Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
LiterasiOpini

Zakat sebagai Kristalisasi Suara Hati Membangun Ketangguhan Sosial

×

Zakat sebagai Kristalisasi Suara Hati Membangun Ketangguhan Sosial

Share this article

Oleh: Agusliadi Massere (Pimpinan BAZNAS Kab. Bantaeng 2025-2030)

KHITTAH. CO – Zoon Politicon, inilah penegasan Aristoteles yang menegaskan bahwa manusia adalah “makhluk sosial” atau “makhluk politik”. Manusia dalam Islam ditegaskan sebagai sosok yang bukan sekadar menjalankan fungsi kehambaan saja, tetapi termasuk fungsi kekhalifahan. Refleksi dan kristalisasi dari ini pun sehingga puasa juga dimaknai bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Saya sepakat dengan seorang senior di Ikatan Remaja Muhammadiyah yang dipanggil Daeng Ketua, bahwa “Puasa juga menahan marah yang akan meledak dan menahan kata yang hampir melukai”.

Islam terutama melalui rukun Islam pada dasarnya bukan hanya mengandung nilai dan makna yang berorientasi membangun personal strength (ketangguhan personal), juga social strength (ketangguhan sosial). Syahadat, salat, dan puasa itu berorientasi untuk pembangunan personal strength, sedangkan zakat dan haji itu berorientasi pembangunan social strength. Ini ketika melihat fungsionalitas utamanya.

Manusia sebagaimana yang ditegaskan dalam Islam yang membawa fungsi kekhalifahan bahkan diharapkan senantiasa memancarkan spirit kerahmatan, rahmatan lil ‘alamin, begitu pun nyata dalam kehidupan posisi manusia seperti yang ditegaskan oleh Aristoteles di atas, sehingga manusia tidak boleh egois, di mana dirinya hanya berorientasi membangun personal strength. Manusia juga harus dan bahkan wajib memberikan porsi perhatian lebih terhadap lahir dan terbangunnya social strength.

Di tengah kehidupan ini dalam menjalani hidup berlaku sistem sosial di balik kebebasan personal yang dimiliki setiap manusia. Makna sederhananya minimal, bahwa manusia memiliki kebebasan bertindak, tetapi konsekuensi atas tindakannya manusia tidak bebas untuk memilihnya dan bukan hanya itu sering kali dampak atau efek dari tindakan tersebut bukan hanya ke pelakunya tetapi juga orang-orang yang ada disekitarnya.

Contoh sederhana yang bisa diilustrasikan. Seorang pelacur kehadirannya bukan hanya karena ketidakpuasan dalam urusan seksual, tetapi lebih banyak karena faktor ketidakcukupan atas kebutuhan ekonomi bahkan secara spesifik kebutuhan makan sehari-hari. Kemudian, mengapa ini terjadi? Bisa jadi karena manusia lainnya, muslim lainnya hanya fokus membangun ketangguhan personal melalui syahadat, salat, dan puasa. Mereka enggan untuk berzakat, berinfaq, dan bersedekah, apatah lagi untuk memaksimalkan pendayagunaan zakat yang berpotensi mengubah dan meningkatkan kualitas hidup seseorang dan/atau masyarakat. Padahal potensi negatif dari pelacur akan menyasar juga orang-orang yang ada disekitar kita, minimal merusak mental generasi muda.

Saya pun menduga, mengapa Islam tertinggal dalam percaturan global dan peradaban modern hari ini. Karena, penganutnya lebih banyak yang fokus menjaga salatnya di tengah malam yang berorientasi surga di akhirat ketimbang mencoba memadukan pula dengan kepedulian dan empati terhadap tetangganya. Salatnya pun, mungkin masih banyak hanya memenuhi ritual kewajiban ketimbang sebagai bentuk character building yang tentu saja dampaknya bukan hanya ke dirinya tetapi ke orang lain.

