
KHITTAH.CO, MAKASSAR — Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah (FEB Unismuh) Makassar bersama Faculty of Multidisciplinary Sciences and Entrepreneurship Thaksin University, Thailand, menggelar International Guest Lecture, Senin, 9 Maret 2026. Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting itu menjadi bagian dari penguatan kerja sama internasional kedua institusi.
Kuliah tamu ini menghadirkan dua tema yang saling bertaut, yakni pengelolaan pariwisata berbasis hubungan pelanggan dan tantangan pemasaran digital di tengah persaingan bisnis yang kian ketat. Dosen dan mahasiswa dari kedua perguruan tinggi mengikuti forum akademik tersebut dengan moderator dosen FEB Unismuh Makassar, Dr. Syahidah Rahmah, S.E., Sy., M.E.I.
Dalam pengantarnya, Syahidah menyebut pertemuan itu istimewa karena mempertemukan dua bidang yang kian menentukan arah bisnis global, yakni manajemen pariwisata dan pemasaran digital. Menurut dia, keduanya bukan hanya penting bagi dunia usaha, tetapi juga relevan dalam pengembangan pengetahuan lintas negara.
Dekan FEB Unismuh Makassar Dr. Edi Jusriadi, S.E., M.M. menegaskan, kuliah tamu internasional tersebut merupakan bagian dari implementasi Memorandum of Agreement antara FEB Unismuh Makassar dan Faculty of Multidisciplinary Sciences and Entrepreneurship Thaksin University. Kerja sama itu, kata dia, sejalan dengan visi internasionalisasi Unismuh Makassar sekaligus upaya mendorong FEB agar semakin bereputasi di tingkat global.
“Selamat datang pada kegiatan International Guest Lecture Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unismuh Makassar yang berkolaborasi dengan Faculty of Multidisciplinary Sciences and Entrepreneurship Thaksin University, Thailand,” ujar Edi.
Ia menilai forum semacam ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang perjumpaan akademik yang memperluas jejaring, mempertemukan gagasan, dan membuka peluang kolaborasi yang lebih jauh pada masa mendatang.
Baca Juga: Unismuh–Thaksin Bahas Peran Teknik dalam Keberlanjutan Lingkungan
Pariwisata Bukan Hanya Layanan, Melainkan Juga Pengalaman
Pembicara pertama, Assoc. Prof. Dr. Rungrawee Jitpakde, Dekan Faculty of Multidisciplinary Sciences and Entrepreneurship Thaksin University, memaparkan materi bertajuk “Tourist Management for Customer Relationship”. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa pengelolaan pariwisata dewasa ini tidak cukup hanya bertumpu pada layanan standar, tetapi harus diarahkan pada pembentukan hubungan jangka panjang dengan wisatawan.
Berangkat dari pengalaman dan risetnya di Thailand selatan, terutama di Phatthalung, Rungrawee menjelaskan bahwa pariwisata yang kuat lahir dari pemahaman atas kebutuhan, perilaku, dan harapan wisatawan. Dalam konteks itulah customer relationship management (CRM) menjadi penting, bukan sekadar strategi pemasaran, tetapi juga cara memahami wisatawan secara lebih manusiawi.
Ia mencontohkan, layanan wisata pada dasarnya bersifat tidak berwujud. Orang tidak hanya membeli kamar hotel, paket perjalanan, atau tiket kunjungan, tetapi juga membeli rasa diterima, kenyamanan, pengalaman, dan kenangan yang ingin dibawa pulang. Karena itu, kualitas pelayanan, kehangatan interaksi, dan kejujuran dalam promosi menjadi penentu.
“Dalam pariwisata, kita bukan hanya menjual produk, tetapi juga menjual hubungan dan pelayanan,” kata Rungrawee.
Ia juga menyoroti peran teknologi dan media sosial dalam membentuk ekspektasi wisatawan. Situs pemesanan hotel, ulasan pelanggan, dan promosi digital, menurut dia, sangat memengaruhi keputusan seseorang untuk datang ke suatu destinasi. Namun, promosi yang berlebihan tanpa kesesuaian dengan kondisi nyata justru berisiko menimbulkan kekecewaan.
Bagi Rungrawee, daya saing destinasi tidak dibangun semata-mata lewat promosi besar, melainkan lewat identitas yang khas. Ia mencontohkan Phatthalung yang memiliki kekuatan pada warisan budaya, wisata berbasis komunitas, produk lokal, dan lanskap alam yang memberi pengalaman berbeda bagi wisatawan.
Ia pun menekankan pentingnya menjaga kapasitas destinasi agar pariwisata tidak merusak lingkungan maupun menghilangkan kualitas pengalaman wisata itu sendiri. Dalam konteks itu, ia memperkenalkan gagasan pariwisata berkelanjutan, pariwisata berbasis komunitas, serta pentingnya mendengar umpan balik wisatawan dalam pengembangan layanan.
Menurut dia, tren pariwisata saat ini bergerak ke arah pengalaman yang lebih personal, ramah lingkungan, sehat, dan inklusif. Karena itu, pengelola destinasi dituntut tidak hanya piawai dalam promosi, tetapi juga peka terhadap perubahan preferensi wisatawan.
Pemasaran Digital Harus Diukur Secara Cermat
Sesi kedua diisi oleh Assoc. Prof. Dr. Muhammad Rum, dosen FEB Unismuh Makassar, yang membawakan materi “Challenge and Opportunity in Digital Marketing”. Berbeda dari pendekatan pariwisata yang menitikberatkan pada relasi emosional dengan pelanggan, Rum menyoroti sisi strategis dan finansial dari pemasaran digital, terutama dalam industri hospitalitas.
Ia menjelaskan bahwa iklan digital kerap dipandang sebagai jalan cepat untuk meningkatkan penjualan. Namun, tanpa pengukuran yang cermat, biaya promosi digital justru dapat membebani arus kas perusahaan. Menurut dia, persoalannya bukan semata besar-kecilnya anggaran, melainkan kemampuan mengendalikan efektivitas biaya dan hasil yang diperoleh.
Muhammad Rum mengangkat sejumlah contoh perusahaan global untuk menunjukkan bahwa belanja iklan digital tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan penjualan. Di sinilah perusahaan, kata dia, perlu disiplin mengukur return on investment (ROI), biaya akuisisi pelanggan, nilai seumur hidup pelanggan, hingga kontribusi pendapatan tambahan dari iklan.
“Kalau tidak diukur, biaya pemasaran digital bisa menggerus arus kas,” ujarnya.
Berlatar belakang ilmu akuntansi, Rum mendorong pendekatan pemasaran yang berbasis pengukuran finansial. Baginya, pemasaran digital tidak bisa hanya dinilai dari sisi kreativitas kampanye, tetapi juga dari efektivitas ekonominya. Dalam industri hospitalitas, pengendalian biaya promosi menjadi penting karena persaingan tinggi, transparansi harga, dan perubahan perilaku konsumen berlangsung sangat cepat.
Ia merekomendasikan agar pelaku usaha memberi perhatian serius pada perbandingan antara customer acquisition cost dan customer lifetime value. Selama nilai pelanggan dalam jangka panjang masih lebih besar daripada biaya untuk mendapatkannya, kampanye pemasaran masih dapat diteruskan. Namun, jika sebaliknya, strategi perlu segera ditinjau ulang.
Forum yang Membuka Pertukaran Gagasan
Diskusi setelah pemaparan materi memperlihatkan antusiasme peserta. Salah satu pertanyaan datang dari Agus Diwana Suwani, yang menyoroti bagaimana memulai promosi daerah potensial agar berkembang menjadi kawasan wisata, terutama di wilayah yang belum dikenal luas.
Pertanyaan itu menunjukkan bahwa kuliah tamu ini tidak berhenti pada tataran teori. Forum tersebut juga membuka ruang untuk membahas persoalan konkret yang dihadapi dunia pariwisata dan bisnis, mulai dari cara mengangkat potensi lokal, membangun citra destinasi, hingga menyesuaikan strategi promosi dengan karakter wilayah masing-masing.
Secara keseluruhan, kuliah tamu internasional ini memperlihatkan bahwa kolaborasi antarperguruan tinggi tidak hanya penting untuk memperluas jejaring kelembagaan, tetapi juga untuk mempertemukan perspektif yang saling melengkapi. Dari Thailand, peserta memperoleh pandangan tentang pariwisata yang berakar pada pengalaman, identitas, dan keberlanjutan. Dari Unismuh Makassar, peserta diajak melihat pentingnya disiplin pengukuran dalam strategi pemasaran digital.
Bagi FEB Unismuh Makassar, kegiatan ini menegaskan komitmen untuk terus memperluas kerja sama internasional sebagai bagian dari penguatan mutu akademik. Di tengah dunia bisnis yang berubah cepat, forum seperti ini menjadi penting karena menghadirkan ruang belajar yang melampaui batas kampus dan negara.





















