Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

Ahmad Imam Mujaddid, Nama yang Lahir dari Sejarah IPM hingga Kini Memimpin IPM Gowa

×

Ahmad Imam Mujaddid, Nama yang Lahir dari Sejarah IPM hingga Kini Memimpin IPM Gowa

Share this article

KHITTAH.CO, GOWA — Nama Ahmad Imam Mujaddid ternyata menyimpan cerita yang berkaitan erat dengan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Jauh sebelum ia terpilih menjadi Ketua Umum Pimpinan Daerah IPM Gowa periode 2026–2028, nama “Imam Mujaddid” telah diberikan orang tuanya sebagai penanda sebuah fase penting perjalanan IPM.

Ahmad Imam Mujaddid lahir di Sungguminasa. Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, putra pasangan Basri B Mattayang dan Nursyamsi.

Kedua orang tuanya bukan orang asing dalam lingkungan IPM. Basri dan Nursyamsi sama-sama pernah tumbuh dalam aktivitas organisasi pelajar Muhammadiyah tersebut.

Bahkan, nama Ahmad Imam Mujaddid terinspirasi dari nama Ketua Umum Pimpinan Pusat IPM periode 2004–2006. Pada periode yang sama, ayah Imam, Basri Mattayang, aktif sebagai Ketua Bidang Kader Pimpinan Wilayah IPM Sulawesi Selatan.

Bagi Basri, pemberian nama itu bukan sekadar mengambil nama seorang tokoh organisasi. Ada harapan agar nilai pembaruan, kaderisasi, dan semangat gerakan yang hidup di IPM ikut menjadi bagian dari perjalanan anak sulungnya.

“Waktu itu saya sedang aktif di PW IPM Sulawesi Selatan. Nama Imam Mujaddid sangat dekat dengan suasana perjuangan kami di IPM. Jadi ketika anak pertama kami lahir, nama itu kemudian menjadi salah satu inspirasi. Tentu harapan kami bukan supaya dia harus menjadi ketua IPM, tetapi semoga nilai-nilai kebaikan dan semangat pembaruan melekat dalam dirinya,” ujar Basri.

Dua dekade kemudian, nama yang lahir dari sejarah IPM tersebut seperti menemukan jalannya sendiri.

Dalam Musyawarah Daerah XXV IPM Gowa di Mandalle, Ahad, 13 September 2026, Ahmad Imam Mujaddid dipercaya menjadi Ketua Umum PD IPM Gowa periode 2026–2028 melalui rapat 13 anggota formatur.

Tumbuh dari Madrasah hingga Pesantren Muhammadiyah

Perjalanan pendidikan Imam juga banyak bersentuhan dengan lingkungan pendidikan Islam dan Muhammadiyah.

Ia mengawali pendidikan di MIN 1 Gowa, kemudian melanjutkan ke MTs Muhammadiyah Lempangang. Setelah itu, Imam menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara, Makassar.

Kini, ia tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Makassar (UNM).

Latar pendidikan tersebut ikut membentuk cara pandangnya terhadap organisasi. Bagi Imam, IPM bukan semata tempat belajar menjadi pengurus, tetapi ruang pembentukan karakter, kecakapan berpikir, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Ia mengaku baru semakin memahami cerita di balik namanya setelah tumbuh dan mengenal lebih jauh perjalanan kedua orang tuanya di IPM.

“Bagi saya, cerita di balik nama ini menjadi pengingat bahwa saya lahir dari keluarga yang punya kedekatan dengan IPM. Tetapi saya tidak ingin menjadikan itu sebagai beban atau sekadar romantisme masa lalu. Justru itu menjadi motivasi agar saya punya jalan pengabdian sendiri dan memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi IPM hari ini,” kata Imam.

Ia menyadari terpilih sebagai Ketua Umum PD IPM Gowa membuat cerita tersebut terasa semakin istimewa. Namun, menurutnya, amanah organisasi tidak dapat dijalankan hanya dengan mengandalkan nama maupun latar belakang keluarga.

“Nama mungkin diberikan orang tua, tetapi tanggung jawab harus kita jawab sendiri. Bagi saya, menjadi Ketua Umum IPM Gowa bukan tentang melanjutkan nama besar siapa pun. Ini tentang bagaimana kami bersama-sama membuat IPM benar-benar hadir dan dirasakan oleh pelajar di Gowa,” ujarnya.

Dari Jejak Orang Tua ke Pilihan Generasi Baru

Basri mengaku bersyukur melihat anaknya memilih aktif di IPM. Namun, ia menegaskan tidak pernah mengharuskan Imam mengikuti jejak kedua orang tuanya.

Menurutnya, setiap generasi memiliki tantangan dan medan perjuangan berbeda. IPM yang dihadapinya dua dekade lalu tentu tidak sepenuhnya sama dengan IPM yang kini berada di tengah generasi digital.

“Saya tentu senang karena Imam memilih berproses di IPM. Tapi sejak awal kami tidak pernah mengatakan bahwa karena ayah dan ibunya pernah di IPM, maka anaknya harus masuk IPM. Organisasi harus lahir dari kesadaran. Kalau pilihan itu datang dari dirinya sendiri, prosesnya akan jauh lebih kuat,” kata Basri.

Ia berharap kepemimpinan anaknya tidak terjebak pada kegiatan seremonial atau kebanggaan jabatan.

“Ketua itu bukan puncak proses kaderisasi. Justru ketika diberi amanah, di situlah ujian sebenarnya dimulai. Saya berharap Imam dan teman-temannya mampu turun ke bawah, menghidupkan cabang dan ranting, serta membuat IPM relevan dengan persoalan pelajar hari ini,” ujarnya.

Harapan itu sejalan dengan arah kepemimpinan yang diusung Imam, yakni “Akselerasi Gerakan IPM yang Membumi hingga Akar Rumput, Demi Terwujudnya Pelajar yang Cerdas dan Mencerahkan.”

Imam ingin IPM Gowa tidak hanya ramai pada momentum musyawarah, pelantikan, maupun kegiatan formal organisasi. IPM, menurutnya, harus hadir di sekolah, madrasah, komunitas, dan berbagai ruang tempat pelajar bertumbuh.

Perkaderan, literasi, kreativitas, dan gerakan sosial menjadi beberapa bidang yang ingin diperkuat selama periode kepemimpinannya.

“IPM harus menjadi rumah tempat pelajar belajar, berdiskusi, berani menyampaikan gagasan, sekaligus melakukan sesuatu untuk lingkungannya. Kalau IPM hanya dikenal oleh pengurusnya sendiri, berarti ada pekerjaan yang belum selesai,” kata Imam.

Dari sebuah nama yang terinspirasi oleh sejarah IPM dua puluh tahun silam, Ahmad Imam Mujaddid kini menulis babaknya sendiri.

Ia tidak lagi hanya membawa nama yang mempunyai hubungan dengan perjalanan organisasi pelajar Muhammadiyah. Pada usia 20 tahun, mahasiswa Pendidikan Sejarah UNM itu kini memikul amanah memimpin IPM Gowa, organisasi yang dahulu ikut membentuk perjalanan ayah dan ibunya.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply