Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

Menanam Harapan, Menjemput Masa Depan Muhammadiyah (Catatan dari Rakor PWM Sulsel Jelang Tanwir Palu)

×

Menanam Harapan, Menjemput Masa Depan Muhammadiyah (Catatan dari Rakor PWM Sulsel Jelang Tanwir Palu)

Share this article

KHITTAH.CO, Makassar – Dari meja pimpinan rapat di aula, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel, Dr Muh Syaiful Saleh meminta para pengurus yang duduk di belakang untuk maju. “Jangan selalu mau di belakang, itu tanda-tanda orang mau pulang lagi.” Kalimat itu meluncur di sela urusan mengatur kursi. Di atas meja panjang, botol air mineral berjajar di antara kotak kudapan. Kain hijau berlambang Muhammadiyah menutup sisi meja. Peci hitam dan baju batik memenuhi ruangan. Suasananya akrab, tetapi yang dibicarakan bukan perkara kecil.

Rabu, 14 Oktober 2026, di lantai tiga Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Makassar, para pengurus majelis dan lembaga berkumpul menjelang Tanwir Muhammadiyah di Palu, November mendatang. Sebanyak 12 majelis dan 11 lembaga menyampaikan laporan dan usulan. Namun rapat itu perlahan berkembang menjadi semacam peta masa depan: apa yang telah tumbuh, apa yang mesti dirawat, dan siapa yang perlu diajak bekerja bersama.

Di tengah meja pimpinan, Ketua PWM Sulsel Prof Ambo Asse, berkacamata dan berpeci hitam, berbicara sambil menggerakkan tangan di dekat mikrofon. Ia mengingatkan pentingnya menghubungkan pekerjaan antarmajelis. Sebab, menurutnya, sejumlah persoalan masyarakat terlalu besar untuk dipikul satu lembaga saja. Contohnya justru datang dari pengalaman yang telah dijalankan.

Di Wajo dan Pinrang, Majelis Pemberdayaan Masyarakat, Lazismu, dan Majelis Wakaf berkolaborasi membuat sumur bor untuk lahan yang membutuhkan air. Ketua Lazismu Sulsel, Prof Mahmuddin, menceritakan tanaman jagung di Wajo yang telah tumbuh mendekati dua meter setelah fasilitas air dimanfaatkan. Di Takalar, kerja sama dan komunikasi dengan pemerintah provinsi memungkinkan bantuan traktor menjangkau petani. Bagi warga, kerja organisasi tidak hadir sebagai pidato, melainkan air yang mengalir dan alat yang membantu mengolah sawah.

“Bukan cerita, tapi kerja,” demikian penekanan Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat, Prof Rasyid Masri, ketika menjelaskan arti pendampingan tersebut. Ia juga mengingatkan bahwa bantuan tidak turun begitu saja. Janji harus dijemput dengan proposal, komunikasi, dan ketekunan di lapangan. Optimisme, dalam pengertian itu, bukan menunggu keadaan membaik. Optimisme adalah kesediaan menuntaskan pekerjaan.

Cerita serupa mengalir Ketua Lazismu, Prof Mahmuddin, melaporkan beasiswa, bantuan untuk dai di pulau-pulau Selayar, serta penyaluran 1.500 pohon durian melalui kerja sama dengan Majelis Wakaf. Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) menyiapkan penguatan usaha bagi mualaf dan mendampingi keluarga pemulung. Ketika diketahui bahwa ongkos ojek saja dapat menghalangi seseorang menghadiri pengajian, pendekatan dakwah pun diperluas menuju pemberdayaan ekonomi. Persoalan yang kecil di atas kertas ternyata menuntut empati yang besar. Demikian kisah Ketua LDK Prof Nurhidayat.

Ketua Majelis Tabligh, Dr Nurdin Mappa, membawa kabar lain. Lebih dari 700 orang mengikuti Sekolah Tabligh; sekitar 500 peserta telah lulus, menurut laporan rapat. Kini muncul gagasan agar para mubalig menjangkau masyarakat melalui pengajian, dakwah kebencanaan, dan ruang digital. Usul tentang studio dakwah sederhana serta konten pendek bukan sekadar mengikuti zaman. Di baliknya ada kebutuhan mempertemukan ajaran dengan keseharian generasi muda.

Di meja rapat yang sama, masa depan juga dibicarakan melalui sekolah dan pesantren. Sekretaris Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah, Muh Zia Ulhaq M.Pd. mengabarkan Olimpiade Ahmad Dahlan yang diikuti sekitar 8.000 pelajar Muhammadiyah se Indonesia. Kontingen Sulsel, menurut pemaparannya, menempati urutan keempat perolehan medali.

Sementara itu, Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) melaporkan, dari 31 pesantren Muhammadiyah dan Aisyiyah di Sulsel, dua pesantren—Gombara dan Ummul Mukminin—dilaporkan masuk kelompok 15 besar nasional berdasarkan jumlah santri. Tiga pesantren lainnya disiapkan mengikuti akreditasi.

