Oleh: Dr. Maria Ulviani (Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar dan Anggota LBSO ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan)
KHITTAH.CO — Peringatan Hari Jadi ke-357 Provinsi Sulawesi Selatan pada 19 Oktober 2026 menjadi momentum penting untuk merefleksikan arah pembangunan daerah. Dengan mengusung tema “Ekonomi Tumbuh, Swasembada Pangan, Jaya Infrastruktur”, Sulawesi Selatan diharapkan terus memperkuat fondasi kesejahteraan masyarakat melalui pertumbuhan ekonomi, kemandirian pangan, dan pembangunan infrastruktur. Namun, di balik ketiga agenda tersebut, terdapat satu unsur mendasar yang tidak boleh diabaikan, yakni pembangunan manusia yang berakar pada kebudayaan, bahasa, sastra, dan daya pikir kritis.
Sebagai daerah yang memiliki kekayaan sejarah dan tradisi, Sulawesi Selatan bukan sekadar wilayah administratif dengan capaian pembangunan fisik. Daerah ini juga merupakan ruang hidup bagi nilai-nilai luhur, pengetahuan lokal, tradisi lisan, dan kebijaksanaan masyarakat yang diwariskan lintas generasi. Karena itu, kemajuan Sulawesi Selatan semestinya tidak hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi dan panjang jalan yang dibangun, tetapi juga melalui kemampuan masyarakat menjaga identitas, mengembangkan pengetahuan, serta mewariskan kebudayaan kepada generasi berikutnya.
Kritik Sastra sebagai Cara Membaca Realitas Sosial
Dalam perspektif kritik sastra, karya sastra tidak pernah sepenuhnya terpisah dari kehidupan masyarakat. Cerita rakyat, puisi, novel, dan tradisi lisan menyimpan rekaman pengalaman manusia, relasi sosial, pergulatan nilai, hingga persoalan keadilan dan lingkungan. Sastra menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk membaca dirinya sendiri, memahami perubahan zaman, dan mempertanyakan berbagai persoalan yang kerap dianggap biasa.
Sulawesi Selatan memiliki kekayaan sastra dan tradisi lisan yang dapat menjadi sumber pembelajaran sosial. Nilai-nilai dalam *pappaseng* masyarakat Bugis, misalnya, mengandung pesan moral tentang kejujuran, tanggung jawab, keberanian, dan kehormatan. Tradisi tutur masyarakat Makassar, Mandar, dan Toraja juga memperlihatkan bagaimana bahasa menjadi medium pewarisan identitas dan pengetahuan kolektif.
Kekayaan tersebut perlu ditempatkan sebagai sumber daya kebudayaan yang hidup, bukan sekadar peninggalan masa lalu. Melalui kritik sastra, generasi muda dapat belajar menafsirkan nilai-nilai tradisi secara kontekstual, membedakan kebijaksanaan yang relevan dengan tantangan masa kini, serta mendiskusikan praktik sosial yang perlu diperbaiki.
Dengan demikian, kritik sastra bukan hanya aktivitas akademik untuk menilai keindahan karya. Kritik sastra juga merupakan latihan berpikir kritis, membaca realitas, menguji nilai, dan membangun kepekaan kemanusiaan. Kemampuan semacam ini sangat penting agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi juga mampu memahami, mengawasi, dan memberikan makna terhadap arah perubahan daerahnya.
Swasembada Pangan Membutuhkan Kesadaran Budaya
Agenda swasembada pangan dalam tema Hari Jadi Sulawesi Selatan patut dipahami lebih luas daripada sekadar peningkatan produksi pertanian. Kemandirian pangan juga berkaitan dengan keberlanjutan pengetahuan lokal, penghormatan terhadap petani, perlindungan lingkungan, dan kemampuan masyarakat mempertahankan hubungan yang sehat dengan tanah serta sumber daya alam.
Dalam karya sastra, kehidupan petani, hubungan manusia dengan alam, dan perjuangan mempertahankan ruang hidup sering menjadi persoalan penting. Melalui pembacaan kritis terhadap karya-karya tersebut, masyarakat dapat memahami bahwa pangan bukan hanya komoditas ekonomi, melainkan juga bagian dari kebudayaan, identitas, dan keberlangsungan kehidupan.
Karena itu, pembangunan pangan perlu berjalan bersama penguatan literasi kebudayaan. Sekolah, perguruan tinggi, komunitas literasi, dan organisasi perempuan dapat berkolaborasi mendokumentasikan cerita petani, pengetahuan pangan lokal, tradisi pertanian, serta pengalaman perempuan dalam menjaga ketahanan pangan keluarga dan komunitas.
Perempuan memiliki posisi strategis dalam proses tersebut. Pengalaman mereka dalam mengelola pangan, mewariskan pengetahuan keluarga, dan menjaga keberlanjutan kehidupan sosial merupakan modal penting bagi pembangunan daerah. Melalui gerakan literasi dan kebudayaan, pengalaman tersebut dapat diangkat menjadi pengetahuan publik yang bernilai.
