Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

Seminar Internasional IKAPROBSI di Unismuh Pecahkan Rekor dengan 249 Makalah

×

Seminar Internasional IKAPROBSI di Unismuh Pecahkan Rekor dengan 249 Makalah

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR — Ratusan hasil penelitian tentang bahasa, sastra, pembelajaran, dan literasi dipertemukan dalam Seminar Internasional Perkumpulan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKAPROBSI di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar. Jumlah pemakalah dalam forum tahun ini disebut menjadi yang terbesar sepanjang penyelenggaraan seminar internasional IKAPROBSI.

Seminar yang berlangsung di Balai Sidang Muktamar Unismuh Makassar, Sabtu, 8 Agustus 2026, itu merupakan rangkaian Rakernas X IKAPROBSI. Forum bertema “Penguatan Peran Bahasa Indonesia di Era Kompetisi Global” tersebut mempertemukan dosen, peneliti, pengelola program studi, mahasiswa, serta akademisi dari dalam dan luar negeri.

Ketua Umum IKAPROBSI, Prof Dr Sarwiji Suwandi, MPd, menyebut tingginya partisipasi pemakalah sebagai capaian penting. Menurut dia, jumlah tersebut melampaui penyelenggaraan seminar internasional Ikaprobsi sebelumnya.

“Para pemakalah jumlahnya luar biasa. Ini memecahkan rekor selama kegiatan seminar internasional yang diselenggarakan oleh IKAPROBSI,” kata Sarwiji.

Ketua Panitia yang juga Ketua IKAPROBSI Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, Prof Dr Andi Sukri Syamsuri, MHum, mengatakan, ada 249 makalah dipresentasikan secara luring dan daring. Peserta berasal dari jejaring program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia di berbagai daerah.

Prof Andis, sapaan akrab Wakil Rektor I Unismuh Makassar itu, menyebut jejaring tersebut mencakup sekitar 300 program studi bahasa Indonesia di Tanah Air.

Besarnya jumlah pemakalah memberi gambaran mengenai luasnya persoalan yang kini menjadi perhatian akademisi bahasa dan sastra Indonesia. Pembahasan tidak lagi semata berkisar pada metode pengajaran, tetapi juga menyentuh literasi, perkembangan teknologi, diseminasi penelitian, dan upaya memperluas penggunaan bahasa Indonesia di tingkat internasional.

Penelitian tidak berhenti di seminar

Sarwiji mengatakan, forum ilmiah itu diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan hasil penelitian sekaligus pengalaman dari berbagai perguruan tinggi.

Para peserta mendiskusikan peningkatan kualitas pendidikan bahasa Indonesia, pengembangan literasi peserta didik, internasionalisasi bahasa Indonesia, serta hasil-hasil penelitian mutakhir.

Dalam konteks tersebut, banyaknya makalah bukan semata persoalan jumlah. Tantangannya terletak pada kemampuan perguruan tinggi menerjemahkan penelitian menjadi pembaruan dalam pembelajaran dan pengelolaan program studi.

Perubahan teknologi membuat tantangan itu semakin kompleks. Kecerdasan artifisial telah mengubah cara teks diproduksi, informasi diperoleh, dan pengetahuan dipertukarkan. Di tengah perubahan tersebut, kemampuan berbahasa dan berliterasi justru menjadi semakin penting karena masyarakat harus mampu membaca, menyeleksi, menguji, dan menyampaikan informasi secara kritis.

Dalam sambutan Wali Kota Makassar yang dibacakan oleh Dr. Alamsyah Sahabuddin, S.STP., M.Si. (Sekretaris Badan Riset dan Inovasi Daerah Pemkot Makassar, transformasi digital, perkembangan kecerdasan artifisial, ekonomi berbasis pengetahuan, dan kolaborasi lintas negara disebut sebagai tantangan yang harus dijawab dunia pendidikan.

Kemampuan suatu bangsa, dalam konteks itu, tidak cukup hanya diukur dari kemajuan teknologi. Identitas budaya dan kemampuan menjadikan bahasa nasional sebagai bahasa ilmu pengetahuan, inovasi, dan diplomasi juga menjadi bagian dari daya saing.

Bahasa Indonesia sendiri telah digunakan melampaui komunikasi sehari-hari. Bahasa itu hadir dalam pendidikan, pemerintahan, hukum, media massa, bisnis, hingga komunikasi akademik.

Persoalannya kemudian adalah bagaimana bahasa Indonesia semakin mampu menjadi medium lahirnya ilmu pengetahuan, bukan sekadar medium untuk menyampaikan pengetahuan yang telah dihasilkan dalam bahasa lain.

Unismuh menjadi titik temu

Penyelenggaraan seminar di Unismuh Makassar juga dimanfaatkan untuk memperluas kerja sama antarkampus.

Sebelum sesi seminar dimulai, sejumlah nota kesepahaman dan implementation agreement ditandatangani. Kerja sama mencakup bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Sejumlah program studi di Unismuh Makassar menjalin kerja sama dengan program studi dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Islam Malang, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Pendidikan Ganesha, serta Universitas Mulawarman.

Sarwiji mengingatkan agar kerja sama tersebut tidak berhenti pada dokumen.

“Saya tentu sangat berharap nota kesepahaman atau perjanjian yang sudah kita tanda tangani ke depan betul-betul diimplementasikan agar memberikan kemanfaatan optimal bagi pengembangan institusi maupun program studi kita,” ujarnya.

Implementasi menjadi penting sebab penelitian yang dipresentasikan dalam forum nasional akan lebih bermakna jika dapat dikembangkan melalui riset bersama, pertukaran pengalaman pembelajaran, publikasi, dan program pengabdian masyarakat.

Prof Andis menyampaikan apresiasi atas kepercayaan kepada Unismuh Makassar sebagai tempat penyelenggaraan Rakernas dan Seminar Internasional Ikaprobsi.

Forum itu juga menghadirkan akademisi dari Universiti Teknologi Malaysia dan Al-Azhar University, Kairo. Kehadiran mereka menambah dimensi internasional dalam pembahasan mengenai posisi bahasa Indonesia di tengah pergaulan akademik dunia.

Dari bahasa menuju inovasi

Salah satu pesan yang muncul dalam seminar adalah keterkaitan antara kemampuan berbahasa, berpikir, dan menghasilkan inovasi.

Dalam sambutan Pemerintah Kota Makassar disebutkan, kemampuan berbahasa yang baik dapat menopang kemampuan berpikir yang baik. Kemampuan berpikir yang baik, pada gilirannya, menjadi landasan bagi lahirnya inovasi.

Pandangan itu menempatkan pendidikan bahasa dalam posisi yang lebih mendasar. Di tengah derasnya teknologi digital, kemampuan menyusun argumentasi, memahami konteks, menguji informasi, dan mengomunikasikan gagasan tetap menjadi kecakapan yang tidak dapat dilepaskan dari pembangunan sumber daya manusia.

Karena itu, rekor jumlah pemakalah dalam seminar Ikaprobsi di Makassar baru menjadi titik awal.

Sarwiji berharap pertukaran gagasan dan hasil penelitian dalam forum tersebut memberikan manfaat bagi upaya bersama memperkuat posisi bahasa Indonesia di tengah kompetisi global.

Ukuran keberhasilan berikutnya terletak pada apa yang terjadi setelah forum selesai: apakah ratusan penelitian itu masuk ke ruang kelas, melahirkan kerja sama riset, memperkuat literasi peserta didik, serta memperbesar kemampuan bahasa Indonesia untuk menjadi bahasa ilmu pengetahuan di tengah perubahan dunia yang bergerak semakin cepat.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply