Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

Kepala Humas Unismuh Bekali Calon Anggota LPM Axial FK Unismuh Keterampilan Menulis Berita

×

Kepala Humas Unismuh Bekali Calon Anggota LPM Axial FK Unismuh Keterampilan Menulis Berita

Share this article
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar mengikuti pelatihan penulisan dan penyuntingan

KHITTAH.CO, MAKASSAR — Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) mengikuti pelatihan penulisan dan penyuntingan berita di Warung Kopi Bundu Aroeppala, Jalan Aroeppala, Makassar, Senin, 2 November 2026.

Kegiatan yang merupakan bagian dari penerimaan anggota baru Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Axial itu bertujuan membekali mahasiswa dengan keterampilan jurnalistik melalui pembelajaran teknik penulisan, pengolahan data, dan etika peliputan.

Kepala Humas Unismuh Makassar, Hadisaputra, yang akrab disapa Hadi, hadir sebagai pemateri dengan mengulas tahapan kerja jurnalistik, mulai dari menentukan sudut pandang berita hingga menyunting naskah sebelum diterbitkan. Melalui contoh reportase dan pengalaman penulisan berita, ia mengajak peserta memahami pentingnya ketelitian, kemampuan mengamati, serta keterampilan mengajukan pertanyaan dalam menghasilkan karya jurnalistik.

Hadi menjelaskan bahwa kemampuan menulis tidak hanya dibutuhkan oleh mahasiswa yang ingin menjadi wartawan, tetapi juga bermanfaat bagi calon tenaga medis. Menurut dia, dokter yang memiliki keterampilan menulis dapat menyampaikan pengalaman profesinya, menjelaskan persoalan kesehatan kepada masyarakat, serta membangun kepedulian terhadap pasien yang membutuhkan bantuan.

Ia menilai keterampilan jurnalistik memiliki hubungan dengan kemampuan memahami pengalaman manusia, termasuk ketika seseorang menghadapi penyakit. Karena itu, mahasiswa kedokteran perlu mengembangkan kepekaan terhadap persoalan sosial sekaligus kemampuan menyampaikan informasi secara akurat dan mudah dipahami masyarakat.

Menulis Berita dengan Data dan Pengamatan

Dalam pemaparannya, Hadi memperkenalkan konsep melukis dengan kata, yakni kemampuan menggambarkan peristiwa melalui detail konkret sehingga pembaca dapat membayangkan situasi yang diberitakan. Ia menggunakan reportase berjudul “Di Bawah Pohon Durian” karya Farid Gaban, yang terbit pada 14 Januari 1996, sebagai contoh kekuatan pengamatan dan pemilihan detail dalam penulisan jurnalistik.

Melalui contoh tersebut, Hadi menerangkan bahwa penulis sebaiknya tidak hanya menggunakan kata sifat untuk menggambarkan suasana suatu peristiwa. Penulis perlu menghadirkan fakta, tindakan, keadaan, dan informasi terukur agar pembaca dapat memahami peristiwa berdasarkan bukti yang disampaikan.

“Kekuatan berita adalah kemampuan kita menangkap sebanyak mungkin data,” kata Hadi saat menyampaikan materi.

Ia mencontohkan bahwa sebuah konser tidak cukup digambarkan sebagai acara yang heboh, tetapi perlu disertai informasi mengenai jumlah penonton, harga tiket, dan situasi di lokasi kegiatan.

Baca Juga: Segera Hadir Lembaga Pers Mahasiswa IKOMPOST di Prodi Komunikasi Unismuh Makassar

Menurut Hadi, penguasaan data membantu wartawan menyusun berita yang lebih informatif sekaligus memudahkan pembaca memeriksa kebenaran informasi. Ia juga mengingatkan bahwa pengamatan harus dibatasi pada fakta yang benar-benar ditemukan, bukan dugaan mengenai pikiran atau perasaan orang yang diliput.

