Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Global Flourishing Study: Indonesia Nomor Satu, Makna Hidup dan Relasi Sosial Jadi Penopang Utama

×

Global Flourishing Study: Indonesia Nomor Satu, Makna Hidup dan Relasi Sosial Jadi Penopang Utama

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR — Indonesia menempati peringkat teratas dalam pemeringkatan flourishing atau kesejahteraan menyeluruh dunia melalui Global Flourishing Study yang dipublikasikan di jurnal Nature Mental Health. Studi ini melibatkan lebih dari 200.000 responden dari 22 negara dan menilai kesejahteraan secara multidimensi mencakup kesehatan fisik dan mental, makna hidup, karakter dan kebajikan, relasi sosial, serta stabilitas finansial.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar Putri Ayu Wiwik Wulandari mengingatkan, temuan tersebut tidak tepat bila disederhanakan menjadi klaim “Indonesia negara paling bahagia”. Menurutnya, flourishing bukan sinonim bahagia, melainkan kondisi hidup yang bertumbuh secara utuh.

“Flourishing bukan hanya merasa senang atau puas sesaat. Ia terkait dengan hidup yang bermakna, relasi yang hangat, kesehatan yang relatif terjaga, nilai-nilai yang diyakini, dan harapan tentang masa depan,” kata Putri Ayu saat diwawancarai, Rabu, 14 Januari 2026.

Putri Ayu menjelaskan, seseorang tetap bisa flourishing meski sedang lelah, berjuang, atau menghadapi kesulitan. Karena itu, konsep ini berbeda dari “bahagia” yang kerap dipahami sebagai emosi positif semata, juga berbeda dari “sejahtera” yang sering dipersempit sebagai ukuran ekonomi.

“Orang bisa saja tidak kaya dan tidak selalu merasa bahagia, tetapi tetap flourishing karena hidupnya terasa berarti, terhubung, dan punya arah,” ujarnya.

Makna hidup dan relasi sosial

Putri Ayu menilai, pembacaan yang paling penting dari Global Flourishing Study adalah memahami dimensi penilaiannya. Studi tersebut tidak hanya menimbang kebahagiaan, tetapi juga makna dan tujuan hidup, karakter dan kebajikan seperti kejujuran, empati, kontribusi serta relasi sosial yang dekat dan suportif.

“Yang sering disalahartikan di media adalah penyederhanaan hasilnya menjadi ‘negara paling bahagia’. Padahal, skor tinggi Indonesia lebih banyak ditopang oleh makna hidup dan relasi sosial, bukan karena minimnya stres atau bebas dari masalah ekonomi dan kesehatan mental,” kata Putri Ayu.

Dalam konteks itu, ia menekankan bahwa flourishing tidak meniadakan penderitaan. Indeks tersebut, menurutnya, justru menyoroti kapasitas manusia untuk tetap bertumbuh di tengah keterbatasan.

Siri’ na pacce dan rasa “tidak sendiri”

Putri Ayu melihat budaya komunal menjadi salah satu faktor yang memberi penjelasan mengapa relasi sosial Indonesia relatif kuat. Di Makassar, nilai siri’ na pacce kerap hadir sebagai etika sosial yang mengikat: menjaga harga diri, menguatkan solidaritas, dan merawat empati pada penderitaan orang lain.

“Dalam praktik sehari-hari, ini terlihat dari kebiasaan saling membantu, kuatnya ikatan keluarga, dan perasaan ‘tidak sendiri’ ketika menghadapi masalah,” ujarnya. Secara psikologis, rasa memiliki (sense of belonging) dan diakui oleh lingkungan sosial berkontribusi pada makna hidup dua elemen penting dalam flourishing.

Kelompok muda rentan, indikator perlu dibaca

Meski Indonesia berada di peringkat teratas, Putri Ayu mengingatkan bahwa flourishing hampir pasti tidak merata. Kelompok usia 18 sampai 24 tahun, mahasiswa, dan pekerja informal termasuk kelompok yang rentan. Pada kelompok muda, ia kerap melihat ketimpangan: makna hidup bisa tinggi, tetapi kesehatan mental dan stabilitas ekonomi rendah.
Indikator yang perlu diwaspadai, antara lain meningkatnya kecemasan, kelelahan berkepanjangan, perasaan tidak punya masa depan yang jelas, keterasingan sosial meski “ramai” secara digital, serta penurunan fungsi akademik atau produktivitas kerja.

Di lingkungan kampus, tanda-tanda itu dapat terbaca dalam perubahan pola yang berulang: menarik diri dan sering absen, kehilangan minat pada aktivitas yang dulu disukai, performa akademik menurun konsisten, sulit fokus, tugas menumpuk, relasi sosial makin dangkal, konflik meningkat, hingga emosi yang mudah cemas atau tampak apatis. “Dosen dan teman sebaya sering kali bisa mendeteksi lebih dini melalui tren perubahan, bukan dari satu kejadian,” kata Putri Ayu.

Komunalitas yang menekan

Putri Ayu juga mengingatkan bahwa budaya komunal dapat menjadi tekanan ketika norma sosial terlalu menuntut keseragaman misalnya, harus selalu kuat, harus selalu bersyukur, dan tidak boleh mengeluh, apalagi mencari bantuan profesional. Stigma terhadap konseling kerap lahir dari niat baik yang keliru: memberi nasihat sebelum mendengarkan.

Baca Juga:Refleksi Akhir Tahun 2025, Muhammadiyah Serukan Solidaritas dan Keteladanan Elit Bangsa

“Keseimbangannya adalah membangun budaya empati yang memberi ruang bagi kerentanan. Meminta bantuan bukan tanda lemah, melainkan bagian dari menjaga relasi dan kesehatan bersama,” ujarnya.

Agenda kampus: ruang aman dan literasi kontekstual

Sebagai langkah praktis, Putri Ayu mengusulkan tiga agenda. Pertama, membangun ruang aman berbasis komunitas kecil seperti mentoring, peer support, atau komunitas minat yang menekankan relasi bermakna, bukan semata prestasi.

Kedua, memperkuat literasi kesehatan mental yang kontekstual, menggunakan bahasa lokal dan nilai budaya setempat agar isu ini terasa dekat dan tidak dianggap mengancam identitas komunal.

Ketiga, mengintegrasikan makna dan kontribusi sosial dalam aktivitas kampus, misalnya melalui pengabdian masyarakat, proyek kolaboratif, atau refleksi nilai hidup. “Supaya mahasiswa tidak sekadar bertahan kuliah, tetapi merasa hidupnya berguna dan terarah,” kata Putri Ayu.

Ia menutup dengan menekankan pentingnya menjadikan hasil riset sebagai cermin kritis. “Riset seperti Global Flourishing Study jangan berhenti sebagai kebanggaan statistik. Ini pengingat tentang kekuatan yang kita miliki dan kelompok mana yang masih perlu diajak bertumbuh bersama,” ujarnya.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply