
KHITTAH.CO, MAKASSAR — Empat hari tiga malam, tanpa jarak jabatan, dan tanpa ruang untuk sekedar menjadi penonton. Di Balai Sidang Muktamar Ke-47 Universitas Muhammadiyah ( Unismuh ) Makassar, Darul Arqam Gelombang II resmi ditutup, Selasa, 6 Januari 2026. Acara ini tidak hanya menutup sebuah pelatihan, tetapi membuka kembali pertanyaan mendasar, hingga mana civitas akademika Muhammadiyah siap melibatkan iman, disiplin, dan kerja profesional dalam satu tarikan napas kaderisasi.
Pada sesi penutupan, Master of Training, Muhammad Irfan Islami, melaporkan bahwa proses perkaderan tidak berhenti pada seremoni penerimaan syahadah, melainkan diteruskan melalui rencana tindak lanjut ( RTL ) yang wajib dijalankan peserta sebagai bentuk “amal nyata” pascapelatihan.
Pada penutupan forum itu pula, Irfan menyerahkan dokumen RTL peserta kepada Rektor Unismuh Makassar. “Kami serahkan daftar nama, beserta dokumen RTL yang ditulis oleh peserta,” di hadapan pimpinan universitas. Bagi Unismuh, penguatan kader bukan sekadar memperkaya pengetahuan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, melainkan pembentukan lembaga watak: disiplin ibadah, etos kerja, dan loyalitas pada misi Persyarikatan.
“Detoks” dari rute
Kepala Subdirektorat Humas Unismuh Makassar, Dr. Hadisaputra, yang menjadi salah satu peserta, menyebut Darul Arqam sebagai “ruang pemulihan” bagi aktivisme, bukan hanya dari rutinitas kerja, tetapi juga dari kenyamanan yang kerap membius kepekaan kader. Ia menggambarkan keluaran paling penting dari empat hari itu bukan sekadar sertifikat, melainkan energi baru untuk menata ulang orientasi hidup sebagai civitas akademika Muhammadiyah.
“Kami dapat semangat yang baru untuk menjalani kehidupan profesional kami sebagai civitas akademika Universitas Muhammadiyah Makassar,” kata Hadisaputra.
Dalam kesannya, ia juga menekankan keinginan kaderisasi sebagai “mesin” yang menjaga Muhammadiyah tetap hidup. Baginya, orang-orang hebat bisa datang dan pergi, tetapi proses perkaderan tidak boleh berhenti, bahkan alumni Darul Arqam memikul kewajiban melahirkan kader-kader baru.
Ruang perjumpaan lintas peran
Hal serupa disampaikan Dr. Amirah Mawardi, Dekan Fakultas Agama Islam Unismuh, yang mewakili peserta perempuan. Ia menyoroti suasana forum yang mencakup lengkap pimpinan universitas dan terpenuhinya kebersamaan selama tiga malam empat hari. Bagi Amirah, Darul Arqam menghadirkan perjumpaan lintas latar, yang selama ini, dalam banyak forum, sering dipisahkan oleh sekat jabatan dan unit kerja.
Ia menuturkan bahwa waktu empat hari terasa “sangat singkat”, tetapi cukup untuk memaksa peserta keluar dari pola lama, dari ruang kerja yang cepat menuju ruang pelatihan yang menuntut disiplin, keseragaman jadwal, dan kesediaan belajar ulang.
Evaluasi: kenaikan skor dan catatan penyelenggaraan
Pada sisi evaluasi, laporan menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar, khususnya pada kelas B: nilai rata-rata kognitif naik dari 67 (pre-test) menjadi 80 (post-test), dengan nilai tertinggi mencapai 100. Sementara itu, aspek psikomotorik mencatat nilai tertinggi 93 dengan rata-rata 85, dan aspek afektif memiliki nilai tertinggi 97 dengan rata-rata 82.
Rencana Tindak Lanjut
Bagian yang paling ditekankan dalam laporan Master of Training adalah Rencana Tindak Lanjut (RTL). Irfan menyebut RTL sebagai tugas yang melekat pada peserta, baik yang dirancang pribadi maupun yang disusun panitia-instruktur. RTL pribadi mencakup peningkatan kualitas keislaman, profesionalisme, serta partisipasi aktif dalam Muhammadiyah pada tingkat cabang-ranting; setiap peserta menulis rencana kegiatannya dan mendokumentasikan sebagai bukti pelaksanaan.
Dengan skema RTL ini, Darul Arqam tidak berhenti sebagai pelatihan di kelas, melainkan diproyeksikan sebagai mekanisme perubahan perilaku, mendorong nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan hadir dalam kerja sehari-hari, tata kelola unit kerja, serta tradisi akademik kampus.
Peserta berprestasi: disiplin, aktif, hingga “terlucu”
Di penghujung acara, panitia juga mengumumkan peserta berprestasi dari dua kelas. Untuk kelas A, peserta terbaik berturut-turut diraih Abdillah S., S.Pd.I., MA (nilai akhir 92), Nasharuddin, S.Pd., M.Si (91), dan Agusdiwana Suarni, SE, M.Acc (90). Sedangkan kategori non-akademik diberikan kepada Dr. Amirah Mawardi, S.Ag., M.Si (terdisiplin), Dr. Ferdinan, S.Pd.I., M.Pd.I (teraktif), serta Syamsuddin, S.Sos., M.AP (terlucu).
Untuk kelas B, peserta terbaik diraih Dr. Ir. Muhammad Yunus Ali, ST, MT (nilai akhir 95), disusul Dr. H. Syamsiarna Nappu, S.Pd., M.Pd (94), dan Try Gustaf Said, S.Pd., M.Pd (91). Kategori lainnya diberikan kepada Muh. Rizal KR, S.Ag., MM (terdisiplin), Dr. Hadisaputra, S.Pd., M.Si (teraktif), serta Sudarsono, S.Pd., M.Pd (terlucu).
Penutupan Darul Arqam Gelombang II ini, dengan demikian, menegaskan satu hal, kaderisasi di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah bukanlah agenda sampingan. Ia adalah kerja kebudayaan membangun kembali cara pandang, memperbarui komitmen, lalu menegakkannya dalam disiplin aksi melalui RTL yang terukur dan dapat ditagih kembali.





