Berita Bukan Sekadar Laporan Kegiatan

Hadi selanjutnya menguraikan tahapan kerja jurnalistik yang mencakup penentuan fokus, pengumpulan informasi, wawancara, penulisan, dan penyuntingan. Ia menekankan bahwa wartawan perlu menemukan informasi paling penting bagi masyarakat, bukan sekadar menyusun kembali rangkaian kegiatan berdasarkan urutan acara.

“Berita itu bukan laporan kegiatan,” ujarnya.

Menurut Hadi, penulisan berita harus mengutamakan informasi yang memiliki nilai dan manfaat bagi pembaca, termasuk dampak suatu kegiatan terhadap masyarakat.

Untuk memperjelas penjelasannya, ia menggunakan contoh pelatihan hidroponik bagi anak-anak panti asuhan. Berita mengenai kegiatan tersebut, menurut dia, akan lebih bermakna apabila penulis menjelaskan manfaat keterampilan hidroponik bagi peserta, bukan hanya menyebutkan pihak penyelenggara dan pelaksanaan acara.

Hadi juga mengingatkan pentingnya prinsip 5W+1H, yakni what, who, when, where, why, dan how, dalam menggali informasi. Keenam unsur tersebut membantu penulis menyusun pertanyaan yang terarah sehingga berita mampu menjelaskan peristiwa secara lengkap.

“Tulisan itu adalah jawaban atas pertanyaan,” kata Hadi.

Ia menjelaskan bahwa kualitas tulisan sangat bergantung pada ketepatan pertanyaan, kecermatan pengumpulan informasi, serta kemampuan penulis menguji kembali fakta yang diperoleh.

Menjaga Akurasi dan Etika Jurnalistik

Selain teknik penulisan, Hadi menyoroti pentingnya menjaga akurasi identitas narasumber dan keaslian kutipan langsung. Ia mencontohkan penulisan namanya sendiri yang harus ditulis serangkai karena kesalahan penulisan nama dapat memengaruhi ketepatan informasi yang diterbitkan.

Menurut dia, penyuntingan berita tidak boleh mengubah makna maupun karakter pernyataan narasumber. Wartawan harus menjaga agar kutipan tetap mencerminkan pesan yang disampaikan, sekaligus memastikan setiap informasi telah melalui proses pemeriksaan yang memadai.

Etika dalam pengumpulan informasi juga menjadi perhatian dalam pelatihan tersebut, khususnya terkait persetujuan narasumber sebelum proses perekaman. Hadi mengingatkan bahwa kegiatan jurnalistik harus dilakukan secara terbuka dan tetap menghormati hak orang yang menjadi sumber informasi.

“Kita bukan intelijen,” kata Hadi ketika menekankan pentingnya meminta izin sebelum merekam pembicaraan.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi mahasiswa kedokteran bahwa penyampaian kisah pasien kepada publik harus mempertimbangkan privasi, persetujuan, dan kepentingan orang yang bersangkutan.

Bekal bagi Calon Anggota Pers Mahasiswa

Pelatihan penulisan dan penyuntingan berita ini merupakan bagian dari rangkaian pembekalan calon anggota LPM Axial yang diselenggarakan pengurus periode 2025/2026. Sebelum sesi tersebut, peserta mendapatkan materi pengantar jurnalistik serta perencanaan peliputan dan wawancara.

Rangkaian materi itu dirancang untuk memperkenalkan proses kerja jurnalistik secara bertahap, mulai dari memahami dasar pemberitaan hingga mengolah informasi menjadi naskah yang layak diterbitkan. Melalui pembekalan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan keterampilan menulis, berpikir kritis, dan menyampaikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa pembelajaran jurnalistik dapat melengkapi pendidikan kedokteran, terutama dalam membangun kemampuan mengamati, mendengarkan, dan menjelaskan persoalan secara sistematis.

Bekal tersebut diharapkan menjadi dasar bagi calon anggota LPM Axial untuk mengembangkan pers mahasiswa yang mengutamakan akurasi, etika, serta kepentingan pembaca.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply