Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
ArsipMuhammadiyahOpini

Islam Moderat adalah Sebuah Paradoks

×

Islam Moderat adalah Sebuah Paradoks

Share this article

Oleh: Ahmad Najib Burhani

(Peneliti LIPI)

Example 300x600

 

Moderation

“Moderation” … is Russell’s Paradox,

Reduced to a single word.

For being moderate in moderation,

Means one is immoderate in some respect;

And if one is completely moderate,

One is immoderate in moderation.

Rabbi Amos Edelheit

Willimantic, Conn.

KHITTAH.co – Dalam wacana keberagamaan sekarang ini, istilah moderat memiliki konotasi yang sangat positif. Moderat adalah kata yang menghipnotis. Islam moderat, misalnya, dimaknai sebagai Islam yang anti-kekerasan dan anti-terorisme. Islam moderat identik dengan Islam yang bersahabat, tidak ekstrem kanan dan tidak ekstrim kiri. Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah pun dengan tegas mengklaim dirinya sebagai representasi dari Islam yang moderat, bukan liberal dan juga bukan fundamentalis.

Landasan teologis-ontologis pun dibangun untuk mengokohkan pilihan ini. Dalam beberapa kesempatan Azyumardi Azra, direktur pascasarjana UIN Jakarta, dan Din Syamsuddin, ketua umum Muhammadiyah, menjelaskan bahwa istilah Islam moderat memiliki padanan dengan istilah Arab ummatan wasathan atau al-din al-wasath (Qs 2:143) yang berarti “golongan atau agama tengah”, tidak ekstrim. Bagi Ali Syariati, pembaharu Islam di Iran, dan Buya Hamka, tokoh Muhammadiyah, al-din al-wasath berarti Islam berada di tengah antara esoterisme Kristiani dan eksoterisme Yahudi.

Dalam konteks percaturan global saat ini, dan juga konteks lokal Indonesia, menjadi Muslim moderat barangkali menjadi pilihan yang pas dan “aman”. Tapi label moderat ini seringkali hanya menjadi baju ketika seseorang tidak bisa menjelaskan posisi dirinya di tengah perebutan pengaruh antara kelompok garis keras Islam dan kelompok liberal Islam. “Tidak kanan” dan “tidak kiri” adalah sebuah negasi, belum menjadi sebuah identitas.

(Baca juga:  NU dan Muhammadiyah Penjaga Gawang Moderasi Islam Indonesia)

Bagi Muhammadiyah dan NU, pemakaian nama Islam moderat adalah sebuah fenomena baru. Sebelumnya Muhammadiyah menyebut dirinya sebagai Islam modernis dan NU sebagai Islam Aswaja (ahlussunnah wal jamaah). Muhammadiyah terkenal dengan struktur dan infrastruktur organisasi yang modern sejak pendiriannya di tahun 1912. Ketika identitas modernis yang lama melekat di Muhammadiyah mulai luntur, maka Muhammadiyah tidak menolak ketika orang luar memberinya sifat baru yang untuk saat ini berkonotasi positif, moderat.

Bagi organisasi seperti Muhammadiyah dan NU, mengambil posisi moderat tampak seperti sebuah pengkhianatan terhadap misi pendirian mereka. Sifat ini akan menghilangkan peran mereka sebagai gerakan (movement) yang memiliki visi yang jelas. Menjadi moderat juga berarti membiarkan umat mereka terus berada dalam perebutan berbagai aliran ekstrim. Moderat adalah pasif dan terus-menerus menjadi obyek. Bagi kedua organisasi itu, moderate lebih berarti medioker daripada netral.

Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dan Hasyim Asy’ari, pendiri NU, tentu bukanlah orang-orang moderat. Nabi Muhammad pasti juga bukan orang moderat. Jesus juga bukan orang moderat. Mereka adalah para revolusioner sejati. Pemaknaan al-din al-wasath sebagai agama yang moderat atau agamanya orang moderat justru menyesatkan. Dalam konteks ini, wasath mesti dimaknai sebagai center atau heart, agama yang menjadi pusat dan jantung peradaban.

Kekuranglincahan NU dan Muhammadiyah saat ini terutama bersumber pada keputusan mereka untuk memposisikan diri sebagai umat yang tengah-tengah saja. Hanyut dalam dekapan penguasa, baik yang tingkatnya nasional, seperti pada zaman Orde Baru, ataupun penguasa wacana global saat ini, seperti Amerika Serikat atau kelompok radikal Islam. Mengambil posisi moderat tentu bebas dari beresiko, tak berbahaya, dan terkesan taktis. Namun demikian, moderat tidak punya semangat pembaruan sedikitpun dalam dirinya. Selama kedua organisasi itu memilih posisi moderat, maka keduanya tidak akan menjadi pemenang.

Beberapa waktu sebelum turunnya Soeharto dari kepresidenan tahun 1998, seorang tokoh penting dalam ormas Islam di Indonesia mengatakan kepada saya, “Tidak usah meminta Bapak turun, kita tunggu saja dengan sabar. Toh, tidak lama lagi dia akan turun dengan sendirinya. Berapa sih umurnya manusia?” Menunggu turunnya Soeharto dari kepresidenan secara natural, dalam arti meninggal dunia, berarti masih perlu waktu 10 tahun. Sepanjang waktu itu kita tidak perlu melakukan apa-apa, yang terpenting selamat. Ini adalah cara berpikir moderat.

Sebagai mahasiswa kajian agama di Amerika, secara pribadi saya lebih suka menjadi murid dari dosen yang benar-benar atheis atau Muslim taat atau Kristen taat atau dosen yang seratus persen tidak beragama daripada dosen yang tidak sempurna bentuk keberagamaannya. Mereka yang sudah jelas posisinya sering terbukti lebih bisa menunjukkan hormat kepada orang yang memiliki keyakinan berbeda daripada orang yang masih belum mapan pandangan keagamaannya.

Karena itulah, Muslim moderat di Indonesia perlu menjelaskan identitas dirinya, perlu menegaskan karakternya, bukan sekadar menunjukkan negasi bagi kelompok lain, bahwa ia “bukan ini” dan “bukan itu”. Bernegasi ria adalah ciri dari pseudo-moderate. Tanpa memberikan definisi, maka Islam moderat bisa dimaknai sebagai Muslim banci, seperti pernah dituduhkan Abu Bakar Ba’asyir. (*)

Tulisan ini pernah dimuat di Jurnal Ma’arif [Vol. 3, No.1, Feb 2008]

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner PMB UMSI