Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
ArsipOpiniPolitik dan Hukum

Membincang Ideologi (Bagian 2)

×

Membincang Ideologi (Bagian 2)

Share this article

images-4

Oleh : Muh. Asratillah Senge*

Example 300x600

 

Wajah kedua dari ideologi menurut Marx akan mengambil polesan dalam tiga kemungkinan. Yang pertama rezim kapitalis akan menghadirkan suatu sistem ide- agama, filsafat, literatur atau hukum- yang menyembunyikan kontradiksi-kontradiksi dalam dunia, dan menampakkannya sebagai sesuatu yang koheren. Yang kedua ideologi merupakan cara kapitalisme menjelaskan bahwa kontradiksi-kontradiksi, merupakan manifestasi dari kondisi problem-problem personal atau keanehan-keanehan individual. Yang ketiga ideologi merupakan sistem penjelas bahwa kontradiksi-kontradiksi yang terjadi merupakan bagian yang tak terpisah dari hakikat manusia yang sifatnya fixed sehingga tidak akan bisa dirubah dengan perubahan sosial.

Ada baiknya barangkli kita sejenak ikut menginterpretasi gagasan-gagasan Marx di atas. Menginterpretasi bukan hanya sekedar menguraikan maksud, mereproduksi makna , tetapi lebih dari itu, interpretasi merupakan usaha produksi makna, produksi bisa berarti membaca, mengurai, menyusun kembali dan memperkaya teks atau gagasan sebelumnya. Untuk polesan dari wajah kedua dari ideologi, bahwa ide-ide umum tertentu terkadang menjadi selubung realitas bisa kita temukan contohnya dalam dunia riil, misalnya agama, bagaimana agama dalam sejarahnya seringkali dijadikan alat legitimasi spiritual bagi kekuasaan tertentu, dalam sejarah kita bisa membaca bagaimana raja-raja eropa pada abad pertengahan akhir menjadikan lembaga keagamaan sebagai alat pendukung keputusan-keputusannya yang seringkali merugikan rakyat kecil.

Misalnya dalam budaya dan agama tertentu ketidaksetaraan merupakan takdir kosmos yang harus diterima saja. Dalam sistem kosmologi Islam abad pertengahan misalnya sebagian berargumen bahwa kondisi-kondisi partikular di bumi (atau menurut istilah kosmologi abad pertengahan dunia sub- lunar) termasuk kondisi sosial di tentukan oleh pergerakan benda-benda langit yang sifatnya abadi. Di Afrika selatan selama pemberlakuan politik apertheid agama hanya dijadikan alat untuk menjadikan penduduk pribumi menjadi betah dengan kondisinya. Dalam dunia politik dan ini bisa kita lihat di Indonesia, bagaimana parta-partai politik yang membawa nama agama ternyata mempunyai kelakuan politik yang sama bahkan terkadang lebih buruk dibanding para politisi yang tidak membawa nama partai politik Islam. Bahkan dalam dunia kontemporer dalil agama dan citra agamawan dijadikan sebagai metakomoditas agar komoditas-komoditas tertentu laku di pasaran. Dalam klasifikasi Paulo Freire ideologi jenis ini akan melahirkan kesadaran magis, dimana penjelasan terhadap persoalan dicari pada sesuatu yang sifatnya supranatural.

Untuk polesan ideologi yang kedua, dimana kontradiksi-kontadiksi yang terjadi merupakan manifestasi psikologi manusia. Dalam tradisi sosiologi Inggris inilah disebut dengan ameliorisme yaitu suatu bentuk usaha memecahkan masalah sosial dengan cara memperbaiki individu. Menurut William Ryan (1971) ini merupakan awal dari asumsi teori sosial yang “menyalahkan sang korban”. Dalam dunia kerja misalnya kurangnya produktivitas perusahan ditengarai disebabkan oleh malasnya dan kurang produktifnya individu-individu yang bekerja, mereka tidak pernah berpikir bahwa sistem kerja yang mereka terapkan mengalienasi para pekerja, mengalienasi pekerja dari kehendak bebasnya, dari sesama pekerja, dari sesama manusia, mengalienasi pekerja bertindak secara manusiawi terhadap duniannya. Dalam dunia pendidikan bodohnya sang anak dianggap disebabkan oleh kemalasan anak yang bersangkutan atau kebodohan yang inheren dalam dirinya, jarang ada yang mengidentifikasi letak masalahnya dalam sistem pendidikan secara keseluruhan bahkan sistem sosial budaya dan ekonomi secara keseluruhan.

