
KHITTAH. CO, MAKASSAR- Tangannya sempat dingin, napasnya dijaga pelan-pelan. Di lantai 4 Gedung Iqra Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, seorang siswi SD Muhammadiyah Temanggung berdiri dengan cerita yang telah ia peluk sejak kecil. Namanya Janitra Radmila Suryakanti, peserta lomba Storytelling pada Olimpiade Ahmad Dahlan (OlympicAD) VIII.
Datang jauh dari Temanggung, Jawa Tengah, Janitra tak hanya membawa naskah cerita berbahasa Inggris. Ia membawa perjalanan panjang tentang keberanian yang tumbuh perlahan dari rumah, sekolah, dan dukungan orang-orang terdekatnya.
“Rasanya tegang, takut lupa, takut kecepetan,” ucap Janitra, sesaat setelah tampil, Jumat, 13 Februari 2026, ketika ditemui di luar ruang lomba.
Ia mengaku sejak kecil bukan anak yang berani berdiri di depan banyak orang. “Dari dulu sebenarnya nggak berani banget,” katanya jujur.
Namun, justru di situlah cerita Janitra bermula.
Sejak kecil, Janitra sudah akrab dengan bahasa. Ketertarikannya pada bahasa Inggris tumbuh dari kebiasaan mengikuti kegiatan berbahasa dan membaca. Orang tuanya menjadi sosok paling berperan dalam menyalakan api semangat itu. Ibunya yang berlatar belakang guru mendorong Janitra mengenal berbagai bahasa, seperti bahasa Indonesia, Jawa, hingga Inggris.
“Aku pilih bahasa Inggris karena pengen kenalan sama orang luar negeri,” tuturnya polos, tapi penuh cita-cita.
Baca juga: Catat! Inilah Pesan Haedar Nashir di Pembukaan OlympicAD VIII Makassar
Persiapan menuju OlympicAD VIII bukan perjalanan singkat. Sejak tahun lalu, Janitra mulai berlatih dengan serius, di rumah, di sekolah, setiap ada waktu luang. Ia belajar mengatur suara, menjaga kondisi tubuh, bahkan punya ritual kecil sebelum tampil. “Aku jaga suara, makan kencur,” katanya sambil tersenyum.
Tantangan terberatnya bukan pada hafalan, melainkan pada pendalaman ekspresi. “Baca ekspresi dan pendalaman peran itu susah,” ujarnya. Tapi ia terus mencoba, meski berkali-kali diliputi rasa ragu.
Janitra tiba di Makassar sejak sehari sebelum lomba. Saat melihat suasana OlympicAD VIII yang ramai dan meriah, perasaannya campur aduk. “Senang, gembira, ramai banget,” katanya. Di balik keramaian itu, ada gugup yang tak sepenuhnya hilang, hingga ia benar-benar melangkah masuk ke ruangan lomba.
“Pas masuk itu rasanya gelisah,” kenangnya. Namun, ketika semua selesai, satu perasaan mengalir pelan, lega. “Kayak… udah selesai. Udah nggak tegang lagi.”
Ia tak datang sendiri. Dari sekolahnya, empat siswa ikut ambil bagian dalam berbagai cabang lomba, mulai dari kaligrafi, dakwah digital, hingga Olimpiade Matematika. Kebersamaan itu menjadi penguat, saling menyemangati di tengah tekanan lomba.
Di balik semua itu, Janitra menyimpan rasa terima kasih yang dalam untuk orang tua, guru, dan teman-temannya. “Aku berterima kasih karena orang tua mau membiayai ke Makassar, nyiapin aku, dan nggak marah-marah,” katanya lirih. Jika bisa, satu hal yang ingin ia lakukan setelah lomba adalah memeluk orang tuanya.
Kepada guru-gurunya, Janitra mengingat bagaimana ia terus dilatih, diingatkan, dan ditemani agar tidak lupa atau blank saat tampil. Sementara kepada teman-temannya di sekolah, ia menyampaikan rasa terima kasih karena saling menguatkan, saling mengingatkan ketika lelah dan malas datang.
Pesannya sederhana, tapi kuat,
“Semangat mencoba hal baru, jangan pernah menyerah, dan jangan takut salah.”
Janitra berharap langkah kecilnya di panggung OlympicAD VIII bisa membawanya ke lomba-lomba yang lebih tinggi, bahkan hingga tingkat internasional. “Pengen kenal orang luar, menjalin pertemanan, dan kalau bisa… juara satu,” ucapnya, tersenyum malu-malu.
Dari Gedung Iqra lantai 4 Unismuh Makassar, Janitra pulang membawa lebih dari sekadar pengalaman lomba. Ia membawa satu kemenangan sunyi, yaitu keberanian untuk berdiri, bercerita, dan percaya pada dirinya sendiri.





