Infrastruktur Fisik dan Infrastruktur Intelektual
Pembangunan infrastruktur merupakan kebutuhan mendasar untuk memperkuat konektivitas dan membuka kesempatan ekonomi. Akan tetapi, infrastruktur fisik perlu disertai infrastruktur intelektual yang memungkinkan masyarakat mengakses pengetahuan, mengembangkan kreativitas, dan berpartisipasi dalam kehidupan publik.
Perpustakaan, ruang baca, pusat kebudayaan, komunitas sastra, serta akses terhadap teknologi digital merupakan bagian dari ekosistem pembangunan manusia. Kehadiran fasilitas tersebut perlu diikuti program literasi yang berkelanjutan agar masyarakat tidak hanya memiliki akses informasi, tetapi juga mampu memahami dan mengevaluasi informasi secara bertanggung jawab.
Dalam dunia digital yang dipenuhi arus informasi cepat, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting. Masyarakat perlu memiliki kecakapan untuk membedakan fakta dan opini, mengenali disinformasi, serta memahami kepentingan yang mungkin tersembunyi di balik suatu pesan. Di sinilah pendidikan bahasa dan sastra memiliki peran strategis.
Sebagai dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Muhammadiyah Makassar, saya memandang pembelajaran bahasa dan sastra perlu terus diarahkan untuk membentuk manusia yang cakap berkomunikasi, peka terhadap persoalan sosial, dan bertanggung jawab dalam menggunakan pengetahuan. Sastra dapat menjadi medium untuk membangun empati, sedangkan kritik sastra melatih keberanian intelektual dalam mempertanyakan realitas berdasarkan argumentasi.
Perempuan, Kebudayaan, dan Masa Depan Sulawesi Selatan
Dalam konteks gerakan perempuan, peran Lembaga Budaya, Seni, dan Olahraga (LBSO) ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan menjadi relevan untuk memperkuat pembangunan yang berorientasi pada manusia. Kebudayaan, seni, dan olahraga dapat menjadi ruang pemberdayaan, pembentukan karakter, serta pengembangan partisipasi perempuan dalam kehidupan masyarakat.
Perempuan tidak seharusnya ditempatkan hanya sebagai penerima manfaat pembangunan. Mereka perlu memperoleh ruang yang setara sebagai penghasil pengetahuan, penggerak kebudayaan, pendidik, dan pengambil keputusan. Keterlibatan perempuan dalam literasi, pelestarian tradisi, pengembangan seni, dan pendidikan keluarga merupakan bagian penting dari upaya membangun masyarakat yang berdaya.
Momentum Hari Jadi ke-357 Sulawesi Selatan sepatutnya mendorong pemerintah daerah, perguruan tinggi, sekolah, dan organisasi masyarakat untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. Program pembangunan ekonomi, ketahanan pangan, dan infrastruktur perlu terhubung dengan agenda pendidikan, literasi, pelestarian bahasa daerah, serta pengembangan kebudayaan lokal.
Pada akhirnya, kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat pembangunan dilaksanakan, tetapi juga oleh seberapa kuat masyarakat memahami tujuan pembangunan tersebut. Sulawesi Selatan membutuhkan generasi yang tidak tercerabut dari akar budayanya, tetapi mampu berdiri tegak menghadapi perubahan zaman dengan ilmu pengetahuan, karakter, dan daya kritis.
Memasuki usia ke-357 tahun, Sulawesi Selatan memiliki kesempatan untuk menegaskan bahwa kemajuan ekonomi, kemandirian pangan, dan pembangunan infrastruktur harus berjalan seiring dengan kemajuan kebudayaan dan kualitas manusia. Sebab, daerah yang besar bukan hanya daerah yang mampu membangun, melainkan juga daerah yang sanggup menjaga ingatan kolektif, merawat keberagaman, dan menumbuhkan harapan bagi generasi mendatang.
Selamat Hari Jadi ke-357 Provinsi Sulawesi Selatan, 19 Oktober 2026. Semoga Sulawesi Selatan terus tumbuh sebagai daerah yang maju secara ekonomi, mandiri dalam pangan, kuat infrastrukturnya, serta kaya dalam kebudayaan dan kebijaksanaan.
“Pembangunan membangun jalan menuju masa depan, tetapi bahasa, sastra, dan kebudayaan menjaga agar kita tidak kehilangan arah. Sebab, kemajuan sejati bukan hanya tentang seberapa tinggi kita melangkah, melainkan juga seberapa kuat kita berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan.”Membaca Masa Depan Sulawesi Selatan melalui Sastra dan Kebudayaan






















