Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
BeritaOpini

Sinergi Pendekar dan Perempuan Muda: Merawat Api Gerakan Muhammadiyah

×

Sinergi Pendekar dan Perempuan Muda: Merawat Api Gerakan Muhammadiyah

Share this article

Oleh: Irwan Akib (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

KHITTAH. CO – Muktamar merupakan forum permusyawaratan tertinggi bagi sebuah organisasi. Ia bukan sekadar ajang memilih pimpinan, apalagi berebut kuasa. Lebih dari itu, muktamar adalah penentu arah organisasi. Forum ini menjadi bukti nyata bahwa roda organisasi berjalan dinamis dengan menjunjung tinggi prinsip musyawarah. Semua keputusan yang diambil bersifat kolektif-kolegial, sehingga terhindar dari dominasi figur tunggal. Di saat yang sama, forum ini juga menjadi wadah perumusan pemikiran mencerahkan demi kemajuan bangsa.

Pada awal Agustus 2026, dua Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah menggelar muktamar secara bersamaan di Jawa Tengah. Di belahan utara, tepatnya di Kota Semarang, para pendekar dan kader Tapak Suci Putera Muhammadiyah berkumpul dalam Muktamar XVI. Sementara di wilayah Solo Raya, gairah pemikiran dan gerakan sosial membuncah lewat Muktamar XV Nasyiatul Aisyiyah (NA).

Dua agenda akbar ini bukanlah seremonial belaka, melainkan pengejawantahan nyata dari misi Islam Berkemajuan. Melalui tema besar masing-masing, kedua Ortom ini bergerak lincah menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga agar api perjuangan K.H. Ahmad Dahlan tidak padam.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif, pernah meninggalkan pesan moral yang sangat mendalam bagi generasi muda persyarikatan: “Muhammadiyah tidak boleh menjadi fosil sejarah. Ia harus selalu melahirkan anak-anak muda yang gelisah terhadap ketidakadilan dan tangkas merespons zaman.”

Petuah Buya Syafii tersebut termaterialisasi dengan baik dalam kompas gerakan kedua Ortom saat ini. Tapak Suci hadir di Semarang membawa optimisme melalui tema: “Berakar Tradisi Menuju Tapak Suci Modern, Mandiri, dan Mendunia”. Di tengah gempuran budaya populer yang kerap mencabut akar identitas generasi muda, Tapak Suci teguh melakukan dakwah kultural. Dalam hal ini Tapak Suci merebut modal budaya Semboyan “Dengan Iman dan Akhlak saya menjadi kuat, tanpa Iman dan Akhlak saya menjadi lemah” adalah benteng karakter autentik yang melahirkan anak muda dengan integritas tinggi.

Namun, romantisasi tradisi saja tidak cukup untuk merespons zaman. Kelangsungan dakwah membutuhkan institusi yang adaptif. Komitmen menuju pengelolaan yang “Modern” serta “Mandiri” secara finansial adalah jaminan agar dakwah organisasi ini merdeka dan tidak mudah diintervensi oleh kepentingan politik praktis. Lebih jauh, visi “Mendunia” yang kini mengepakkan sayap di 24 negara membuktikan bahwa Tapak Suci adalah diplomat kemanusiaan global yang mengenalkan wajah Islam Indonesia yang damai dan berwibawa.

Jika Tapak Suci bergerak melebar ke ruang publik global, maka Nasyiatul Aisyiyah (NA) di Solo Raya bergerak menghunjam ke dalam fondasi terkecil kemanusiaan, yaitu perempuan dan keluarga. NA mengusung tema: “Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan”. Kata “Berkemajuan” menuntut kader NA menjadi subjek aktif, bukan penonton pasif.

Perempuan muda Muhammadiyah hari ini dilatih untuk gelisah terhadap realitas sosial, mulai dari isu kesehatan reproduksi, penguatan ekonomi perempuan, hingga penanganan tengkes (stunting). Mereka menjawab kegelisahan itu dengan aksi nyata yang membumi.

Peran ini adalah kunci utama untuk mewujudkan ‘Peradaban Berkelanjutan’. NA membuktikan diri sebagai aktor Gerakan Sosial Baru yang tidak bertumpu pada perebutan kuasa, melainkan penyelamatan kemanusiaan. Hal ini selaras dengan amanat K.H. Ahmad Dahlan agar kader Muhammadiyah terus menuntut ilmu dan kembali untuk merawat persyarikatan. NA memastikan mata rantai ideologi tersebut tidak terputusmelahirkan generasi penerus yang berilmu, mandiri, dan tanggap sosial.

Membaca narasi kedua muktamar ini memberikan keyakinan bahwa Muhammadiyah akan selalu relevan dengan berbagai situasi dan perkembangan zaman. Kedua Ortom ini, bersama Ortom lainnya, selalu hadir dalam gerak dakwah yang saling melengkapi. Tapak Suci adalah benteng luar yang menjaga marwah, melatih ketangkasan fisik, dan menyebarkan pesona dakwah secara horizontal ke penjuru dunia. Sementara Nasyiatul Aisyiyah adalah tiang penyangga di dalam rumah yang memastikan interior peradaban Islam tetap hangat, melahirkan pemikiran jernih, dan merawat generasi secara vertikal menembus waktu.

Dari arena Muktamar Jawa Tengah 2026, sinergi kaum muda ini membuktikan bahwa Muhammadiyah menolak menjadi fosil sejarah. Api perjuangan Ahmad Dahlan akan terus menyala dan berkobar, dirawat oleh keteguhan fisik dan iman para pendekar Tapak Suci, serta kelembutan pikiran dan aksi nyata perempuan muda Nasyiatul Aisyiyah.

Selamat Bermuktamar!

 

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply