Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Prof Gagaring Pagalung: Akidah Kuat Harus Berbuah Kesejahteraan Ekonomi Umat

×

Prof Gagaring Pagalung: Akidah Kuat Harus Berbuah Kesejahteraan Ekonomi Umat

Share this article

KHITTAH.CO, Makassar — Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Prof Gagaring Pagalung, menegaskan bahwa penguatan akidah tidak boleh berhenti pada aspek ritual dan wacana tauhid semata, tetapi harus bermuara pada kesejahteraan ekonomi umat melalui kerja-kerja pemberdayaan yang terukur dan berkelanjutan.

Ia menyampaikan hal itu saat membawakan materi dalam rangkaian Pengajian Ramadan PWM Sulsel, Ahad, 1 Maret 2026.

Menurut Prof Gagaring, pengajian adalah bagian dari “hak tubuh” untuk disehatkan, bukan hanya melalui nutrisi, tetapi juga lewat penguatan spiritualitas, keagamaan, dan pengetahuan. Ia bahkan mengibaratkan peserta yang hadir, pimpinan daerah, hingga para rektor, sebagai “Lemhannas”-nya Muhammadiyah, tempat penguatan kapasitas kepemimpinan dalam suasana Ramadan.

Dalam pemaparannya, Prof Gagaring menegaskan akhidah merupakan fondasi utama. Bila fondasi lemah, bangunan apa pun mudah rapuh. Karena itu, penguatan tauhid yang banyak dibahas dalam sesi-sesi sebelumnya perlu diterjemahkan ke ranah muamalah, khususnya bidang ekonomi. Ia menekankan bahwa takwa dan iman membuka pintu rezeki, namun rezeki tidak semestinya dipersempit maknanya hanya sebagai rupiah.

“Rezeki itu jangan diukur sebagai rupiah. Rezeki bisa berupa ilmu pengetahuan, pemahaman, dan banyak hal,” ujarnya.

Roadmap Kesejahteraan Ekonomi Umat

Memasuki pokok materi, Prof Gagaring memaparkan gagasan roadmap menuju kesejahteraan ekonomi umat. Menurutnya, akhidah yang kuat harus melahirkan karakter tangguh, institusi profesional, serta etos kerja tinggi di seluruh struktur Muhammadiyah, mulai wilayah, daerah, hingga amal usaha, termasuk perguruan tinggi Muhammadiyah.

Ia juga mengingatkan pentingnya kesiapan menghadapi tantangan global dan agenda internasionalisasi. Orientasinya tidak semata capaian material, tetapi menuju well-being dan wellness: kesejahteraan yang menghadirkan ketenteraman, kenikmatan, dan ridha Allah.

Prof Gagaring menguatkan model pemberdayaan lewat perumpamaan “pohon yang baik”: akar kuat, batang menjulang, dan buah melimpah. Ia menafsirkan akar sebagai iman yang menghujam, batang sebagai pendirian yang kokoh, dan buah sebagai produktivitas serta manfaat sosial.

Teologi Al-Ma’un

Prof Gagaring kemudian menautkan penguatan akhidah dengan teologi Al-Ma’un sebagai dasar ekonomi berkeadilan. Ia menyebut teologi Al-Ma’un mengajarkan transformasi modal sosial menjadi aset produktif, pemberdayaan kelompok lemah, serta etos kerja progresif, bukan sekadar bekerja, tetapi terus meningkat dan bertumbuh.

Ia menggambarkan siklus ekonomi Al-Ma’un secara ringkas melalui tahapan pengumpulan modal sosial, pengelolaan amal usaha, lalu pemberdayaan menuju kemandirian.

Untuk memperjelas, ia mengangkat kisah Utsman bin Affan saat membeli sumur Raumah di Madinah. Dengan strategi “setengah”, Utsman membeli sebagian sumur, mengatur giliran pemanfaatan, lalu memberi akses air gratis sehingga akhirnya sumur tersebut menjadi sarana maslahat publik. Dari kisah itu, Prof Gagaring menekankan ekonomi umat memerlukan kecerdasan strategi, bukan hanya niat baik.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan wakaf produktif dan bahkan wakaf abadi, yakni wakaf yang dikelola profesional sehingga manfaatnya terus mengalir lintas generasi.

Menutup materinya, Prof Gagaring menegaskan bahwa penguatan ekonomi warga merupakan bagian dari jihad ekonomi Muhammadiyah: mengubah mindset dari menerima menjadi memberi, serta menguatkan ekosistem UMKM dan amal usaha agar perputaran ekonomi tetap hidup di lingkungan umat. Ia menekankan keseimbangan iman dengan ilmu dan akal sebagai kunci gerakan Islam berkemajuan.

“Ilmu tanpa agama pincang, agama tanpa ilmu buta,” pungkasnya.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner UIAD

Leave a Reply