Ketua LP2, KH Lukman Abd Shamad M.Pd. berharap lembaga pendidikan itu menjadi “semakin maju, semakin berprestasi, dan semakin berdampak”. Kata terakhir terasa penting. Sekolah dan pesantren tidak cukup hanya besar; keduanya diharapkan menumbuhkan manusia yang kelak menggerakkan masyarakat.

Harapan itu bertemu dengan ikhtiar di dunia pengetahuan. Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid, Prof Zulfahmi Alwi, melaporkan pihaknya tengah menyiapkan ensiklopedia hadis bertajuk At-Tanwir, dengan naskah akidah disebut telah mencapai sekitar 80 persen. Ada rencana empat jilid yang meliputi akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Belum semuanya selesai. Justru di situlah daya tariknya: forum organisasi berbicara tentang warisan ilmu yang ingin diserahkan kepada generasi berikutnya.

Sementara itu, Dr Hadisaputra, Ketua Majelis Pustaka dan Informasi, menyebut bidang kerjanya merangkum “masa lalu dan masa depan”. Masa lalu dirawat melalui buku, kajian, dan dokumentasi sejarah. Masa depan dijajaki melalui teknologi. MPI melaporkan dua buku yang telah diterbitkan, penguatan penerbitan berbadan hukum, serta uji coba penggunaan kecerdasan buatan untuk membantu memantau dan memuat informasi di laman organisasi. Pengujian itu masih berlangsung; teknologi belum menggantikan kebutuhan akan ketelitian manusia. Namun keberanian mencoba memperlihatkan organisasi yang tidak gentar memasuki ruang baru.

Pada saat bersamaan, MPI membawa angka yang mengingatkan bahwa masa depan digital tetap berpijak di kampung dan lingkungan warga. Pendataan SatuMu telah menjangkau 230 dari 247 pimpinan cabang, sekitar 93 persen. Di tingkat ranting, baru 110 dari 803 yang tercatat aktif. Masih ada 693 ranting yang perlu dikuatkan. Angka itu bisa terdengar berat. Tetapi bagi peserta rapat, ia sekaligus memberi alamat bagi pekerjaan selanjutnya: mendata kebutuhan penggerak, menyiapkan kader, lalu menghidupkan kembali pertemuan di akar rumput.

Majelis Wakaf menata fondasi yang sering luput dari perhatian: tanah dan bangunan persyarikatan. Ketua Majelis Wakaf, Dr Saleh Mollah melaporkan 602 titik aset; laporan dari sebelas daerah menemukan 122 tambahan. Sebagian masih memerlukan pembenahan dokumen kepemilikan. Penertiban itu mungkin tidak menghasilkan tepuk tangan, tetapi darinya sekolah, klinik, dan pusat pemberdayaan memperoleh pijakan yang lebih kokoh.

Peluang lain terhampar di ekonomi dan kebencanaan. Wakil Ketua Majelis Ekonomi, Anwar Enre MM melaporkan pelatihan keamanan siber bagi sekitar 2.000 pelaku UMKM serta cita-cita membentuk perusahaan induk usaha. Ketua Lembaga Resiliensi Bencana , dr Hisbullah, menceritakan pembentukan tim medis darurat bersama Unismuh dan jejaring rumah sakit, yang dapat disiapkan dalam dua kali 24 jam meski keberangkatan masih bergantung pada dukungan logistik. Keduanya berbicara tentang masa depan yang sama: kemampuan organisasi untuk mandiri sekaligus hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Menjelang akhir rapat, Ambo Asse kembali mengingatkan bahwa masa kepengurusan masih menyisakan waktu untuk mempertemukan kekuatan-kekuatan itu. “Hari ini kita berkoordinasi, berkonsolidasi, berkolaborasi,” katanya.

Ia pun memaparkan rencana gedung pengembangan sumber daya manusia 13 lantai dan Poliklinik Sehat Bahagia yang masih harus diwujudkan. Rencana-rencana itu belum menjadi bangunan selesai. Tetapi keberanian merencanakannya memperlihatkan cakrawala yang tidak berhenti pada satu periode kepengurusan.

Saat sesi foto bersama, para pengurus berlapis-lapis memenuhi depan aula. Ada yang duduk, ada yang berdiri; semua menghadap kamera. Esok, mereka kembali ke sekolah, kebun, pesantren, kantor, dan ranting masing-masing. Di sanalah ukuran keberhasilan rapat ini kelak ditemukan. Bukan pada seberapa rapi barisan dalam foto, melainkan pada berapa banyak tangan yang setelahnya bergerak bersama.

Menjelang Tanwir, Muhammadiyah Sulsel membawa sesuatu yang lebih penting daripada setumpuk laporan: keyakinan bahwa masa depan dapat dikerjakan, mulai hari ini.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner ITKESMU SIDRAP

Leave a Reply