Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Prof Arifuddin Ahmad: Pentingnya Literasi Al-Qur’an untuk Bangun Peradaban Umat

×

Prof Arifuddin Ahmad: Pentingnya Literasi Al-Qur’an untuk Bangun Peradaban Umat

Share this article

KHITTAH.CO, GOWA — Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Prof. Arifuddin Ahmad, mengajak umat Islam menjadikan bulan Ramadan sebagai momentum memperkuat literasi Al-Qur’an sekaligus membangun generasi Qurani yang cerdas secara spiritual dan intelektual.

Hal tersebut disampaikan Prof. Arifuddin dalam ceramah Ramadan di Masjid Agung Syekh Yusuf, Kabupaten Gowa, Jumat, 6 Maret 2026.

Dalam ceramahnya, ia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW lahir di tengah masyarakat Arab yang dikenal sebagai masyarakat jahiliyah. Namun, menurutnya, makna jahiliyah tidak selalu berarti tidak mampu membaca atau menulis.

Mengutip pandangan ulama bahasa Al-Isfahani, Prof. Arifuddin menyebutkan bahwa jahiliyah juga dapat dimaknai sebagai kondisi ketika seseorang mengetahui kebenaran, kebaikan, dan keindahan, tetapi tidak mengamalkannya.

“Bahkan ada yang lebih jahiliyah dari itu, yaitu orang yang tahu mana yang benar dan baik, tetapi justru meninggalkannya dan memilih yang lain,” katanya.

Ia kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan fenomena modern yang menurutnya dapat disebut sebagai “jahiliyah modern”, ketika manusia memiliki pengetahuan tetapi tidak menjadikannya sebagai pedoman dalam bertindak.

Menurutnya, untuk membangun peradaban yang maju, Allah SWT menurunkan Al-Qur’an kepada Rasulullah dengan perintah pertama “Iqra” atau membaca.

Prof. Arifuddin menjelaskan bahwa perintah membaca dalam ayat tersebut tidak menyebutkan objek secara spesifik. Dalam kaidah bahasa Arab, hal itu menunjukkan bahwa seluruh aspek kehidupan dapat menjadi objek bacaan.

“Artinya manusia diperintahkan membaca segala hal dengan kesadaran ketuhanan, mulai dari mengenal Tuhan, mengenal diri sendiri, hingga membaca realitas kehidupan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan untuk mendapatkan pahala, tetapi merupakan petunjuk hidup yang mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia.

Menurut dia, banyak ayat dalam Al-Qur’an bersifat global sehingga membuka ruang bagi manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Sebagai contoh, ia menyinggung perbedaan istilah yang digunakan Al-Qur’an untuk menggambarkan matahari dan bulan. Dalam kajian kebahasaan Al-Qur’an, matahari disebut dengan istilah yang menunjukkan sumber energi, sementara bulan digambarkan sebagai cahaya pantulan.

“Sayangnya, yang menemukan dan mengembangkan kajian ilmiahnya justru bukan dari kalangan umat Islam,” kata dia.

Karena itu, ia mendorong umat Islam menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi bagi pengembangan berbagai disiplin ilmu, mulai dari ilmu alam, teknologi, ekonomi, hingga politik.

Dalam konteks pendidikan, Prof. Arifuddin menilai upaya menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an harus dimulai dari pembiasaan sejak dini.

Ia menjelaskan bahwa dalam sistem pendidikan terdapat tiga jalur utama, yaitu pendidikan informal di keluarga, pendidikan formal di sekolah, dan pendidikan nonformal di masyarakat.

“Madrasah pertama bagi anak adalah rumah. Orang tua harus menjadi guru Al-Qur’an bagi anak-anaknya,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran masjid, sekolah, dan pesantren dalam membangun budaya literasi Al-Qur’an di tengah masyarakat.

Menurutnya, kecerdasan generasi tidak hanya ditentukan oleh ilmu pengetahuan semata, tetapi juga oleh kekuatan iman dan spiritualitas.

Prof. Arifuddin mengingatkan bahwa ilmu tanpa iman dapat disalahgunakan, sementara iman tanpa ilmu juga tidak cukup untuk menghadapi tantangan kehidupan.

“Ilmu tanpa iman seperti lentera di tangan pencuri. Tetapi iman tanpa ilmu seperti orang buta yang tidak tahu harus berbuat apa,” katanya.

Menutup ceramahnya, Prof. Arifuddin berharap Ramadan tidak hanya menjadi bulan ritual ibadah semata, tetapi juga menjadi momentum membangun peradaban Islam melalui pendidikan dan penguatan nilai-nilai Al-Qur’an.

“Semoga Ramadan ini menjadi sekolah peradaban yang melahirkan generasi Qurani, beriman kuat, berakhlak mulia, dan bertindak secara bertanggung jawab,” ujarnya.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner UIAD

Leave a Reply