KHITTAH.CO, MAKASSAR — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) yang juga Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Abdul Mu’ti, menyampaikan pesan tentang pentingnya ilmu, karakter, dan kebiasaan positif kepada para santri dalam kegiatan silaturahmi dan kajian Subuh di Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara, Makassar, Sabtu, 28 Maret 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Masjid Pesantren KH Abdul Jabbar Ashiry itu dihadiri pimpinan Muhammadiyah, jajaran pesantren, ustadz dan ustadzah, serta seluruh santri.
Dalam tausiyahnya, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa ilmu menjadi kunci utama keberhasilan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Ia mengutip ungkapan populer, “Man aradad dunya fa‘alaihi bil ‘ilmi, wa man aradal âkhirah fa‘alaihi bil ‘ilmi, wa man aradahuma fa‘alaihi bil ‘ilmi,” yang menegaskan pentingnya ilmu untuk meraih kesuksesan.
Selain itu, para santri didorong memiliki tekad kuat (himmah) dalam meraih cita-cita. Tekad tersebut, menurutnya, harus dibarengi dengan semangat dan kebiasaan baik yang dijalankan secara konsisten.
Dalam kesempatan itu, Abdul Mu’ti juga mengingatkan pentingnya membangun generasi unggul. “Kita ingin anak-anak Indonesia menjadi generasi emas Indonesia, bukan generasi cemas Indonesia,” ujarnya.
Ia turut menyampaikan amanah Presiden RI, Prabowo Subianto, terkait penguatan kualitas pendidikan dasar dan menengah sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Mengutip Surat An-Nisa ayat 9, ia menekankan bahwa umat Islam tidak boleh meninggalkan generasi yang lemah. Karena itu, diperlukan upaya serius dalam membentuk generasi yang kuat secara keilmuan, mental, dan spiritual.
Dalam interaksi dengan santri, Abdul Mu’ti mengajak mereka membayangkan peran masing-masing pada 2045, saat Indonesia memasuki usia 100 tahun kemerdekaan. Para santri disebut sebagai calon pemimpin masa depan sekaligus wajah Indonesia di kancah global.
Untuk mendukung hal tersebut, ia memperkenalkan konsep “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” sebagai pedoman hidup. Salah satu kebiasaan yang ditekankan adalah bangun pagi, terutama pada waktu sahur, karena dinilai sebagai waktu paling efektif untuk meningkatkan kualitas diri.
Pada waktu tersebut, santri dianjurkan mengisi kegiatan dengan shalat tahajud, membaca dan menghafal Al-Qur’an, serta mengulang pelajaran. Praktik ini merujuk pada kandungan Surat Al-Isra ayat 79 tentang keutamaan ibadah malam.
Selain itu, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya menjaga shalat lima waktu secara berjamaah sebagai fondasi pembentukan karakter, serta menjaga kesehatan melalui olahraga teratur.
Kebiasaan membaca juga menjadi perhatian utama. Menurutnya, budaya membaca merupakan kunci dalam memperluas wawasan dan membangun peradaban.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi dialog langsung antara Abdul Mu’ti dan para santri terkait cita-cita serta rencana masa depan. Suasana hangat dan antusias mewarnai jalannya acara.
Melalui kegiatan ini, para santri diharapkan semakin termotivasi untuk meningkatkan kualitas diri, baik dalam aspek keilmuan, ibadah, maupun karakter, guna menjadi generasi unggul yang berkontribusi bagi bangsa dan negara.



















