KHITTAH.CO, MAKASSAR – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Makassar menggelar Pengajian Ramadan 1447 H untuk memperkuat peran Cabang, Ranting, dan Masjid sebagai pusat relasi sosial gerakan Islam.
Kegiatan ini bertujuan menegaskan kembali posisi ketiga elemen tersebut sebagai ujung tombak dakwah dan penentu keberlangsungan organisasi di tingkat akar rumput.
Acara yang menghadirkan Wakil Ketua PDM Makassar, Abd. Haris Azis, S.Ag., M.Pd.I sebagai narasumber ini berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah (Pusdim) Makassar, Sabtu, 7 Maret 2026.
Dalam paparannya, Abd. Haris Azis menjelaskan bahwa hidup matinya Muhammadiyah sangat bergantung pada eksistensi dan keaktifan di tingkat ranting serta masjid.
Ia menyebut bahwa birokrasi di tingkat pusat hanyalah sistem administrasi, namun ruh gerakan yang sesungguhnya berada di basis massa.
“Bila Cabang, Ranting, dan Masjid Muhammadiyah mati, maka Muhammadiyah sebagai gerakan sesungguhnya telah mati meskipun pimpinan di tingkat pusat hingga daerah masih aktif,” ujar Abd. Haris Azis saat menyampaikan materi di hadapan para peserta.
Sebagai langkah konkret penguatan ekonomi, PDM Makassar menginisiasi program kolaborasi dengan Majelis Ekonomi untuk pengadaan “Muhammadiyah Mart” (Mart). Program ritel ini direncanakan akan hadir di setiap lingkup Pimpinan Daerah untuk menyokong kemandirian organisasi.
Mekanisme kerja sama ini dirancang untuk memudahkan pengelola di tingkat daerah dalam menjalankan unit usaha.
Pihak PDM cukup menyiapkan lokasi strategis, sementara pengisian stok barang dan manajerial toko akan dikelola oleh Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) wilayah dengan sistem bagi hasil.
Abd Haris yang juga Dosen Poltekkesmu Makassar menekankan bahwa masjid harus menjadi pusat peradaban yang makmur dan memakmurkan jemaahnya. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga menjadi pusat pelayanan sosial dan penguatan ekonomi bagi warga sekitar.
“Ranting itu penting untuk interaksi langsung, Cabang harus berkembang untuk memastikan dakwah mencerahkan, dan masjid harus makmur dengan melibatkan anak muda,” ungkap Haris menjelaskan esensi gerakan di tingkat bawah.
Landasan normatif gerakan ini merujuk pada beberapa ayat Al-Qur’an, di antaranya Surah Al-Asr tentang urgensi waktu dan Surah Al-Ma’un sebagai dasar kepedulian sosial. Selain itu, konsep Hablumminallah dan Hablumminannas diambil dari Surah An-Nisa ayat 162 dan Ali Imran ayat 112.
Dalam menjalankan misi dakwahnya, Muhammadiyah menggunakan tiga pendekatan utama, yakni Bayani (tekstual), Burhani (kontekstual), dan Irfani (hati nurani). Ketiga pendekatan ini digunakan untuk memastikan gerakan tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar nilai Islam.
Wakil Ketua PDM Makassar tersebut juga menambahkan bahwa Muhammadiyah yang kuat adalah Muhammadiyah yang berbasis pada umat atau jemaah di tingkat bawah. Ia mengutip istilah dari masa KH. Ahmad Dahlan yang menyebut Ranting sebagai “gerombolan” karena sifatnya yang guyub dan solid.
“Masjid dan pesantren adalah batang tubuh Muhammadiyah yang tidak boleh dinomorduakan dalam kondisi apa pun,” tegasnya saat menutup sesi kutipan materi dari tokoh-tokoh persyarikatan.
Melalui pengajian ini, LPCRPM PDM Makassar bersama pimpinan wilayah menargetkan pembentukan Cabang dan Ranting unggulan di seluruh wilayah
Hal ini dilakukan guna memenuhi amanah Muktamar untuk mewujudkan pendirian Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) di 60 persen kecamatan dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) di 40 persen desa/kelurahan.
Diharapkan, penguatan basis ini dapat menambah jumlah anggota dan simpatisan Muhammadiyah secara signifikan di Kota Makassar.
PDM Makassar berkomitmen untuk terus menjadikan masjid sebagai solus dari setiap persoalan sosial yang dihadapi oleh umat.





















