Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
ArsipOpini

Th. Sumartana dan Pemikiran Dialogisnya

×

Th. Sumartana dan Pemikiran Dialogisnya

Share this article

fb_img_1481035452947
Oleh : Rahmat Zainal

Soal-Soal Teologis dalam Pertemuan Antar Agama merupakan judul buku yang pada mulanya merupakan skripsi dari seorang teolog Kristen, (alm) Dr. Th. Sumartana. Diterbitkan di Yogyakarta: Interfidei, 2015. Riwayat penulisannya bertitimangsa 45 tahun silam, pada tahun 1971 ketika Th. Sumartana menyelesaikan pendidikan teologi pada Sekolah Tinggi Theologia, Jakarta.

Example 300x600

Menarik, mungkin juga kontroversial, karya Th. Sumartana ini adalah usaha kritis untuk menilai kembali Missi Gereja ditengah masyarakat dan bagaimana berhadapan dengan dunia yang senantiasa berubah. Sebagai Teolog ia dihinggapi semacam kegelisahan ketika berhadapan dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan pertemuan antar umat beragama di Indonesia terutama umat Islam dan Kristen.

Bertumpu pada persoalan-persoalan teologis yang masih membayangi pertemuan antar muka kedua pemeluk agama ini. Th. Sumartana sebagai corong suara yang mewakili Kristen berusaha menilai kembali peran Gereja dan tugas pewartaan yang diemban oleh para Pastor/Pendeta dalam masyarakat, kemudian bagaimana Gereja dan umat Kristen berhadapan dengan umat beragama yang lain dan hidup berdampingan secara harmonis. Dalam karyanya ia mempertanyakan kembali kerja pewartaan yang dialamatkan sebagai proses Proselitisme (upaya pemindahan kepemelukan agama) oleh para misionaris Kristen yang pada masa itu dinilai sangat memaksa dan menimbulkan ketegangan dengan umat beragama lainnya terutama Islam.

Dari Proselitisme ke Dialog

Menilik kembali ketegangan yang mewarnai pertemuan antar agama pada rentang tahun 1960-70an, dimasa itu Indonesia mencapai titik nadirnya ketika berhadapan dengan peralihan rezim. Bermula pada konflik pendirian Gereja di Meulaboh, Aceh dan kerusuhan yang menjalar di Kota Makassar.

Usaha untuk mempertemukan kedua umat yang saling bersitegang ini tidak pula menemukan kata sepakat, gagalnya pertemuan Garut yang saat itu di mediasi oleh pihak pemerintah menjadi saksi bagaimana eksklusivisme mewarnai iklim keberagamaan pada masa itu.

Keberatan utama dari umat Islam sendiri tertuju pada penetrasi missi yang merengsek di wilayah-wilayah yang mayoritas penduduknya muslim. Dalam riwayat perjumpaan yang penuh dengan beban historis inilah Th. Sumartana melontarkan kritik dari dalam, ia kembali memeriksa hasil-hasil pertemuan Dewan Gereja dan pemikiran yang berada di baliknya, terutama mengkritik pemikiran Hendrik Kraemer yang pada tahun 30an sempat menjadi bahan perbincangan, kritik yang di lontarkan terutama berkisar pada cara berpikir yang masih digunakan oleh gereja dan para pewartanya.

Evangelisme adalah sebuah nama bagi kerja perkabaran injil yang tidak hanya berlaku pada non-kristiani bahkan pada orang kristen pun ia berlaku. Cara berpikir inilah yang berusaha di balikkan oleh Th. Sumartana, bukankah gereja dan tugas-tugas missinya perlu diarahkan pada bagaimana berhadapan dengan tantangan dan persoalan yang di hadapi oleh umat manusia yaitu kemiskinan dan ketimpangan bagaikan dua sisi dari koin yang sama. Panggilan kemanusian ini yang seharusnya ditanggapi dan sebagai bagian dari dunia turut berperan dalam membantu umat manusia untuk keluar dari persoalan yang melilit tersebut.

Gagasan Dialog Lintas Iman

Berangkat dari konteks yang lebih mondial pada masa yang tidak jauh berselang, suatu babakan baru dalam hubungan antar agama mendapatkan momentumnya ketika Konsili Vatikan II di Roma menghasilkan dokumen yang dinamakan Nostra Aetate. Secara tersurat mengakui kebenaran yang di kandung oleh agama-agama lain dan secara tersurat pula menghormati posisi Islam.

Dalam pada itu Th. Sumartana berusaha untuk mendesak perubahan dari dalam terutama menggeser sudut pandang yang masih dominan. Dengan mendobrak prasangka yang masih menggelayut disertai kebuntuan dalam hal penerimaan terhadap yang berbeda dan melihat bahwa masalah yang dihadapi oleh umat beragama saat ini bukanlah melulu soal kebenaran teologis yang dianut dan membuat yang lain dan berbeda menjadi sama, tetapi pada soal-soal yang sifatnya nyata dan menghinggapi umat manusia.

Tanpa bisa di pungkiri bahwa soal kebenaran iman juga menyangkut identitas dan terkadang tersandung pada batas-batas tersebut, akan tetapi sebagai umat beragama kita perlu membuka diri. Lebih jauh, Th. Sumartana juga berusaha meninjau ulang kekhasan kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia yang lebih bersikap ramah dan tenggang rasa yang menjadikanya berbeda dengan masyarakat Barat yang dalam sejarahnya sendiri penuh dengan beban prasangka.

Dengan berdasar pada renungan pemikirannya maka ia berkesimpulan bahwa dibutuhkan satu forum bersama dimana para pemeluk agama dapat bertemu dan berdialog, usaha itu ia wujudkan dengan mendirikan Interfidei. Dengan melihat dari sudut mata yang berbeda dan apabila ditinjau dari segi kebangsaan, masyarakat Indonesia sudah mempunyai simpul kalam yang mengikat seluruh elemen baik suku, ras, agama dan segala kepelbagaian didalamnya: Bhineka Tunggal Ika.

*Penulis adalah peneliti senior di lingkar Studi Filsafat dan Humaniora (LSFH).

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner PMB UNIMEN