan FKIP Universitas Flores, Dr. Yosef Demon, M.Hum., mengapresiasi pelaksanaan kuliah tamu tersebut. Ia menilai kegiatan ini penting untuk memperluas perspektif mahasiswa PGSD dalam memahami realitas masyarakat yang plural, khususnya dalam konteks pendidikan dasar.

Sementara itu, Ketua Prodi PGSD FKIP Universitas Flores, Virgilius Bate Lina, S.Pd., M.Pd., menilai kuliah tamu ini sejalan dengan kebutuhan calon guru sekolah dasar. Mahasiswa PGSD, menurut dia, perlu dibekali kemampuan membaca keberagaman sosial agar kelak mampu menghadirkan pembelajaran yang inklusif, humanis, dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Sitti Arafah, dosen Pendidikan Agama Islam pada Prodi PGSD Universitas Flores, juga mendorong agar nilai-nilai kerukunan terus diperkuat dalam proses pembelajaran. Ia memandang pendidikan agama di sekolah perlu hadir sebagai ruang pembentukan akhlak, penghormatan terhadap sesama, dan penguatan hidup damai dalam keberagaman.

Selain diskusi akademik, kuliah tamu ini juga diwarnai nuansa budaya lokal. Sejumlah mahasiswa tampil dengan busana daerah, memperlihatkan bahwa kerukunan tidak hanya dibicarakan sebagai konsep, tetapi juga dihidupkan melalui ekspresi budaya dan penghargaan terhadap identitas lokal.

Melalui kegiatan ini, Prodi PGSD FKIP Universitas Flores berharap mahasiswa semakin mampu memahami kerukunan antarumat beragama sebagai bagian penting dari pendidikan. Kerukunan dipandang bukan hanya sebagai urusan sosial, tetapi juga sebagai fondasi pembentukan karakter, penguatan kebangsaan, dan pembangunan kehidupan bersama di tengah keberagaman Indonesia.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner UNISMUH MAKASSAR

Leave a Reply