Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Wakil Ketua PDM Makassar Ramli Haba: Pengelolaan Organisasi Harus Selaras dengan Gerakan Tajdid

×

Wakil Ketua PDM Makassar Ramli Haba: Pengelolaan Organisasi Harus Selaras dengan Gerakan Tajdid

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR – Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Makassar, Dr. H. Muh. Ramli Haba, SH., MH., memaparkan urgensi integrasi manajemen modern dengan nilai-nilai ideologi Islam dalam mengelola persyarikatan.

Pemaparan tersebut disampaikan dalam sesi pengajian ramadan 1447H Pimpinan Daerah Muhammadiyah kota Makassar berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Islamiyah Muhammadiyah Makassar, Sabtu, 7 Maret 2026.

Ramli menjelaskan bahwa manajemen organisasi bukan sekadar pengelolaan administratif, melainkan proses perencanaan dan pengendalian sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan dakwah.

Menurutnya, keberhasilan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam sangat bergantung pada kemampuan anggotanya dalam mengelola potensi manusia, finansial, dan fisik secara berkelanjutan.

“Manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisasi, dan mengendalikan sumber daya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan organisasi,” ujar Ramli Haba saat menjelaskan pengertian umum manajemen di hadapan peserta.

Ia menekankan bahwa fungsi planning, organizing, actuating, dan controlling harus berjalan beriringan.

Lebih lanjut, Ramli mengutip pendapat Hersey dan Blanchard bahwa manajemen merupakan proses kerja sama antara individu dan kelompok beserta sumber daya lainnya.

Hal ini menunjukkan bahwa kolektivitas merupakan kunci utama dalam menjalankan roda organisasi di lingkungan Muhammadiyah.

Ia juga menguraikan unsur-unsur manajemen yang dikenal dengan istilah 6M, yakni man, method, machine, material, money, dan market. Keenam unsur tersebut harus dikelola secara profesional mulai dari riset pasar hingga analisis kebutuhan organisasi agar kualitas yang dihasilkan tetap terjaga.

“Muhammadiyah itu gerakan Islam. Kalau tidak Islam dan tidak bergerak, maka bukan Muhammadiyah,” tegas Ramli mengutip pernyataan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir.

Kutipan ini digunakan untuk mengingatkan kader bahwa setiap tindakan manajemen harus memiliki ruh pengabdian.

Ramli menyampaikan bahwa landasan teologis organisasi berpedoman pada Al Quran Surah Ali Imran ayat 104. Ayat tersebut menjadi dasar bagi setiap kader untuk melakukan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar serta membentuk karakter gerakan yang berfokus pada kemaslahatan umum.

Selain aspek manajerial, Ramli Haba menjelaskan bahwa ideologi Muhammadiyah bersumber pada Al Quran dan Sunnah dengan fokus pada gerakan tajdid atau pemurnian dan modernisasi. Cita-cita utama dari gerakan ini adalah mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya melalui pemikiran yang maju dan berkeberlanjutan.

Dalam paparannya, ia menyebutkan beberapa dokumen ideologis penting seperti Matan Keyakinan dan Cita-cita Muhammadiyah (MKCH) serta Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM).

Dokumen-dokumen tersebut berfungsi sebagai panduan perilaku bagi seluruh warga persyarikatan dalam kehidupan sehari-hari.

“Suatu organisasi dinilai baik jika menjadi wadah yang memiliki tujuan jelas, struktur yang teratur, budaya sehat, serta dukungan komitmen dari seluruh anggotanya,” ungkap Ramli kembali.

Ia menambahkan bahwa tanpa komitmen anggota, sistem manajemen secanggih apa pun tidak akan membuahkan hasil maksimal.

Sebagai penutup, Ramli berharap agar seluruh jajaran pimpinan dan anggota dapat mengimplementasikan tiga gerakan utama, yaitu Gerakan Islam, Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, dan Tajdid.

Sinergi antara manajemen yang profesional dan akhlak yang mulia diharapkan mampu membawa Muhammadiyah Makassar menjadi organisasi yang semakin dinamis dan berdampak bagi masyarakat luas.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply