Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Syaiful Saleh Tekankan Tauhid sebagai Fondasi Manajemen dan Gerakan Persyarikatan

×

Syaiful Saleh Tekankan Tauhid sebagai Fondasi Manajemen dan Gerakan Persyarikatan

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan Dr KH Muh Syaiful Saleh menegaskan bahwa tauhid tidak boleh berhenti pada ranah konseptual, tetapi harus menjadi fondasi dalam manajemen organisasi, pengelolaan amal usaha, dan arah gerakan persyarikatan.

Hal itu ia sampaikan dalam rangkaian Pengajian Ramadan 1447 H PWM Sulsel yang digelar di Pesantren Darul Arqam Gombara, Sabtu, 28 Februari 2026. Di hadapan pimpinan wilayah, daerah, dan pengelola amal usaha, Syaiful menekankan pentingnya menerjemahkan akidah dalam kerja-kerja yang terukur dan sistematis.

Menurut dia, tauhid bukan sekadar pengakuan teologis atas keesaan Allah, melainkan kesadaran menyeluruh bahwa seluruh aktivitas manusia berada dalam bingkai pengabdian kepada-Nya. Kesadaran itu, lanjutnya, harus tercermin dalam cara memimpin, merencanakan program, hingga mengelola sumber daya.

“Tauhid itu bukan hanya diyakini, tetapi dioperasionalkan,” ujar Mudir Pesantren Darul Arqam Gombara Muhammadiyah Sulsel itu.

Syaiful mengingatkan bahwa dalam tradisi Islam, iman selalu digandengkan dengan amal saleh. Karena itu, ia menilai setiap program persyarikatan harus memiliki arah yang jelas, berbasis perencanaan, dan diikuti evaluasi. Tanpa itu, kerja organisasi berisiko berjalan sporadis dan kehilangan orientasi.

Baca juga: Pengajian Ramadan, Sekretaris PWM Sulsel Bahas Tauhid dari Purifikasi hingga Etika Kebangsaan

Ia juga menyinggung pentingnya budaya integritas di lingkungan Muhammadiyah. Menurut dia, akidah yang benar semestinya melahirkan kejujuran, tanggung jawab, dan komitmen terhadap amanah. Jika tauhid benar-benar menjadi dasar, maka praktik manipulasi, penyalahgunaan wewenang, atau pengelolaan yang tidak transparan seharusnya tidak mendapat ruang.

Dalam konteks amal usaha, Syaiful menekankan bahwa sekolah, rumah sakit, dan lembaga sosial Muhammadiyah harus dikelola secara profesional tanpa meninggalkan nilai spiritual. Profesionalisme, menurut dia, justru menjadi bagian dari manifestasi tauhid karena mencerminkan kesungguhan dalam menjalankan amanah.

Ia juga mengajak kader Muhammadiyah untuk meningkatkan kapasitas diri dalam menghadapi perubahan zaman, terutama di bidang teknologi dan ekonomi. Tantangan globalisasi, kata dia, menuntut umat Islam tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan manajemen.

Menurut Syaiful, Risalah Islam Berkemajuan memberikan kerangka bahwa tauhid harus melahirkan gerakan yang dinamis, solutif, dan berpihak pada kemaslahatan. Islam, ujarnya, harus tampil sebagai kekuatan yang menghadirkan kemajuan dan kesejahteraan, bukan sekadar simbol identitas.

“Tauhid yang hidup itu yang mendorong kita bekerja lebih baik, lebih tertib, dan lebih bertanggung jawab,” katanya.

Di akhir pemaparannya, Syaiful mengingatkan bahwa Ramadan menjadi momentum refleksi untuk menata ulang niat dan memperkuat komitmen gerakan. Ia berharap seluruh pimpinan dan kader menjadikan tauhid sebagai kompas dalam setiap pengambilan keputusan, sehingga Muhammadiyah tetap konsisten sebagai gerakan dakwah dan tajdid yang memberi manfaat luas bagi umat dan bangsa.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner ITKESMU SIDRAP

Leave a Reply