
KHITTAH.CO, MAKASSAR — Sustainable Waste Solutions Center (SWSC) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar mengembangkan kompos organik dalam kemasan 3 kilogram yang siap dipasarkan kepada masyarakat. Produk ini menjadi bagian dari upaya kampus mengolah sampah organik menjadi bahan yang bermanfaat sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Kompos tersebut dibuat dari bahan organik, antara lain kotoran kambing dan serasah daun, dengan memanfaatkan EM4 dan molase dalam proses pengolahannya. Produk dikemas dalam ukuran praktis agar mudah digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari perawatan tanaman hias, taman pekarangan, hingga kegiatan berkebun di rumah.
Ketua SWSC Unismuh Makassar, Dr. Fatmawati A. Mappasere, M.Si., mengatakan, pengembangan kompos merupakan bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya berfokus pada pengurangan limbah, tetapi juga menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Melalui pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos, kami ingin menunjukkan bahwa sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang. Bahan organik yang dikelola dengan baik dapat menjadi sumber daya baru yang bermanfaat bagi lingkungan sekaligus memiliki nilai ekonomi,” ujar Fatmawati saat Selasa 13 Oktober 2026.
Menurut dia, pengolahan sampah organik menjadi kompos juga merupakan penerapan prinsip ekonomi sirkular. Prinsip ini mendorong pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai guna sehingga volume sampah yang dibuang dapat dikurangi.
Mendukung Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Pengembangan kompos organik tersebut sekaligus mendukung implementasi Surat Keputusan Rektor Unismuh Makassar Nomor 494 Tahun 1447 H/2025 M tentang Pengelolaan Sampah Terintegrasi melalui Pusat Solusi Limbah Berkelanjutan (SWSC).
Melalui kebijakan tersebut, Rumah Kompos SWSC menjadi salah satu unit yang berperan dalam pengolahan sampah organik di lingkungan kampus. Bahan organik yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah diolah agar dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kebutuhan tanaman.
Fatmawati menambahkan, pengembangan produk kompos diharapkan dapat memperkuat kesadaran masyarakat bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Upaya tersebut dapat dimulai dari lingkungan rumah tangga, termasuk dengan memilah sampah organik agar lebih mudah diolah.
“Pengelolaan sampah berkelanjutan perlu dibangun melalui kebiasaan memilah dan memanfaatkan kembali sampah yang masih memiliki nilai guna. Kami berharap produk kompos ini dapat menjadi salah satu contoh bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa diwujudkan melalui tindakan sederhana yang memberikan manfaat nyata,” katanya.
Menyasar Penghobi Tanaman dan Masyarakat
Dengan kemasan 3 kilogram, kompos organik SWSC menyasar masyarakat yang membutuhkan kompos dalam jumlah praktis. Produk ini dapat dimanfaatkan oleh penghobi tanaman hias, pegiat pertanian perkotaan (urban farming), pengelola taman, komunitas lingkungan, serta masyarakat yang melakukan penghijauan di sekitar rumah.
Kehadiran produk ini juga membuka peluang bagi program lingkungan kampus untuk dikembangkan menjadi kegiatan produktif. Selain mendukung pengurangan sampah, pengolahan bahan organik menjadi kompos dapat menghasilkan produk yang berpotensi memberikan manfaat ekonomi.
SWSC berharap pemasaran kompos organik tersebut dapat memperluas partisipasi masyarakat dalam praktik pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Melalui pemanfaatan kompos, masyarakat juga diajak mendukung penggunaan kembali bahan organik yang tersedia di lingkungan sekitar.
Kompos organik SWSC Unismuh Makassar kini ditawarkan kepada masyarakat dalam kemasan 3 kilogram. Informasi mengenai harga, ketersediaan, dan pemesanan dapat diperoleh dengan menghubungi SWSC Unismuh Makassar melalui nomor 085-255-293-900, sebagaimana tercantum pada kemasan produk.
Melalui inovasi ini, SWSC Unismuh Makassar berupaya menghubungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan. Pengolahan sampah organik menjadi kompos diharapkan dapat mendorong kebiasaan baru di masyarakat, yakni mengurangi limbah sekaligus memanfaatkan kembali bahan yang masih berguna.






















