KHITTAH.CO, GOWA — Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Gowa menyatakan komitmennya untuk mendorong agenda pembaruan dan penguatan gerakan IMM melalui empat gagasan strategis bertajuk Sureq Tupanrita. Gagasan tersebut disampaikan dalam forum Seminar dan Lokakarya Daerah (Semilokda) DPD IMM Sulawesi Selatan yang digelar pada 16–18 Januari 2026.
Semilokda ini dipandang sebagai momentum penting bagi IMM Sulsel untuk melakukan konsolidasi pemikiran sekaligus penajaman arah gerakan organisasi. Di tengah tantangan zaman yang ditandai oleh disrupsi teknologi, fragmentasi gerakan mahasiswa, serta menguatnya pragmatisme politik, IMM dituntut untuk tidak hanya aktif secara struktural, tetapi juga kokoh secara ideologis dan strategis.
“IMM hari ini tidak cukup hanya hadir dalam agenda formal organisasi. Kita harus kembali menata fondasi ideologis dan arah gerakan agar tetap relevan dengan realitas sosial yang terus berubah,” ujar perwakilan PC IMM Gowa dalam forum Semilokda.
PC IMM Gowa mengajukan empat gagasan Sureq Tupanrita sebagai refleksi kritis atas kondisi internal organisasi, sekaligus tawaran konseptual untuk memperkuat peran IMM ke depan.
Pertama, konsolidasi akar rumput melalui penataan ulang etika kepemimpinan dan penguatan basis komisariat. PC IMM Gowa menegaskan bahwa konsolidasi tidak boleh berhenti pada tertib administrasi semata.
“Komisariat harus ditempatkan sebagai benteng ideologis gerakan, bukan sekadar unit struktural,” tegasnya.
Kedua, revolusi kaderisasi dengan menolak pendekatan seragam dalam perkaderan. IMM Gowa menilai pola satu ukuran untuk semua sudah tidak relevan, mengingat perbedaan ekologi kampus antara Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan Non-PTM.
“Perkaderan harus adaptif dan dilengkapi roadmap pasca-perkaderan yang jelas, agar kader tidak berhenti pada seremoni, tetapi tumbuh menjadi ahli di bidang teknologi, intelektual, dan profesional,” lanjutnya.
Ketiga, transformasi peran Immawati. PC IMM Gowa secara tegas menolak narasi yang memposisikan Immawati sebatas pelengkap atau simbol gender dalam organisasi.
“Immawati harus direposisi sebagai kutub strategis gerakan, dengan suara substantif dalam ruang politik, kultural, dan intelektual,” kata perwakilan PC IMM Gowa.
Keempat, transformasi profetik, yakni upaya menyatukan kembali religiusitas, intelektualitas, dan humanitas dalam satu tarikan napas gerakan. Nilai-nilai profetik dinilai tidak boleh berhenti pada jargon, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata perubahan sosial.
“Religiusitas tanpa keberpihakan sosial hanya akan menjadi ritual kosong,” ujarnya.
Melalui empat gagasan Sureq Tupanrita tersebut, PC IMM Gowa berharap Semilokda tidak berhenti pada perumusan program formal, tetapi mampu melahirkan rekomendasi strategis yang berdampak nyata bagi arah kebijakan organisasi.
Dengan ini, IMM Sulawesi Selatan diharapkan dapat terus meneguhkan perannya sebagai gerakan kader yang relevan, kritis, dan berorientasi pada pembaruan sosial.
Narasi lengkap dan naskah strategis Sureq Tupanrita dapat diakses melalui tautan berikut: https://bit.ly/SUREQTUPANRITA





















