KHITTAH.CO, Makassar – Di tengah derasnya arus digital, ketika kecerdasan buatan mulai menggantikan banyak fungsi manusia, satu pertanyaan besar muncul dalam forum Pengajian Ramadan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan di Pesantren Gombara: apakah agama mengikuti zaman, atau zaman yang harus tunduk pada agama?
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel, Prof Zulfahmi Alwi tidak menjawabnya dengan slogan. Ia memulainya dengan satu fondasi yang ia sebut sebagai jantung Muhammadiyah: tauhid sebagai worldview.
“Tauhid menjadi sumber cara memperoleh pengetahuan. Tidak boleh lepas. Supaya jangan jadi sekuler,” ujarnya di hadapan peserta pengajian Ramadan PWM Sulsel, Ahad, 1 Maret 2026.
Bagi Zulfahmi, tauhid bukan sekadar keyakinan teologis yang melangit. Ia adalah cara berpikir, tolok ukur kebenaran, sekaligus basis membangun peradaban. Jika tauhid hanya berhenti pada pengakuan lisan, maka ia menjadi spiritualisme yang steril dari realitas sosial. Tetapi jika tauhid hadir sebagai sistem kepercayaan etis, ia melahirkan keadilan, membebaskan dari ketidakberdayaan, dan menolak superioritas semu. Di sinilah manhaj tarjih menemukan relevansinya.
Menghindari Fanatisme Mazhab
Sebelum masuk pada metodologi, Zulfahmi lebih dulu mengingatkan alasan Muhammadiyah tidak berafiliasi pada satu mazhab tertentu. Ia menyebutnya sebagai pilihan sadar untuk menghindari konflik.
“Kenapa Muhammadiyah memilih tidak berafiliasi sama satu mazhab? Itu dikarenakan Muhammadiyah ingin menghindari konflik,” kata Guru Besar UIN Alauddin itu.
Baca juga: KH Abbas Baco Miro: Manhaj Tarjih Kunci Menjaga Akidah dan Merawat Amal Usaha Muhammadiyah
Ia memberi contoh sejarah pertengkaran antarmazhab fikih maupun teologi. Fanatisme, menurutnya, lahir ketika dalil tidak lagi didialogkan dalam satu kesatuan pandangan dunia.
“Jika gagal mendialogkan dalam satu kesatuan pandangan dunia yang utuh, maka yang muncul dakwatu ta’assub,” tegasnya.
Karena itu, manhaj tarjih bukan sekadar teknik memilih dalil terkuat. Ia adalah sistem berpikir yang memuat wawasan, sumber hukum, pendekatan, dan prosedur teknis dalam merespons realitas sosial dari sudut pandang Islam.
Bayani, Burhani, Irfani
Dalam paparan Zulfahmi, manhaj tarjih berdiri di atas tiga pendekatan epistemologis: bayani, burhani, dan irfani.
Pendekatan bayani berpijak pada nash, dengan perhatian pada kesahihan transmisi dan makna zahir teks. Di sinilah disiplin usul fikih bekerja.
Namun Muhammadiyah tidak berhenti di situ.
Pendekatan burhani menghadirkan penalaran ilmiah dan temuan empiris. Fatwa rokok dan pandemi Covid-19 menjadi contoh. Dalil Al Quran dan hadis dikorespondensikan dengan bukti medis dan statistik kesehatan. Fatwa lahir bukan dari teks semata, melainkan dari dialog antara wahyu dan realitas.
Sementara irfani membuka ruang pengalaman batin dan dimensi etis. Berpakaian rapi, bersikap ihsan dalam menyembelih hewan, hingga menjaga kesantunan publik, adalah ekspresi nilai spiritual yang tidak semata legal-formal.
Bagi Zulfahmi, tauhid menyatukan ketiganya.
“Tauhid adalah fondasi epistemologis yang menolak dikotomi dan mendorong dialog antara wahyu, akal, dan pengalaman,” katanya.
Jika salah satu dipisahkan, agama bisa berubah menjadi tekstualisme kering atau spiritualisme yang menjauh dari dunia.
Dari Normatif ke Transformatif
Bagian paling tajam dari materi Zulfahmi adalah gagasan rekonstruksi akidah.
Selama ini, akidah sering dipahami sebagai seperangkat dogma yang diwariskan, tanpa mempertimbangkan relevansi sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan. Model ini melahirkan fatalisme. Bencana dianggap takdir semata. Kemiskinan dipandang ujian yang cukup disikapi dengan sabar. Manhaj tarjih menawarkan pergeseran paradigma.
Rekonstruksi akidah berarti menggeser orientasi dari sekadar meyakini menjadi memahami dan mengaplikasikan secara kritis dan multidisipliner. Tauhid tidak menafikan ikhtiar. Justru ia menempatkan manusia sebagai khalifah yang bertanggung jawab atas mitigasi bencana, penguatan ekonomi, dan pengelolaan lingkungan.
Muhammadiyah Disaster Management Center menjadi contoh konkret. Penanganan bencana tidak berhenti pada doa, tetapi masuk pada edukasi mitigasi berbasis sains, respons kemanusiaan lintas agama, dan rehabilitasi psikososial.
Begitu pula dalam isu lingkungan, lahir Fikih Air yang memandang air bukan hanya sebagai alat bersuci, tetapi amanah tauhid dan hak publik yang harus dijaga. Akidah, dalam kerangka ini, menjadi energi transformasi sosial.
Tantangan Era Gen Z dan AI
Di tengah diskusi, moderator mengisahkan pertanyaan generasi Z tentang kiamat yang terjadi pada hari Jumat, sementara di belahan dunia lain masih hari Kamis. Pertanyaan itu mencerminkan cara berpikir baru yang menuntut rasionalitas.
Zulfahmi mengakui perubahan zaman tidak bisa dihindari.
“Peradaban itu akan terus berkembang dan berubah,” katanya. “Permasalahan juga akan terus berkembang dan berubah.”
Di era artificial intelligence, ia mengingatkan bahwa teknologi harus tetap berada dalam kendali nilai wahyu. Mesin tidak memiliki hati. Karena itu, manusia tidak boleh kehilangan arah moralnya.
Tauhid, katanya, harus menjadi landasan dalam menghadapi disrupsi digital, menjaga prinsip tabayun di tengah banjir informasi, dan memastikan etika tetap hidup dalam ruang virtual.
Tauhid sebagai Energi Peradaban
Di akhir pemaparannya, Zulfahmi menegaskan bahwa tauhid bukan sekadar konsep teologis, tetapi energi peradaban.
Tauhid yang aktif dan progresif melahirkan amal sosial, membebaskan dari ketidakberdayaan, dan mendorong keadilan. Ia menolak sikap merasa paling tinggi dan menegaskan kesetaraan manusia.
Dalam konteks Muhammadiyah, manhaj tarjih adalah ruh yang menjaga agar gerakan tetap terbuka, tidak fanatik, tetapi juga tidak kehilangan prinsip.
Di Gombara, di tengah suasana Ramadan, diskusi itu tidak hanya berbicara tentang dalil dan metodologi. Ia berbicara tentang bagaimana iman berjumpa dengan realitas, bagaimana wahyu berdialog dengan sains, dan bagaimana tauhid tetap relevan di tengah dunia yang terus berubah.
Dan mungkin di situlah letak uniknya Muhammadiyah, seperti yang dikutip Zulfahmi dari para akademisi Barat: modern, tetapi tetap santun dan menjunjung tinggi budaya.
Sebuah tauhid yang tidak hanya diyakini, tetapi dihidupkan.





