Puasanya pun bisa jadi sekadar membangun ketangguhan untuk bisa menahan lapar dan haus, itu pun hanya satu bulan di bulan Ramadan. Tetapi, puasanya belum mampu membangun nilai dan memberikan makna yang akan memengaruhi proses algoritmik dirinya dalam mengambil kesimpulan dan membuat keputusan—puasanya  belum mampu mengendalikan dirinya. Tentu saja kristalisasi dari kegagalan puasa ini terpampang jelas dalam kehidupan sosial-politik di mana para politisi, pejabat negara, dan elit bangsa hari ini masih banyak yang terjebak dalam tindakan kejahatan ekstrem yang bernama korupsi.

Bahkan seorang Buya Ahmad Syafii Maarif pernah menggambarkan kondisi paradoks dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan Indonesia. Menurutnya, jamaah haji terus bertambah setiap tahunnya secara drastis, tetapi tidak berbanding lurus dengan perbaikan moral bangsa. Yang disorot Buya Syafii ini terutama tidak berbanding lurus dengan tata kelola negara.

Bahkan Indonesia pernah mempertontonkan satu penampakan yang sangat paradoks dan miris. Seorang buronan koruptor, setelah lama dicari dan dikejar untuk ditangkap, akhirnya tertangkap dalam keadaan sedang makan sahur—tentu saja maksudnya sedang ingin berpuasa. Pertanyaannya, berpuasa tetapi korupsi? Jadi sebenarnya bukan hanya rapuh dalam social strength, tetapi juga masih rapuh dalam personal strength.

Kemarin, di tulisan pertama atau yang disajikan di hari pertama Ramadan 1447 H—jika mengikuti pandangan Muhammadiyah—saya secara sekilas dan tersirat menggambarkan bahwa ayat-ayat dalam Al-Qur’an dengan menggunakan teknologi tinggi dalam menganalisis kandungan atau ajarannya, ternyata ayat-ayat yang berorientasi ke kehidupan sosial jauh lebih banyak ketimbang yang berorientasi personal dan relasinya dengan Allah Swt.

Dari gambaran di atas, saya pun mendapatkan satu pemahaman dan kesadaran, bahwa sebagaimana rukun Islam yang satu padu, sejatinya orientasi membangun ketangguhan personal harus beriringan dengan orientasi pembangunan ketangguhan sosial. Sebab, tanpa integrasi dan sinergi keseluruhannya baik dilihat dari kedua orientasi ketangguhan ini maupun dilihat dari konteks rukun Islam, itu akan mengalami kepincangan dan selanjutnya berpotensi mengalami kelumpuhan.

Allah pun sudah berkali-kali lewat beberapa ayat-ayatnya dalam Al-Qur’an yang sesungguhnya menegaskan keterpanduan dua orientasi ketangguhan tersebut di atas. Isyarat Allah sangat jelas bahkan diulang-ulang. Allah senantiasa menyandingkan antara perintah salat yang berorentasi langsung terhadap ketangguhan personal dan perintah zakat yang berorientasi terhadap ketangguhan sosial. Bahkan sebenarnya, ketika kita menyelam ke dalam kedalaman rukun Islam itu sendiri mulai dari rukun pertama sampai rukun terakhir atau rukun kelima, di dalamnya—khususnya yang diungkapkan sebagai orientasi ketangguhan personal d iatas—ada keseimbangan, integrasi, dan sinergi kedua ketangguhan tersebut.

Coba kita perhatikan dan renungkan dari dua kalimat syahadat. Coba kita selami di balik perintah salat, ternyata Allah melalui ajarannya juga sangat mengharapkan dan memberikan apresiasi tinggi bagi yang melaksanakan salat berjamaah. Tanpa kecuali, coba kita renungkan amalan dan ibadah yang dianjurkan dan melekat pula dalam puasa, ternyata orientasi ketangguhan sosial pun ada di dalamnya.

Sambil merilekskan tarian jari-jari dari kata pertama sampai kalimat ini, membaca berkali-kali dan berulang-ulang susunan kalimat-kalimat di atas, serta pikiran dan perasaan berselancar di belantara referensi, saya kembali menemukan satu percikan pemahaman dan kesadaran. Zakat mengajarkan dan meletakan fondasi utama tentang nilai dan makna ketangguhan sosial. Ketangguhan personal baik melalui syahadat, salat, dan puasa tidak memberikan dampak positif kontribusinya tidak terwujud, dan fungsionalitasnya tidak terasa dalam kehidupan ketika tidak dilatih, dipupuk, dibangun, dan diperkuat melalui nilai dan makna zakat.

Zakat sejatinya sebagai kristalisasi suara hati, suara ilahiah, suara Gos spot. Zakat mengandung nilai dan spirit utama, “Memberi”, di mana ini pun sebagai refleksi dari ar-Rahman dan ar-Rahim-Nya Allah.

Spirit utama zakat ini pun berada dalam ruang “Anggukan universal” jika meminjam istilah Ary Ginanjar Agustian. Artinya, oleh siapa pun, manusia di mana pun di muka bumi ini ketika berhadapan dengan situasi yang memprihatikan dan membutuhkan uluran tangan, pada dasarnya dari lubuk hati yang paling dalam dipastikan ingin “Memberi” dan “Mengasihi”.

Anggukan universal atau sifat dan prinsip mendasar manusia ini senantiasa hadir karena sesungguhnya sebagaimana pandangan dan pemahaman agama Ary Ginanjr—dan saya sepakat dengan Ary Ginanjar setelah memahami beberapa firman Allah dan berbagai pandangan otoritatif lainnya—”Sejatinya bahwa dalam diri manusia telah mendapat tiupan ruh dari Tuhan, yang artinya manusia memiliki rekaman sifat-sifat Tuhan dalam God Spot-nya. Dan salah satu sifat tersebut adalah dorongan/motivasi untuk bersikap rahman-rahim atau pengasih dan penyayang”.

Bukan hanya karena tiupan ruh dari Allah itu, dalam kehidupan ini pun sebagai muslim, dipastikan sudah ribuan bahkan mungkin jutaan kali membaca basmalah, bismillahirrahmanirrahim, yang sejatinya berdasarkan hukum habits. mekanisme kerja alam bawah sadar, dan alur pembentukan karakter dari Allah, sejatinya nilai dan spirit rahman-rahim atau pengasih atau penyayang—yang mengandung pula spirit dan nilai senantiasa “Memberi” senantiasa terpancar dalam kehidupan keseharian kita.

Kristalisasi dari suara hati utama dan pertama dari setiap manusia terutama muslim itu adalah zakat atau pun jika nisab dan/atau haul hartanya belum cukup tetap bisa dimaksimalkan melalui infaq dan sedekah. Zakat tanpa kecuali infaq dan sedekah sejatinya jika kita tidak membohongi kata hati, suara hati, maka itu akan senantiasa mewarnai kehidupan kita. Andaikan hati tidak tertutupi oleh belenggu hati dipastikan zakat dan cahaya zakat akan terpancar terang untuk hadir memancarkan spirit kerahmatan dalam kehidupan umat, warga, dan masyarakat.

Terkadang memang hati tertutupi oleh tujuh belenggu hati, sehingga zakat tanpa kecuali infaq dan sedekah tidak terkristalisasi tidak nyata secara optimal dalam kehidupan. Sehingga potensi zakat yang diperkirakan mencapai enam ratus triliun belum mampu mencapai seperlimanya yang terealisasi. Padahal ada banyak manfaat zakat terutama untuk membangun ketangguhan sosial. Ketangguhan sosial penting sebab hal sebaliknya berpotensi menimbulkan ketimpangan sosial sampai lahirnya keretakan sosial yang cepat atau lambat akan bermuara pada kehancuran tata kehidupan.

Masih banyak kajian tentang zakat, yang belum sempat diulas di dalam tulisan ini, meskipun demikian jika kita menyelami tulisan ini, kita akan menemukan banyak pemahaman dan kesadaran lain dan baru yang tidak terungkap dari tulisan ini.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply