Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
LiterasiOpini

Lingkaran Kebaikan Menuju Surga: Kasih Sayang, Empati, dan Zakat

×

Lingkaran Kebaikan Menuju Surga: Kasih Sayang, Empati, dan Zakat

Share this article

Oleh: Agusliadi Massere (Pimpinan BAZNAS Kab. Bantaeng 2025-2030)

KHITTAH. CO – Dunia pada dasarnya tempat tinggal sementara. Di sini, di dunia ini, kita sesungguhnya diharapkan untuk menyiapkan bekal terbaik untuk pulang ke tujuan yang sebenarnya, akhirat. Di akhirat, kita semua dipastikan merindukan surga. Surga adalah tempat terbaik yang diharapkan, bahkan dirindukan oleh semua orang.

Bekal terbaik yang dibawa pulang bukanlah mobil mewah atau pun kendaraan mewah lainnya. Harta pun dalam perspektif material yang melekat pada diri bukanlah itu yang dibawa pulang. Namun, tentu saja harta tetap bisa menjadi instrumen untuk mendapatkan bekal terbaik. Lalu, apa yang bisa menjadi bekal terbaik? Islam sebenarnya mengajarkan satu rahasia dan di balik ini menjadi ruang untuk memahami bekal terbaik itu—meskipun ini bukan satu-satunya—“Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”.

Pesan-pesan ilahiah yang terakumulasi dalam ajaran agama Islam, kita bisa sampai pada pemahaman dan kesadaran bahwa sesungguhnya Allah itu bukan hanya mengharapkan diri kita menghabiskan waktu untuk curhat kepadaNya dalam salat. Kita diharapkan tetap bertebaran di muka bumi ini sambil memancarkan spirit kerahmatan bagi sesama manusia dan makhluk lainnya. Allah sangat mencintai hambaNya yang memiliki kepedulian terhadap makhluk Allah yang lainnya.

Dalam sejarah kenabian pun, kita menemukan kisah-kisah di mana awalnya para sahabat Rasulullah bingung atas pernyataan-pernyataan Rasulullah Muhammad Saw tentang penilaiannya dan posisi seseorang yang dijamin masuk surga dan bahkan ada yang dijamin dijamin atau dinilai sebagai sosok yang mendapatkan haji mabrur, padahal dirinya belum menunaikan ibadah haji. Ternyata rahasianya setelah ditelusuri oleh para sahabat Rasulullah, orang tersebut rela mengeluarkan hartanya untuk membantu orang lain. Bahkan harta yang pas-pasan—meskipun untuk konteks ini tentu saja masuk dalam ranah infaq dan/atau sedekah, ketimbang zakat.

Pada dasarnya Allah bukan hanya menuntut kita untuk mencapai kesalehan pribadi, tetapi juga kesalehan sosial. Keduanya ini perlu seimbang dan memang Islam itu mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat.  Keduanya pun, ibadah vertikal dan ibadah horizontal (sosial) sesungguhnya saling menguatkan untuk keperluan mempersiapkan bekal terbaik untuk pulang kembali ke tempat yang sesungguhnya, akhirat dan surga. Kesimpulan ini bukan berarti menegasikan ajaran Islam,bahwa yang menentukan kita masuk surga atau tidak, itu karena Rahmat Allah Swt. Tetapi, Allah pun memberikan pedoman untuk beribadah yang tentu saja bisa menjadi jalan untuk mendapatkan rahmatNya.

Ibarat menggunakan kendaraan menuju surga, kita tentu saja membutuhkan “Lingkaran kebaikan” atau bisa pula disebut “Roda kebaikan”. Menyebut lingkaran dan roda di sini, itu menyentuh proses algoritmik diri kita untuk sampai pada pengandaian tentang sesuatu yang paling berperan untuk suatu kendaraan bisa bergerak ke arah tujuannya. Di antara lima rukun Islam, saya menemukan kewajiban zakat atau berzakat, yang ternyata jika kita terus membuat derivasi nilai dan maknanya akan lahir beberapa nilai dan makna yang itu bisa membentuk lingkaran kebaikan.

Lingkaran kebaikan ini pun bisa dideskripsikan di alam mental akan melakukan transformasi bentuk menjadi seperti bola salju. Bola salju yang bagaimana? Tentu saja, bola salju yang ketika bergelinding dan terus bergelinding maka akan semakin besar. Artinya, derivasi nilai dan makna dari zakat ini itu akan menjadi lingkaran kebaikan yang ketika terus berputar akan semakin membesar membentuk lingkaran kebaikan yang menjadi jalan terbaik, kendaraan terbaik, dan/atau cara terbaik bagi banyak orang-orang untuk pulang kembali ke ahkirat dan Insyaallah ke surga.

Dalam zakat atau kewajiban berzakat, dipastikan di dalamnya ada kasih-sayang dan empati. Zakat yang merupakan ibadah yang berkarakter muamalah dan bahkan dalam makna kontemporernya sebagai strategic collaboration,bukan hanya membentuk relasi vertikal antara hamba dan Allah. Zakat pun membentuk relasi horizontal antara sesama manusia. Dan, relasi horizontal ini tidak semata-mata menyentuk ruang duniawi, tetapi juga akan menyentuk kembali dimensi transendensi.

Kasih sayang menjadi ruh utama yang akan mencairkan kebekuan hati yang cenderung bermesraan dengan keserakahan dan bermanja ria dengan hasrat yang terus memproduksi dirinya melahirkan hasrat baru dan semakin membesarkan ruang keserakahan. Islam sesungguhnya adalah agama kasih sayang, kita bisa menyelami makna basmalah untuk sampai padah pemahaman dan kesadaran bahwa betul Islam adalah agama cinta. Sehingga, zakat bukan hanya memerlukan  dorongan keimanan, tetapi dorongan kasih sayang pun penting harus selalu hadir mengiringi semangat untuk berzakat.

Jika berzakat belum mampu maka dorongan kasih sayang pun bisa menjadi energi yang akan mengubah dan menghadirkan perubahan hidup untuk sampai pada taraf pemenuhan harta untuk bisa memenuhi untuk berzakat. Namun, jika itu pun belum mampu infaq dan sedekah yang di dalamnya pun didorong oleh energi kasih sayang bisa menjadi bentuk kristalisasi lain dari suara dan dorongan kasih sayang tersebut.

Dari era klasik sampai dunia modern, bahkan dipertegas sebagai satu di antara empat skill yang dibutuhkan adalah berpikir kritis. Berpikir kritis tentu saja tetap bisa dipersepsikan sama dengan kesadaran kritis. Bagi saya kunci dari yang dimaksud sebagai berpikir kritis dan/atau pun dalam makna kesadaran kritis adalah “Empati”.

Empati itu berbeda dari sekadar simpati. Simpati itu diandaikan seperti ketika ada anak kecil yang menangis karena mamanya ke pasar, kemudian kita membenarkan secara teori kondisinya dan membawa kesimpulan hanya pada konteks kewajaran/kepantasan. Wajar atau pantas anak itu menangis karena ditinggal pergi oleh mamanya. Ini adalah makna dari simpati.

Beyond, melampaui dari itu, empati bukan sekadar membenarkan kondisi dan memberikan kesimpulan wajar dan pantas, tetapi empati bergerak, melakukan langkah lanjutan dan solutif agar anak kecil itu tidak menangis lagi. Di dalam zakat atau kewajiban berzakat, saya menemukan wujud dari empati yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Empati pun di baliknya mengandung pula makna kepekaan jiwa untuk segera mengetahui bahkan merasa kondisi yang dialami orang lain.

Zakat atau kewajiban berzakat membangun pemahaman dan kesadaran bahwa di balik harta yang dimiliki ada hak bagi orang lain. Dalam zakat atau kewajiban berzakat pun tidak berhenti pada sikap untuk mengasihi kondisi seseorang saja, tetapi diharapkan segera ada tindakan nyata dan langkah solutif. Meskipun memang, saya pun menyadari bahwa empati pun membutuhkan energi kasih sayang, apalagi sering kali manusia terpenjara dalam jeruji besi keserakahan.

Ketika kasih sayang, empati, zakat membentuk lingkaran, maka itu akan menjadi lingkaran kebaikan. Kemudian jika ini terus bergerak dan berputar maka dipastikan lingkaran kebaikan ini semakin besar dan semakin potensi menjadi jalan menuju surga. Lingkaran kebaikan ini pun bukan hanya menjadi jalan kebaikan atau jalan menuju surga bagi orang-orang yang berzakat. Tetapi, lingkaran kebaikan ini pun akan menjadi media bagi para mustahik yang merasakan manfaat berzakat untuk merasakan lingkaran kebaikan tersebut.

Lingkaran kebaikan ini pun tentu saja menjadi jalan untuk menguatkan orang-orang yang lemah dan dilemahkan. Sebab, lingkaran kebaikan ini jika sudah menjadi karakter nyata dalam kehidupan—meskipun dimaknai pula sebagai instrumen menuju surga—bisa mengubah kehidupan orang-orang yang sebelumnya berada pada posisi lemah dan dilemahkan untuk bangkit sebagai aktor yang juga ikut menggerakkan lingkaran atau roda kebaikan ini.

Apakah kita sudah tahu? Mengapa bangsa dan negara kita yang telah memiliki Pancasila sebagai ideologi par excellence, memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah ruah, berpenduduk muslim terbesar di dunia, tetapi masih tertinggal jauh dari kemajuan bangsa-bangsa lain? Karena, bangsa kita masih lebih mengedepankan The love of power (Cinta kekuasaan) ketimbang The power of love (Kekuatan cinta).

Ternyata yang bisa mengubah dari the love of power menjadi the power of love adalah lingkaran kebaikan dari kewajiban berzakat. Zakat mereflesikan kekuatan cinta. Namun, kewajiban berzakat yang bisa melakukan transformasi seperti ini adalah ketika lingkaran kebaikan dari zakat itu telah menjadi karakter dan/atau jati diri umat. Arti sederhananya, zakatnya bukan cuma merefleksikan kewajiban yang kaku, tetapi merupakan kristalisasi dari kasih sayang dan empati itu sendiri.

 

 

 

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner PMB UMSI

Leave a Reply