KHITTAH.CO, MAROS — Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Maros, Amin Duddin, Lc., menegaskan bahwa ber-Muhammadiyah harus dijalankan dengan kesungguhan, keikhlasan, dan kerja nyata, bukan sekadar menjalankan kewajiban organisasi. Pesan itu disampaikan Amin saat memberikan sambutan pada Musyawarah Daerah (Musyda) XXI Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kabupaten Maros di Aula SMP Muhammadiyah Maros, Sabtu-Minggu, 8-9 Agustus 2026.
Musyda XXI IPM Maros mengusung tema “Restorasi Ikatan: Meneguhkan Komitmen, Menata Struktur, Mengembalikan Marwah IPM Butta Salewangang.” Forum tersebut menjadi momentum konsolidasi kader, evaluasi perjalanan organisasi, sekaligus merumuskan arah gerakan IPM Maros ke depan.
Di hadapan kader IPM dan sejumlah pimpinan organisasi otonom Muhammadiyah, Amin mengingatkan bahwa aktivitas dalam persyarikatan tidak semestinya dipandang sebagai beban.
“Kalau masih merasa bermuhammadiyah itu beban, maka belum benar-benar bermuhammadiyah namanya,” tegas Amin.
Menurut Amin, Muhammadiyah membutuhkan kader yang bekerja berdasarkan kesadaran dan panggilan pengabdian, bukan semata-mata karena kewajiban struktural. Kesungguhan dalam ber-Muhammadiyah, kata dia, harus tumbuh dari keikhlasan untuk memberikan manfaat bagi persyarikatan dan masyarakat.
Namun, Amin menekankan bahwa keikhlasan tidak berarti bekerja tanpa arah dan target. Sebaliknya, keikhlasan harus melahirkan kerja organisasi yang konkret, produktif, dan dapat dirasakan manfaatnya.
“Keikhlasan itu bukan berarti tidak punya target. Justru karena ikhlas, kita harus bekerja sungguh-sungguh dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” pesan Amin dalam forum tersebut.
Kerja Muhammadiyah Harus Terlihat di Masyarakat
Amin juga menyoroti pentingnya komunikasi publik dalam menjalankan gerakan Muhammadiyah. Ia mengingatkan agar berbagai aktivitas persyarikatan tidak hanya berlangsung secara internal dan kemudian berhenti tanpa diketahui masyarakat.
Menurut dia, setiap kegiatan dan kontribusi kader perlu dikomunikasikan serta didokumentasikan secara baik. Dengan demikian, masyarakat dapat mengetahui kerja-kerja Muhammadiyah sekaligus merasakan manfaat keberadaan persyarikatan.
Bagi Amin, publikasi kegiatan bukan sekadar upaya membangun citra organisasi. Pemberitaan justru dapat menjadi bagian dari dokumentasi gerakan dan sarana menyampaikan kontribusi Muhammadiyah kepada masyarakat.
“Kerja-kerja kita jangan hanya kita yang tahu. Masyarakat juga perlu mengetahui apa yang kita kerjakan dan apa manfaatnya,” ujarnya.
Pesan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa penguatan gerakan Muhammadiyah tidak hanya membutuhkan aktivitas di tingkat internal, tetapi juga kemampuan kader dalam mengelola komunikasi publik di tengah perubahan lingkungan sosial dan digital.
Amin Dorong IPM Lebih Massif Berkegiatan
Dalam konteks IPM, Amin berharap kader pelajar Muhammadiyah di Maros mampu meningkatkan intensitas kegiatan dan menghadirkan program yang lebih dekat dengan kebutuhan pelajar serta masyarakat.
“Saya berharap IPM lebih massif dalam berkegiatan,” ujarnya.
Menurut Amin, semangat restorasi yang menjadi tema Musyda XXI tidak cukup diwujudkan melalui perubahan struktur kepemimpinan. Restorasi harus dibuktikan melalui kerja organisasi, penguatan kaderisasi, serta kegiatan yang konsisten dan memiliki dampak.
Dengan demikian, struktur organisasi tidak berhenti sebagai perangkat administratif, tetapi menjadi instrumen untuk menggerakkan kader dan menghadirkan manfaat yang lebih luas.
Musyda XXI IPM Maros dihadiri sejumlah pimpinan Muhammadiyah dan organisasi otonom, di antaranya Ketua PDM Maros Ustadz Amin Duddin, Lc., Ketua Hizbul Wathan (HW) Maros M. Nasir, Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Maros Zulfadly Sanusi, Ketua PC Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Maros Nur Khalis Hasnung, serta Ketua PW IPM Sulawesi Selatan Fahrul Dason.
Kehadiran para pimpinan tersebut menjadi bagian dari konsolidasi organisasi dalam momentum Musyda XXI IPM Maros.
Forum ini diharapkan menjadi titik balik bagi IPM Maros untuk memperkuat konsolidasi kader, memperbaiki tata kelola organisasi, serta memperluas kontribusi di tengah pelajar dan masyarakat.
Pesan Amin dalam Musyda XXI pada akhirnya menempatkan kesungguhan dan keikhlasan sebagai dua hal yang harus berjalan bersama dalam ber-Muhammadiyah. Identitas sebagai kader tidak cukup hanya ditunjukkan melalui keanggotaan atau posisi struktural, tetapi harus dibuktikan melalui kerja yang nyata.
Bagi IPM Maros, pesan tersebut menjadi tantangan sekaligus mandat. Restorasi ikatan tidak cukup hanya dengan menata struktur, tetapi harus diwujudkan melalui gerakan yang lebih hidup, kaderisasi yang kuat, dan kerja nyata yang dapat dilihat serta dirasakan masyarakat.






















