Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

Halaqah Tarjih di Unismuh Bahas AI, Ibadah, dan Budaya

×

Halaqah Tarjih di Unismuh Bahas AI, Ibadah, dan Budaya

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menjadi tuan rumah Halaqah I Tarjih Muhammadiyah Kota Makassar untuk memperkuat kajian hukum Islam atas masalah keagamaan, sosial, dan budaya, termasuk penggunaan kecerdasan buatan. Forum tersebut berlangsung di Aula I-Gift Unismuh, Makassar, Ahad, 11 Oktober 2026.

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Makassar menyelenggarakan kegiatan tersebut sebagai rangkaian persiapan Musyawarah Daerah (Musyda) Tarjih pada tanggal 17–18 Oktober 2026. Panitia menyiapkan enam pokok permasalahan untuk dibahas melalui dua halaqah, masing-masing dengan tiga pembahasan.

Kegiatan ini mengangkat tema “Aktualisasi Manhaj Tarjih di Era Digital: Respons Hukum atas Isu Keagamaan, Sosial, dan Budaya”. Salah satu fokusnya adalah penggunaan kecerdasan buatan atau kecerdasan buatan (AI) dalam representasi pengetahuan agama, yang memunculkan pertanyaan tentang otoritas keagamaan dan informasi keabsahan.

Dalam agenda Halaqah I, Prof Zulfahmi Alwi, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, ditetapkan sebagai narasumber pembahasan fenomena ustaz dan ustazah AI. Materi salat sunah tambahan pada 10 malam terakhir Ramadhan diselenggarakan disampaikan Dr KH Abbas Baco Miro. Sementara itu, KH Muh. Said Abd Shamad menjadi narasumber untuk pembahasan hukum penampilan tari-tarian perempuan.

Wakil Rektor IV Unismuh Dr Burhanuddin, yang hadir mewakili rektor, mengatakan perguruan tinggi Muhammadiyah berkomitmen menjadi pusat gerakan pemikiran Islam berkemajuan. Menurut dia, halaqah tersebut menjadi bagian dari upaya kampus mendukung pembahasan permasalahan aktual yang dihadapi masyarakat.

Burhanuddin mencontohkan tantangan penggunaan AI dalam kegiatan akademik. Ia mengatakan teknologi tersebut memberikan kemudahan, tetapi juga menyulitkan dosen dalam menilai kejujuran pekerjaan yang disampaikan siswa.

Selain teknologi, Burhanuddin menyoroti penampilan tari dalam penyambutan tokoh serta pengaturan peserta laki-laki dan perempuan pada kegiatan olahraga bersama. “Tapi kalau sudah dibahas, akan ada solusinya,” kata Burhanuddin. Ia berharap pembahasan keagamaan tetap berbasis ilmu serta menjaga tuntunan moral dan spiritual umat.

Ketua Majelis Tarjih dan Tajid PDM Kota Makassar, Dr Ilham Muchtar, yang menyampaikan laporan persiapan, menjelaskan bahwa panitia memilih persoalan yang dekat dengan kehidupan warga. “Bisa dikatakan itu adalah isu-isu lokal sebenarnya, tapi insyaallah akan banyak memberikan wawasan kepada kita,” ujar Ilham.

Menurut Ilham, Musyda Tarjih tersebut merupakan yang pertama kali diselenggarakan PDM Kota Makassar. Ia mengapresiasi kerja panitia yang berkoordinasi melalui grup percakapan, termasuk pada malam hari, untuk mempersiapkan rangkaian kegiatan.

Ilham menjelaskan bahwa persoalan yang belum terjawab dalam pembahasan daerah dapat diteruskan ke Majelis Tarjih di tingkat wilayah. “Tidak ditemukan jawaban atau solusinya, maka kami serahkan ke Majelis Tarjih Wilayah untuk berdiskusi lebih lanjut,” ujar Ilham, menjelaskan langkah-langkah ketika pembahasan menemui kebuntuan.

Ketua PDM Kota Makassar Dr Darwis Muhdina membuka kegiatan tersebut secara resmi. Dalam amanatnya, ia mengenang pengalamannya sebagai sekretaris Majelis Tarjih ketika masih mahasiswa, saat peserta membawa buku untuk memperdebatkan dasar dalil suatu pendapat.

“Jangan ada yang pergi sebelum selesai,” kata Darwis kepada peserta. Ia menyampaikan pesan tersebut sebagai amanat agar peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Pembukaan halaqah dihadiri pimpinan wilayah dan daerah Muhammadiyah, pengurus cabang dan ocehan, kalangan Aisyiyah, serta peserta pendidikan ulama. Sedangkan Musyda Tarjih direncanakan diikuti 101 peserta dari berbagai unsur persyarikatan. Panitia juga merencanakan keterlibatan utusan organisasi Islam di luar Muhammadiyah untuk memperluas dialog.

Agenda halaqah berikutnya meliputi Konvoi Jenazah di Makassar, Hukum Pengucapan Rest In Peace (RIP), serta penempatan Jenazah menghadap Kiblat dalam Kubur. Topik ketiga tersebut mempertemukan pembahasan fikih dengan etika sosial dan praktik pengurusan jenazah.

Dalam Upacara pembukaan, Ilham mengundang peserta kembali mengikuti Halaqah II pada Rabu, 14 Oktober 2026, atau tiga hari setelah Halaqah I. Pertemuan lanjutan itu akan melanjutkan pendalaman masalah sebelum Musyda Tarjih pada 17–18 Oktober 2026.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply