Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Khairah Ummah dan Beragama Formalitas

×

Khairah Ummah dan Beragama Formalitas

Share this article

Oleh: Irwan Akib (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

KHITTAH. CO – Beberapa pekan terakhir ini,  kita menyaksikan peristiwa memilukan dan memalukan masih terus terjadi di negeri tercinta ini—negeri dengan penduduk Muslim terbesar—yaitu operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK terhadap pejabat negara dengan berbagai modus kasus korupsi. Mereka bukanlah orang yang berkekurangan dari sisi ekonomi bahkan mungkin sangat berlebihan, hal ini tampak dari harta kekayaan baik harta bergerak maupun harta tidak bergerak, juga mungkin deposito dan saham di berbagai perusahaan yang bila dihitung secara matematis, bisa saja harta tersebut tidak habis tujuh turunan. Namun, mereka tetap belum puas dengan titipan Allah pada mereka.

Mereka senang mengumpulkan harta tanpa peduli dari mana saja asal harta itu, halal atau haram tidak menjadi persoalan bagi mereka.  Sementara di sudut negeri kita juga masih menyaksikan saudara-saudara kita yang tak merasakan nikmatnya sesuap nasi, mereka hampir setiap saat mengais rezeki yang tak kunjung datang, demikian juga setiap sudut jalan kita menyaksikan anak jalanan (anjal) dan pengemis.

Ini suatu yang ironi ketika umat Islam mengklaim diri sebagai umat terbaik. (Khairah Ummah). Bagaimana kita mengklaim sebagai umat terbaik sementara kita membiarkan saudara kita hidup dalam kemiskinan? Kita membiarkan saudara-saudara kita seiman terus mengikat pinggang karena kelaparan sementara kita sendiri hampir setiap saat makan berlebihan. Bahkan sudah tidak tahu restoran mana lagi yang akan kita datangi untuk makan.

Bila mencermati Al Quran ayat 110 Surah Al Imran, maka dapat dipahami bahwa untuk menjadi khairah ummah diperlukan tiga syarat; iman, amar makruf, dan nahi mungkar. Sedang menurut Umar ibnal-Khaththab yang dikutip oleh Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir Al Misbah syarat untuk menjadi khairah ummah adalah amar makruf, nahi mungkar, dan persatuan dalam berpegang teguh pada tali Allah.

Dalam kaitannya dengan amar makruf  nahi mungkar, Buya Syafii mengatakan ada tiga persoalan yang dihadapi Nabi pada awal misinya di kota Makkah yaitu (1) doktrin keesaan Allah (tauhid) berhadapan dengan lingkungan syirik kota Makkah,  (2) prinsip keadilan sosial, ekonomi dan politik berhadapan dengan sistem kezaliman dan penindasan sosial ekonomi politik aristokrasi Qurasy, dan (3) doktrin eskatologis berupa iman pada hari akhir berhadapan dengan kepercayaan umum penduduk Makkah yang menyangkalnya.

Dalam konteks kekinian, masalah pertama dan ketiga mungkin masih ada, tetapi pada umumnya umat Islam percaya tentang adanya Tuhan dan adanya hari akhir. Masalah kedua sampai hari ini di kalangan umat Islam masih menjadi masalah yang sangat krusial, mereka mungkin paham bahwa umat Islam ini adalah umat yang satu, mereka mungkin paham bahwa dalam harta yang dititipkan kepadanya ada hak orang miskin, tetapi faktanya, jurang antara si miskin dan si kaya masih mengangah sangat lebar.

Pertanyaannya apakah saudara-saudara kita yang dititipi harta oleh Allah itu bukan orang yang percaya Tuhan, apakah mereka tidak percaya adanya hari akhir. Tentu dia percaya dan bahkan mungkin tidak pernah alpa melaksanakan shalat lima waktu,  mungkin di antara mereka ada yang sudah berhaji berkali-kali dan umrah lebih dari sekali bahkan mungkin setiap tahun, tetapi kenapa salatnya tidak dapat mencegah dari kealpaan itu? Inilah yang disinyalir oleh Allah dalam surah Al-Maun, bahwa mereka orang yang lalai dari salatnya. Mereka adalah orang-orang yang beragama secara formalitas

Buya Malik Ahmad dalam Tafsir Sinar ketika membahas surah Al-Maun, mengatakan bahwa agama ini bukanlah upacara-upacara (ritual dan tradisian), bukan pula hanya berbentuk gerak  ibadah dan syiar-syair keagamaan yang kosong dari roh iman dan niat menaati Allah. Lebih lanjut, beliau mengatakan bahwa hakikat percaya kepada agama bukanlah sekadar permainan bibir, ia harus menyelinap ke dalam kalbu dan mendorong kalbu untuk beramal kebajikan dan berbuat jasa-jasa terhadap masyarakat yang memerlukan pemeliharaan dan perlindungan. Allah tidak memerlukan kata-kata, Ia menghendaki perbuatan sebagai bukti dari kata-kata itu. Bila tidak diiringi perbuatan, yang diucapkan itu adalah kosong belaka tak mempunyai nilai dan harga.

Paparan Buya Malik tersebut memberikan gambaran bahwa iman itu harus dibarengi dengan amal saleh. Iman harus menghadirkan kepedulian terhadap sesama. Tanpa kepedulian terhadap sesama, merupakan sebuah kecelakaan, dinilai sebagai pendusta. Iman harus menghadirkan amar makruf dalam bentuk keadilan sosial dan membentuk  sebuah sistem untuk menolong yang lemah. Dalam kaitan ini, Kiai Dahlan telah menghadirkan teologi Al Maun, yang dalam praktiknya telah melahirkan berbagai institusi untuk menolong sesama. Teologi Al Maun, telah melahirkan rumah sakit, panti asuhan, lembaga pendidikan, dan berbagai usaha lainnya.

Surah Al Maun, juga mengandung kritikan terhadap kesalehan formalitas, salat tetapi lalai dalam salat, berhaji tetapi lupa menangkap esensi haji itu sendiri, dan umrah berkali-kali tetapi makna di balik umrah itu tidak terpatri dalam kehidupan keseharian. Mereka sibuk dengan kesalehan individu tetapi lupa dengan kesalehan sosial.

Untuk menghadirkan khairan ummah sebagaimana mandat yang diberikan dalam ayat 110 surah Ali Imran, maka indikator kinerja yang perlu diperhatikan adalah menghadirkan surah Al Maun dalam kehidupan keseharian. Menghadirkan kepedulian terhadap sesama, tidak melupakan hak anak yatim dan fakir miskin, serta orang-orang lemah. Keadilan sosial, ekonomi, dan politik harus hadir dalam kehidupan umat.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner UIAD

Leave a Reply