Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

Pakar Lingkungan UM Palopo Kenalkan Metode Karantina Sampah di Kalaena Kiri Luwu Timur

×

Pakar Lingkungan UM Palopo Kenalkan Metode Karantina Sampah di Kalaena Kiri Luwu Timur

Share this article

KHITTAH.CO, LUWU TIMUR — Dosen Universitas Muhammadiyah (UM) Palopo, Ir. H. Wahyu Hidayat, ST., M.Si., IPP., IAP., CAIP., mendorong masyarakat Desa Kalaena Kiri, Kabupaten Luwu Timur, mengubah sampah rumah tangga menjadi sumber manfaat ekonomi sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Edukasi tersebut dilakukan melalui pengenalan metode Karantina Sampah, pengolahan sampah organik berbasis maggot, dan pengembangan Bank Sampah berbasis komunitas.

Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Kantor Desa Kalaena Kiri, Minggu (27/9/2026), dalam kegiatan edukasi pengelolaan sampah yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN T) Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo Posko Desa Kalaena Kiri bersama Pemerintah Desa Kalaena Kiri.

Wahyu Hidayat, yang merupakan akademisi UM Palopo sekaligus pakar Perencanaan Wilayah dan Lingkungan Hidup, hadir sebagai narasumber atas permintaan Pemerintah Desa Kalaena Kiri.

Kegiatan mengusung tema “Mengolah Sampah, Menjaga Lingkungan: Edukasi Pengelolaan Sampah Terpadu dan Pengomposan Menuju Desa Ramah Lingkungan.”

Dosen UM Palopo Kenalkan Karantina Sampah

Dalam pemaparannya, Wahyu menjelaskan persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan membuang atau memindahkannya dari satu tempat ke tempat lain. Sampah perlu dipilah dan diolah sejak dari sumbernya, terutama rumah tangga.

Berdasarkan data indikatif Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sumber sampah di Kabupaten Luwu Timur didominasi rumah tangga sebesar 39,08 persen. Sumber lainnya berasal dari pasar 19,91 persen, perkantoran 9,89 persen, serta kawasan komersial.

Dari jenisnya, sampah organik menjadi salah satu komponen terbesar. Kondisi tersebut, menurut Wahyu, sekaligus menunjukkan adanya peluang pengolahan sampah menjadi produk yang dapat dimanfaatkan kembali.

“Gerakan pengelolaan sampah terpadu merupakan wujud nyata dakwah ekologis. Sampah jika dibiarkan tanpa kelola akan menjadi sumber bencana kesehatan dan lingkungan. Namun, jika kita kelola secara terintegrasi berbasis ekonomi dan ekologi melalui pemilahan dari rumah tangga, teknologi pengomposan maggot atau BSF, dan Bank Sampah, maka limbah tersebut akan bertransformasi menjadi berkah bernilai rupiah sekaligus menjaga keberlanjutan bumi,” kata Wahyu.

Salah satu metode yang diperkenalkan adalah Karantina Sampah dengan prinsip pemilahan dan pengolahan sampah secara terpadu.

Metode tersebut mencakup pemisahan sampah organik, anorganik, dan bahan berbahaya dan beracun (B3); pengolahan sampah organik rumah tangga; pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot; produksi pupuk organik; serta pengurangan sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir.

Pengolahan sampah organik menggunakan metode tersebut dapat menghasilkan Pupuk Kompos Organik Maggot (PKOM) dan Pupuk Cair Organik Maggot (PCOM). Produk tersebut dapat dimanfaatkan untuk tanaman di pekarangan maupun kebutuhan pertanian masyarakat.

Selain menghasilkan pupuk, larva BSF juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan alternatif untuk unggas dan ikan. Skema tersebut membuka peluang agar pengelolaan sampah tidak berhenti pada aspek lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Dorong Bank Sampah Berbasis Desa

Untuk sampah anorganik seperti plastik dan kardus, Wahyu mendorong pemerintah desa dan masyarakat mengembangkan Bank Sampah berbasis komunitas.

Menurut dia, pemilahan dari rumah menjadi tahap penting karena sampah yang telah dipisahkan berdasarkan jenisnya memiliki peluang lebih besar untuk dimanfaatkan kembali atau memiliki nilai jual.

Dalam kegiatan tersebut, Wahyu juga menjelaskan pengalaman pengelolaan Bank Sampah Baruga (BSB) Yayasan Bumi Sawerigading Palopo sebagai salah satu contoh pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Konsep tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi Desa Kalaena Kiri dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat.

Kepala Desa Kalaena Kiri Hengki Wicakwono, SE., mengapresiasi keterlibatan akademisi UM Palopo dan mahasiswa KKN T UIN Palopo dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.

“Pengelolaan sampah rumah tangga adalah tantangan riil yang kami hadapi di desa. Edukasi hari ini membuka jalan terang bagi kami,” kata Hengki.

Ia mengatakan Pemerintah Desa Kalaena Kiri berkomitmen menindaklanjuti kegiatan tersebut melalui penyusunan regulasi tingkat desa terkait persampahan dan pembentukan unit Bank Sampah Desa.

Sementara itu, Koordinator Desa KKN T UIN Palopo, Supriadi Rante Pakiding, mengatakan kegiatan tersebut merupakan salah satu program pengabdian mahasiswa untuk menghadirkan solusi pengelolaan sampah yang dapat diterapkan masyarakat.

“Kami berharap ilmu dan metode pengomposan Karantina Sampah yang telah didemonstrasikan tidak hanya menjadi wacana di aula kantor desa, tetapi diadopsi secara nyata di pekarangan rumah setiap warga,” ujarnya.

Ketua Tim Penggerak PKK Desa Kalaena Kiri juga menilai metode tersebut relevan dengan aktivitas rumah tangga, khususnya dalam mengolah sisa makanan, sayuran, dan buah yang selama ini dibuang sebagai limbah.

Bagi UM Palopo, keterlibatan akademisi dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat dengan membawa kepakaran perguruan tinggi untuk menjawab persoalan lingkungan di tingkat desa.

Melalui edukasi pengelolaan sampah, pemanfaatan maggot, produksi pupuk organik, dan pengembangan Bank Sampah, masyarakat Kalaena Kiri didorong membangun sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya berorientasi pada kebersihan, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan mendukung keberlanjutan lingkungan.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner PMB UMSI

Leave a Reply