Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Pengajian Ramadan, Sekretaris PWM Sulsel Bahas Tauhid dari Purifikasi hingga Etika Kebangsaan

×

Pengajian Ramadan, Sekretaris PWM Sulsel Bahas Tauhid dari Purifikasi hingga Etika Kebangsaan

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR — Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan yang juga Rektor Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr. Abd Rakhim Nanda, memaparkan gagasan tauhid dalam pemikiran tokoh-tokoh Muhammadiyah sebagai fondasi gerakan pembaruan (tajdid) sekaligus energi perubahan sosial.

Materi itu ia sampaikan dalam paparan pada Pengajian Ramadan 1447 H PWM Sulsel di Pesantren Darul Arqam Gombara, Sabtu, 28 Februari 2026.

Dalam pemaparannya, Rakhim menekankan bahwa tauhid dalam Muhammadiyah tidak berhenti pada definisi teologis, melainkan hadir sebagai cara memandang realitas, menata ibadah, dan menggerakkan amal.

“Saya diminta membahas genealogi dan fondasi ideologis tauhid dari tokoh-tokoh Muhammadiyah, mulai dari Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, hingga AR Fachruddin,” ujar Rakhim di awal penyampaian.

KH Ahmad Dahlan: Mengaji Hingga Bergerak

Menurut Rakhim, tauhid dalam perspektif KH Ahmad Dahlan tampil sebagai gerakan pemurnian akidah dan ibadah yang bersamaan dengan upaya memajukan ilmu pengetahuan serta membela kelompok mustadhafin.

Dahlan, kata dia, membaca kondisi masyarakat pada masanya yang masih kuat dipengaruhi takhayul, bid’ah, dan khurafat. Situasi itu, menurut Rakhim, bukan hanya mengganggu ketertiban ibadah, tetapi juga mematikan daya kritis, melahirkan fatalisme, serta menghambat kemajuan umat.

Baca juga: Prof Mustari Bosra Ingatkan Akidah Perlu Respons Rasional di Tengah Arus Saintisisme dan Ateisme Baru

Di titik inilah lahir ciri khas Dahlan yang disebutnya sebagai “novelty” Muhammadiyah: mengaji yang berujung aksi. Ia mencontohkan kisah pengajian Surah Al-Ma’un yang dibahas berulang-ulang hingga jamaah terdorong mewujudkannya menjadi kerja nyata: membela yatim, menolong fakir miskin, dan membangun institusi pelayanan.

“Tauhid yang benar itu membela orang miskin dan anak yatim. Dari situ lahir sekolah, PKO, filantropi, dan amal usaha lainnya. Tauhid menjadi energi transformatif,” kata Rakhim.

Ia juga menyinggung tradisi ijtihad kolektif (ijtihad jama’i) yang berkembang dalam Majelis Tarjih Muhammadiyah: tegas pada prinsip, luas dalam muamalah, dan santun dalam dakwah. “Muhammadiyah itu tegas pada prinsip, luas pada amaliah, dan beradab dalam ikhtilaf,” ujarnya.

Ki Bagus Hadikusumo: Tauhid dan Kenegarawanan

Rakhim kemudian mengulas tauhid dalam pemikiran Ki Bagus Hadikusumo yang ia posisikan sebagai tauhid yang melahirkan kepribadian Muhammadiyah sekaligus etika kebangsaan.

Dalam masa krusial awal kemerdekaan, Ki Bagus tampil sebagai tokoh yang menghubungkan nilai ketuhanan dengan integritas moral, musyawarah, persatuan, dan kemanusiaan. Rakhim menilai, keteguhan prinsip dibarengi kebijaksanaan kenegarawanan menjadi pelajaran penting dari kepemimpinan Ki Bagus.

“Tauhid bukan hanya urusan ritual. Ia harus menjadi etika publik: amanah, adil, musyawarah, menjaga persatuan, dan memuliakan kemanusiaan,” ujarnya.

Ia juga menekankan keseimbangan antara iman, akal, dan tanggung jawab sosial. Tanpa keseimbangan itu, kata Rakhim, iman rentan direcoki takhayul, sementara akal menjadi kering dan kehilangan arah.

AR Fachruddin: Kesederhanaan dan Kepemimpinan Melayani

Tokoh ketiga yang dibahas adalah AR Fachruddin, yang oleh Rakhim dipotret sebagai teladan tauhid dalam bentuk kesahajaan pribadi dan kepemimpinan sebagai pelayan (servant leadership).

Ia menyinggung konteks sosial-politik pada era AR Fachruddin yang menuntut kedewasaan organisasi dalam menyikapi relasi negara dan gerakan Islam. Rakhim menilai, kebijakan dan ketenangan kepemimpinan AR Fachruddin ikut menjaga Muhammadiyah tetap kokoh menjalankan dakwah dan amal usaha di tengah perubahan.

“Beliau sederhana, dekat dengan warga, anti-kultus, dan memimpin dengan melayani. Tauhid tampak pada praksis: ikhlas, amanah, disiplin, dan bekerja nyata,” tutur Rakhim.

Tantangan kontemporer: mistik digital dan komodifikasi agama

Selain menoleh ke sejarah, Rakhim juga mengingatkan tantangan tauhid di era mutakhir. Ia menyebut kemunculan “mistik digital”, komodifikasi agama, maraknya disinformasi keagamaan, hingga praktik “jual beli keselamatan” yang memanfaatkan ketergantungan sebagian masyarakat pada figur tertentu.

Karena itu ia mendorong penguatan literasi digital dan kemampuan tabayun, sekaligus pendalaman manhaj tarjih agar warga tidak mudah terjebak pada otoritas palsu dan konten keagamaan yang menyesatkan.

Baca juga: Buka Pengajian Ramadan PWM Sulsel, Prof Irwan Akib: Tauhid Muhammadiyah Harus Terwujud dalam Keunggulan Amal Usaha

Di tingkat praksis gerakan, ia mengusulkan sejumlah penguatan: pengembangan sekolah tarjih, program Al-Ma’un berbasis data, literasi digital keagamaan, serta kaderisasi akhlak publik, termasuk integritas anti-korupsi.

“Kerja-kerja Al-Ma’un jangan musiman. Harus menjadi peradaban,” kata Rakhim.

Di akhir pemaparannya, Rakhim menegaskan bahwa tauhid dalam Muhammadiyah adalah kekuatan yang terus menuntut pembaruan. Takhayul, bid’ah, dan khurafat, menurutnya, bisa berganti rupa sesuai zaman. Karena itu Muhammadiyah tidak boleh stagnan.

“Tauhid itu energi perubahan umat. Maka Muhammadiyah harus terus bergerak,” ujarnya.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply