Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

Daulat Jari atas Nalar: Kudeta Kecepatan Digital atas Akal Budi

×

Daulat Jari atas Nalar: Kudeta Kecepatan Digital atas Akal Budi

Share this article

Oleh: Irwan Akib (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

KHITTAH. CO – Dalam konteks kekinian, ketika platform digital menguasai hampir setiap detik pergerakan kita, manusia terperangkap dalam adagium, “Aku beraktivitas digital, maka aku ada.” Manifestasi paling mengkhawatirkan dari pergeseran ini adalah fenomena “Daulat Jari atas Nalar”. Sebuah kondisi ketika kecepatan motorik jempol dalam membagikan, menyukai, dan berkomentar telah mengudeta fungsi kognitif korteks prefrontal manusia yang bertugas memproses logika. Akibatnya, ruang publik digital kita tidak lagi dipenuhi oleh dialektika yang sehat, melainkan oleh histeria massa yang viral tanpa proses berpikir.

Secara struktural, media sosial memang tidak dirancang sebagai ruang kontemplasi akademik yang tenang atau ruang untuk berpikir secara jernih. Sebab, platform ini beroperasi atas dasar kecepatan. Komoditas paling berharga di era digital bukanlah kebenaran faktual, melainkan atensi dan keterikatan pengguna. Algoritma sengaja dirancang untuk mengamplifikasi konten yang mampu memicu reaksi emosional paling ekstrem, seperti amarah yang meluap atau empati yang melankolis.

Ketika sebuah konten kontroversial dilempar ke lini masa, kapitalisme pengawasan langsung mengeksploitasi sisi rentan psikologis manusia. Berdasarkan teori Daniel Kahneman, fenomena ini dapat dijelaskan sebagai affectheuristic, sebuah jalan pintas mental ketika keputusan diambil berdasarkan emosi sesaat, bukan analisis data objektif.

Di dalam otak manusia, terdapat zat kimia bernama dopamin yang mengendalikan motivasi, sistem penghargaan (reward system), dan dorongan untuk mengulangi suatu perilaku secara terus-menerus. Dopamin instan ini membuat jari kita bergerak lebih cepat daripada proses verifikasi di otak. Ketukan pada tombol bagikan menjadi katarsis emosional yang instan.

Di ruang virtual, batasan fisik dan anonimitas mengikis rasa empati alami manusia. Menghujat seseorang secara berjamaah di kolom komentar tidak lagi dirasa sebagai tindakan perundungan siber, melainkan disalahartikan sebagai aksi kolektif menegakkan keadilan moral. Terdapat pula ketakutan sosial akan eksklusi atau tertinggal dari tren (Fear of Missing Out/FOMO) jika seseorang tidak ikut bersuara, meskipun suara tersebut kosong dari substansi nalar.

Anarki digital yang digerakkan oleh daulat jari ini membawa dampak destruktif yang nyata pada struktur interaksi sosial masyarakat.

Pertama, terjadi erosi kepercayaan sosial. Ketika ruang publik digital dipenuhi oleh misinformasi yang telanjur viral, masyarakat kehilangan kompas untuk membedakan antara fakta objektif dan opini bias. Akibatnya, muncul krisis kredibilitas informasi yang melahirkan rasa saling curiga, bahkan dalam hubungan sosial skala mikro seperti komunitas lokal atau lingkungan bertetangga.

Kedua, fenomena ini mempercepat polarisasi ideologi dan fragmentasi sosial melalui pembentukan ruang gema (echochamber). Algoritma media sosial secara konsisten mengelompokkan individu dengan orang-orang yang memiliki pandangan serupa. Hal ini memperkeras bias dan menutup pintu dialog dengan kelompok yang berbeda. Isu-isu sosial atau politik dengan cepat membelah masyarakat menjadi dua kubu ekstrem yang saling menyerang tanpa mau memahami kompleksitas masalah. Solidaritas sosial yang inklusif pun luruh, digantikan oleh sentimen kelompok yang sempit.

Ketiga, publik digital hari ini dengan mudah bertindak sebagai “hakim moral” melalui aksi doksin (doxxing) atau perundungan massal kepada individu yang dituduh bersalah tanpa melalui proses hukum yang sah. Budaya boikot yang impulsif mampu menghancurkan reputasi, karier, dan kesehatan mental seseorang dalam hitungan jam hanya berdasarkan potongan video yang salah konteks, sebelum mereka sempat memberikan klarifikasi utuh. Ruang digital berubah menjadi panggung hukuman gantung modern yang bising dan kejam.

Keempat, daulat jari ini berkontribusi pada fenomena kedangkalan epistemis masyarakat atau degradasi kualitas diskusi publik. Kita menjadi generasi yang malas membaca teks panjang, alergi terhadap kompleksitas, dan terbiasa mereduksi realitas sosial yang rumit ke dalam kesimpulan moral hitam-putih yang dangkal. Ruang diskusi tidak lagi menyisakan tempat bagi nuansa. Suara para ahli yang berbasis data sering kali tenggelam oleh dominasi histeria akun-akun anonim yang sekadar mengejar sensasi dan jumlah penayangan (views).

Untuk mendekonstruksi tren yang merusak ini, strategi literasi digital tidak bisa lagi sekadar dipahami secara teknisseperti cara menyaring hoaksmelainkan harus menyentuh aspek literasi kritis dan regulasi emosi. Ketika menerima suatu informasi di media sosial, kita wajib keluar dari platform tersebut, membuka tab baru, dan memverifikasi informasi tersebut di lintas sumber kredibel sebelum memberikan penilaian.

Selain itu, intervensi psikologis yang paling mendasar adalah melatih intuisi untuk melakukan jeda kognitif. Sebelum jari menekan tombol kirim atau bagikan pada konten yang memicu emosi, berikan waktu jeda sepuluh detik bagi otak rasional untuk bekerja. Tanyakan tiga pertanyaan reflektif: Apakah informasi ini valid? Bila tidak valid, segera hapus dari gaweai Anda. Apakah ini relevan untuk disebarkan? Bila tidak segera hapus dari gawai Anda.  Dan apa konsekuensi sosiologisnya bagi keharmonisan hidup bersama? Bila menimbulkan hanya menambah masalah jangan dibagikan.

Pada akhirnya, gawai di genggaman kita harus diposisikan kembali sebagai instrumen yang tunduk pada akal budi, bukan sebaliknya. Mengembalikan kedaulatan nalar atas jari adalah sebuah perjuangan eksistensial manusia di abad digital. Di tengah arus algoritma yang terus mendesak kita untuk bergerak cepat dan dangkal, memilih untuk berhenti sejenak, berpikir, dan meragukan kepastian lini masa adalah sebuah bentuk perlawanan intelektual yang paling anggun. Jangan biarkan kecepatan jempol mengubur ketajaman nurani, empati, dan rasionalitas sosial kita.

 

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply