KHITTAH.CO, MAKASSAR — Politeknik Muhammadiyah (PoltekMu) Makassar memperkuat komitmennya dalam menghasilkan tenaga kesehatan yang kompeten, profesional, dan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja. Komitmen tersebut tercermin dari capaian akademik tahun 2025/2026 dengan meluluskan sebanyak 250 mahasiswa dari empat program studi kesehatan, serta tingkat penyelesaian studi tepat waktu mencapai 80 persen.
Capaian itu disampaikan Direktur PoltekMu Makassar, Prof Dr KH Mustari Bosra, MA, dalam Rapat Senat Terbuka Wisuda Ke-8 PoltekMu Makassar yang berlangsung di Sandeq Ballroom Claro Hotel Makassar, Kamis (22/10/2026).
Mustari mengatakan, keberhasilan pendidikan vokasi tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah mahasiswa yang menyelesaikan pendidikan, tetapi juga kemampuan lulusan menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam lingkungan kerja profesional.
“Dalam pendidikan vokasi, keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah lulusan, tetapi juga dari kemampuan mereka menerapkan ilmu dan keterampilan dalam dunia kerja,” ujar Mustari.
Menurut dia, pendidikan vokasi memiliki tanggung jawab untuk memastikan kompetensi yang diperoleh mahasiswa selama perkuliahan dapat memberikan manfaat nyata, terutama dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Karena itu, penguasaan pengetahuan akademik perlu diimbangi keterampilan praktis, sikap profesional, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan perkembangan kebutuhan dunia kerja.
Mustari mengungkapkan, lulusan PoltekMu Makassar telah berkiprah di berbagai rumah sakit, baik di Sulawesi Selatan maupun di luar provinsi tersebut. Keberadaan alumni dalam lingkungan pelayanan kesehatan menjadi salah satu gambaran penerapan kompetensi yang diperoleh selama menempuh pendidikan.
Ia berharap para lulusan terus menjaga profesionalisme, menjunjung tinggi etika, serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat di mana pun mereka bekerja.
Capaian Akademik dan Ketepatan Waktu Studi
Pada tahun akademik 2025/2026, sebanyak 250 mahasiswa PoltekMu Makassar berhasil menyelesaikan pendidikan dari empat program studi diploma tiga yang berorientasi pada pengembangan kompetensi di bidang kesehatan.
Program Studi D3 Radiologi mencatat jumlah lulusan terbanyak, yakni 139 orang. Selanjutnya, D3 Teknologi Elektromedis meluluskan 58 mahasiswa, D3 Teknologi Laboratorium Medis sebanyak 40 mahasiswa, dan D3 Sanitasi sebanyak 13 mahasiswa.
Dari sisi capaian akademik, indeks prestasi kumulatif (IPK) rata-rata lulusan mencapai 3,64, sedangkan IPK tertinggi tercatat sebesar 3,97.
Sementara itu, sekitar 80 persen lulusan berhasil menyelesaikan pendidikan tepat waktu, dengan rata-rata masa studi kurang lebih tiga tahun.
Capaian tersebut menunjukkan hasil penyelenggaraan pendidikan PoltekMu Makassar dalam mendampingi mahasiswa menyelesaikan studi sesuai masa pendidikan yang direncanakan.
Namun, Mustari menekankan bahwa capaian akademik harus dibarengi dengan kemampuan menerapkan keterampilan dalam situasi kerja yang sesungguhnya.
Dalam bidang kesehatan, lulusan tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mampu bekerja secara teliti, mengikuti prosedur profesional, dan menjalankan tanggung jawab yang berkaitan dengan keselamatan pasien maupun masyarakat.
Keempat program studi di PoltekMu Makassar memiliki bidang kompetensi yang saling melengkapi dalam pelayanan kesehatan. Radiologi berperan dalam pemeriksaan pencitraan medis, teknologi laboratorium medis mendukung pemeriksaan diagnostik, teknologi elektromedis berkaitan dengan pengelolaan peralatan kesehatan, sedangkan sanitasi berkontribusi terhadap kesehatan lingkungan.
Keberagaman bidang kompetensi tersebut menjadi modal bagi PoltekMu Makassar dalam menyiapkan sumber daya manusia untuk berbagai kebutuhan pelayanan kesehatan.
Perkuat Mutu Dosen untuk Mendukung Kualitas Lulusan
Selain meningkatkan kompetensi mahasiswa, PoltekMu Makassar juga menempatkan penguatan kualitas tenaga pendidik sebagai salah satu prioritas pengembangan institusi.
Mustari menyampaikan bahwa pada periode ini terdapat dua dosen yang telah menyelesaikan pendidikan doktor atau strata tiga (S-3). Sementara itu, tujuh dosen lainnya sedang menempuh pendidikan doktoral.
Peningkatan kualifikasi akademik juga diikuti bertambahnya jumlah dosen yang memperoleh sertifikasi pendidik. Tercatat empat dosen tambahan telah tersertifikasi sehingga secara keseluruhan sekitar 70 persen dosen PoltekMu Makassar telah memiliki sertifikasi pendidik.
Menurut Mustari, penguatan kualitas dosen diharapkan mampu meningkatkan mutu pembelajaran, penelitian, serta relevansi pendidikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan dunia kerja.
Peningkatan kualifikasi akademik tenaga pendidik menjadi penting karena perkembangan teknologi kesehatan menuntut perguruan tinggi terus memperbarui pengetahuan dan pendekatan pembelajaran.
Dengan tenaga pendidik yang semakin berkualitas, PoltekMu Makassar berupaya memperkuat penyelenggaraan pendidikan vokasi yang menghubungkan penguasaan teori dengan keterampilan profesional.
Profesionalisme dan Integritas Tenaga Kesehatan
Selain kompetensi teknis, pembentukan karakter profesional menjadi perhatian dalam menyiapkan lulusan PoltekMu Makassar menghadapi dunia kerja.
Ketua Badan Pembina Harian (BPH) PoltekMu Makassar, Prof Dr KH Arifuddin Ahmad, MAg, mengingatkan bahwa pekerjaan di bidang kesehatan memiliki tanggung jawab besar karena berkaitan langsung dengan keselamatan manusia.
Menurut dia, penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan perlu dibarengi keimanan, akhlak, integritas, dan kepedulian terhadap masyarakat.
Setiap bidang profesi kesehatan memiliki kontribusi dalam menjaga keselamatan dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Karena itu, tenaga kesehatan dituntut tidak hanya memiliki kemampuan profesional, tetapi juga kejujuran serta tanggung jawab dalam menjalankan pekerjaannya.
Pesan mengenai pentingnya kesiapan menghadapi dunia kerja juga disampaikan Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Dzulfikar Ahmad Tawalla, yang hadir dalam wisuda tersebut.
Dzulfikar mengingatkan bahwa perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), telah membawa perubahan besar terhadap kebutuhan keterampilan di berbagai sektor pekerjaan.
Menurut dia, lulusan perguruan tinggi tidak boleh berhenti belajar setelah memperoleh ijazah. Kemampuan memperbarui pengetahuan, beradaptasi dengan teknologi, dan membangun karakter yang baik menjadi bekal penting untuk menghadapi persaingan kerja.
Ia juga menyoroti terbukanya peluang kerja tenaga kesehatan Indonesia di sejumlah negara. Kesempatan tersebut menuntut kesiapan kompetensi, kemampuan bahasa asing, serta pemahaman terhadap standar dan budaya kerja internasional.
Bagi lulusan pendidikan vokasi kesehatan, perubahan tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan untuk terus mengembangkan keterampilan agar tetap relevan dengan kebutuhan pekerjaan.
Pendidikan Vokasi yang Relevan dengan Kebutuhan Masyarakat
Mustari menegaskan, peningkatan mutu pendidikan merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan komitmen seluruh unsur perguruan tinggi.
“Kami menyadari bahwa peningkatan mutu merupakan proses keberlanjutan yang membutuhkan komitmen seluruh civitas akademika,” katanya.
Menurut dia, berbagai capaian akademik yang telah diperoleh harus terus dipertahankan, sedangkan kekurangan yang masih ditemukan perlu diperbaiki secara terencana.
Komitmen tersebut menjadi landasan bagi PoltekMu Makassar untuk terus memperkuat kualitas pendidikan vokasi, khususnya dalam menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai bidang keahlian dan mampu memberikan kontribusi dalam pelayanan kesehatan.
Dengan 250 lulusan pada tahun akademik 2025/2026, capaian ketepatan waktu studi sebesar 80 persen, serta penguatan kualitas dosen, PoltekMu Makassar memiliki modal untuk melanjutkan pengembangan institusi.
Tantangan selanjutnya adalah memastikan capaian akademik tersebut beriringan dengan kesiapan lulusan menghadapi tuntutan pekerjaan, perkembangan teknologi medis, dan standar profesional pelayanan kesehatan.
Bagi PoltekMu Makassar, keberhasilan pendidikan vokasi pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh banyaknya ijazah yang diberikan, melainkan juga oleh kemampuan para lulusan menerapkan ilmu, menjaga profesionalisme, dan memberikan pelayanan yang bermanfaat bagi masyarakat.






















