
KHITTAH.CO, Makassar — Pergantian pelatih Tim Nasional Indonesia dinilai harus dimaknai sebagai momentum membangun sistem permainan jangka panjang, bukan sekadar mengejar hasil instan. Penilaian tersebut disampaikan akademisi olahraga dan pengamat sepak bola Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar Dr. Syahban Nur, saat dimintai keterangan di Makassar, Sabtu, 5 Januari 2026, menanggapi penunjukan John Herdman sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia.
Syahban menilai kehadiran pelatih baru membawa harapan perubahan mendasar terhadap karakter permainan Timnas Indonesia. Ia mengatakan, selama ini Timnas cenderung mengandalkan semangat juang dan kecepatan individu, namun belum memiliki struktur permainan yang solid dan konsisten. Kondisi tersebut membuat performa tim kerap naik turun di level regional maupun Asia.
“Sebelum ini, Timnas bermain lebih reaktif dan belum memiliki identitas bermain yang jelas. Transisi sering tidak rapi dan pemain tidak selalu memahami peran spesifiknya di lapangan,” kata Syahban. Menurut dia, pembenahan sistem harus menjadi prioritas utama pelatih baru.
Ia menjelaskan bahwa ada tiga kelemahan utama yang selama ini menjadi pekerjaan rumah Timnas Indonesia. Pertama adalah aspek taktik yang belum konsisten, kedua mental bertanding yang mudah goyah saat berada di bawah tekanan, dan ketiga pembinaan pemain yang belum berkesinambungan. Ketiga persoalan tersebut, kata dia, saling berkaitan dan tidak bisa diselesaikan secara instan.
“Pelatih baru harus fokus membangun sistem, bukan hanya mengejar hasil cepat. Kalau orientasinya hanya menang sekarang, kita akan mengulang kesalahan yang sama,” ujar Syahban. Ia menegaskan bahwa fondasi permainan jauh lebih penting dibandingkan target jangka pendek.
Syahban juga menyoroti perbedaan pendekatan antara pelatih sebelumnya dan pelatih baru. Menurut dia, pelatih baru membawa pendekatan yang lebih tegas, profesional, dan berbasis sistem permainan. Pendekatan ini, kata dia, berdampak langsung pada disiplin pemain, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Ia menambahkan bahwa pemain kini dituntut patuh terhadap rencana permainan yang telah disusun pelatih. Dengan kerangka sistem yang jelas, pemain tidak lagi hanya mengandalkan improvisasi, tetapi bermain dalam struktur kolektif. Syahban menilai hal ini penting untuk membangun konsistensi performa tim.
Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi pelatih baru jauh lebih kompleks dibandingkan pelatih-pelatih Timnas pada masa lalu. Tekanan publik, sorotan media sosial, serta ekspektasi tinggi dari suporter membuat setiap keputusan pelatih menjadi perhatian luas. Situasi tersebut menuntut keteguhan sikap dan dukungan institusi.
Syahban menilai keberhasilan pelatih baru tidak bisa dilepaskan dari komitmen federasi dalam menjaga visi jangka panjang. Ia mengatakan, jika federasi kembali menjadikan hasil instan sebagai satu-satunya tolok ukur, maka pergantian pelatih berisiko menjadi solusi sementara. Menurut dia, konsistensi kebijakan menjadi kunci utama.
“Pergantian pelatih ini bisa menjadi pergeseran visi jangka panjang, tetapi hanya jika federasi konsisten melindungi sistem yang dibangun,” kata Syahban. Ia menegaskan bahwa masalah utama sepak bola nasional bukan hanya soal figur pelatih, melainkan keberlanjutan sistem pembinaan.
Sebagai akademisi, Syahban memaparkan indikator keberhasilan pelatih baru yang dinilainya lebih realistis dalam satu hingga dua tahun ke depan. Ia menyebut, identitas permainan yang jelas, peningkatan kualitas permainan kolektif, serta mental bertanding yang lebih stabil menjadi indikator utama. Regenerasi pemain dan daya saing di level Asia Tenggara juga harus mulai terlihat.
Ia menambahkan bahwa pencapaian trofi memang penting, tetapi tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan. Menurut dia, kontinuitas pemain inti dan konsistensi sistem permainan justru menjadi fondasi prestasi jangka panjang Timnas Indonesia. “Kalau fondasinya kuat, hasil besar biasanya akan mengikuti,” ujarnya.
Di akhir, Syahban berharap pergantian pelatih kali ini benar-benar menjadi titik awal pembenahan sepak bola nasional secara menyeluruh. Ia menilai dukungan federasi, pemain, dan publik sangat menentukan keberhasilan agenda jangka panjang tersebut. Harapan itu, kata dia, perlu dijaga agar Timnas Indonesia mampu bersaing secara berkelanjutan di tingkat Asia.





















