KHITTAH.CO, MAKASSAR — Lembaga kemahasiswaan se-Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggelar aksi orasi dan teater dalam rangka memperingati September Hitam di Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Rabu, 30 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi mahasiswa untuk merawat ingatan terhadap berbagai peristiwa pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Indonesia sekaligus menyuarakan pentingnya keadilan.
September Hitam merupakan istilah yang digunakan untuk mengingat sejumlah peristiwa kelam dan kasus pelanggaran HAM yang terjadi pada bulan September di Indonesia. Sejumlah peristiwa yang kerap dikaitkan dengan momentum ini antara lain tragedi 1965, Peristiwa Tanjung Priok 1984, Tragedi Semanggi II 1999, pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib pada 2004, hingga kekerasan dalam rangkaian aksi Reformasi Dikorupsi pada September 2019.
Momentum tersebut kemudian digunakan berbagai kelompok masyarakat, termasuk mahasiswa, untuk mengingat kembali persoalan HAM dan mendorong agar tragedi masa lalu tidak dilupakan. Dalam konteks itu, aksi yang digelar lembaga se-FAI Unismuh Makassar dikemas melalui perpaduan teater, narasi, dan orasi.
Melalui pertunjukan teater dan orasi, mahasiswa menyampaikan refleksi mengenai berbagai luka kemanusiaan yang pernah terjadi. Mereka juga mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memahami sejarah secara kritis dan menjadikan pengalaman masa lalu sebagai pelajaran dalam menjaga penghormatan terhadap HAM.
Ketua Umum Terpilih Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FAI Unismuh Makassar, Nur Sidrah Sariadi, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya dimaksudkan sebagai bentuk peringatan, tetapi juga sebagai ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan sikap terhadap pentingnya keadilan dan penghormatan terhadap kemanusiaan.
“Merawat ingatan bukan sekadar mengingat peristiwa masa lalu, tetapi memastikan bahwa generasi hari ini memahami apa yang terjadi dan mengambil pelajaran darinya. Suara mahasiswa menjadi bagian dari upaya menjaga agar persoalan kemanusiaan tidak dilupakan,” ujar Nur Sidrah.
Menurut dia, mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk terus membuka ruang diskusi dan refleksi mengenai persoalan HAM. Penyampaian pesan melalui seni dan orasi, kata dia, menjadi salah satu cara mahasiswa menyampaikan kegelisahan sekaligus membangun kesadaran publik.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menegaskan bahwa ingatan adalah bentuk kepedulian. Ketika kita menolak lupa, kita sedang menjaga agar nilai kemanusiaan, keadilan, dan penghormatan terhadap hak setiap orang tetap hidup,” katanya.
Aksi tersebut ditutup dengan pesan untuk terus merawat ingatan kolektif, menolak lupa terhadap berbagai tragedi kemanusiaan, serta mendorong generasi muda untuk menjadikan sejarah sebagai pijakan dalam memperjuangkan kehidupan yang lebih menghargai hak dan martabat manusia.






