Untuk Polesan ketiga, dimana kontradiksi-kontradiksi adalah sifatnya hakiki dan tidak dapat dirubah. Realitas sosial adalah sesuatu yang at-given. Dalam studi ekonomi manusia diandaikan sebagai homo economicus dimana persaingan bebas merupakan naluri dasariah manusia, sehingga bisa menjadi legitimasi bagi pelaksanaan pasar bebas. Dalam dunia psikologi behaviorisme, manusia diandaikan sebagai sirkuit stimuli-respon belaka, manusia tidak punya kuasa merubah dirinya dan memilih sendiri stimuli dan bagaimana dia merespon.

Dalam filsafat Kantian manusia diandaikan mempunyai aksioma kausalitas linear untuk menfsirkan realitas, sehingga tidak ada cara lain dalam membaca realitas selain dalam pola jika A maka B dan seterusnya. Dalam budaya kontemporer kita bisa melihat bagaimana iklan kecantikan atau kosmetik mencoba mendefinisikan hakikat wanita sebagai makhukh feminim yang butuh bersolek untuk diakui eksistensinya, mereka melakukannya karena para pemodal alat kecantikan butuh pasar wanita yang merasa bahwa hakikatnyalah yang butuh bersolek sehingga mereka harus membeli alat-alat kecantikan.

Ideologi sebagai sesuatu yang membalikkan realitas dan menciptakan kesadaran palsu (false conscieousness) Marx punya sebuah contoh yaitu mengenai ide kebebasan dan persamaan borjuis. Bagi sebagian besar kebudayaan perbudakan merupakan sesuatu yang wajar dan natural, mereka menganggap Tuhan menciptakan manusia tidak dalam  posisi yang sama tapi dalam kasta atau strata yang berbeda-beda. Tapi dalam masyarakat modern yang merupakan persemaian dari kapitalisme, perbudakan merupakan sesuatu yang absurd dan bukanlah sesuatu yang alamiah.

Persamaan dan kebebasan adalah sesuatu yang niscaya. Tetapi seperti terma ideologi terma kebebasan dan persamaan juga bersifat politis, kita bisa lihat dalam sejarah seringkali terma persamaan dan kebebasan dijadikan alasan untuk penggulingan rezim tertentu dan akhirnya rezim yang menggantikan ternyata setelah menambatkan kekuasaannya, mengkebiri kebebasan dan tidak menghiraukan persamaan sama sekali. Marx mengatakan persamaan borjuis adalah kebohongan, kapitalisme mengandaikan bahwa dalam proses pertukaran komoditas tidak menghiraukan etnis, suku dan agama seseorang, tetapi ini hanyalah kedok untuk menyelubungi ketidaksamaan yang sebenarnya, yaitu ketidak samaan dalam pemilikan kekuatan produksi dan ketidaksamaan dalam penguasaan uang yang berarti ketidaksamaan dalam konsumsi komoditas- dalam budaya kontemporer konsumsi tidak hanya dalam bentuk barang atau jasa tetapi juga dalam bentu simbolik yang ada sangkut pautnya dengan prestise sosial-, dan konsumsi komoditas merupakan refleksi dari eksploitasi dan subordinasi para kapitalis terhadap para pekerja.

Bersambung ke bagian 3………
*Penulis adalah anggota Majelis Pustaka dan Informasi PW Muhammadiyah Sulsel

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner PMB UMSI