KHITTAH.CO, Makassar — Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Dr KH Mawardi Pewangi, menegaskan bahwa hidup-matinya Muhammadiyah sebagai gerakan terletak pada cabang, ranting, dan masjid. Karena itu, penguatan tauhid harus diwujudkan dalam kerja-kerja nyata memakmurkan ranting, mengembangkan cabang, dan menjadikan masjid sebagai pusat relasi sosial umat.
Hal itu disampaikannya saat membawakan materi dalam rangkaian Pengajian Ramadan PWM Sulsel, Ahad, 1 Maret 2026.
Ia mengaku semula diberi tema “Tauhid sebagai Basis Penguatan Cabang, Ranting, dan Masjid”, namun ia menggeser penekanannya menjadi “Cabang, Ranting, dan Masjid sebagai Pusat Relasi Sosial Muhammadiyah” sebagai bentuk aplikasi tauhid yang telah diperkuat oleh para pemateri sebelumnya.
“Saya yakin tauhid kita sudah dicas oleh para pemateri. Sekarang bagaimana tauhid itu membumi dalam penguatan cabang, ranting, dan masjid,” ujarnya.
Dalam suasana penuh semangat, KH Mawardi bahkan mengajak peserta menghidupkan tagline gerakan: “Ranting itu penting, cabang harus berkembang, masjid makmur memakmurkan, Muhammadiyah sukses dunia sukses akhirat.” Ia mendorong agar semangat tersebut dibudayakan dalam setiap pengajian dan forum organisasi.
Tauhid Membumi
KH Mawardi menegaskan bahwa tauhid dalam Muhammadiyah bukan hanya bersifat vertikal (hablumminallah), tetapi juga horizontal (hablumminannas). Mengutip spirit Surah Al-‘Ashr dan Al-An’am ayat 162, ia menekankan bahwa seluruh aktivitas organisasi harus diniatkan lillahi rabbil ‘alamin dan diwujudkan dalam amal saleh yang bermanfaat bagi diri, masyarakat, dan lingkungan.
Ia juga mengingatkan Pokok Pikiran Muhammadiyah dalam Muqaddimah Anggaran Dasar, bahwa hidup manusia berdasar tauhid dan sekaligus bermasyarakat sebagai sunnatullah. Artinya, penguatan iman harus diiringi penguatan peran sosial.
“Tauhid bukan hanya untuk didiskusikan dan diperdebatkan, tetapi diwujudkan dalam amal nyata,” tegasnya.
Ranting dan Masjid adalah Roh Muhammadiyah
Menurut KH Mawardi, cabang dan ranting merupakan ujung tombak dakwah. Bahkan ia mengutip pandangan bahwa pusat Muhammadiyah sebagai gerakan sesungguhnya ada di cabang, ranting, dan masjid. Jika ketiganya mati, maka Muhammadiyah hanya tinggal struktur tanpa ruh.
“Bila cabang, ranting, dan masjid Muhammadiyah mati, maka Muhammadiyah sebagai gerakan sesungguhnya telah mati,” katanya.
Ia menyebut tanda ranting hidup adalah adanya pengajian rutin. Tanpa pengajian, ranting hanya tinggal nama. Selain itu, harus ada masjid atau musala sebagai pusat silaturahmi dan rapat rutin minimal sepekan sekali.
“Rapat itu bukan menambah masalah, tapi menyelesaikan masalah,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya amal yang dilakukan dengan ikhlas dan gembira. Jika rapat sudah tegang dan memicu konflik, lebih baik dihentikan.
Contoh Cabang dan Masjid Unggul
KH Mawardi mengisahkan sejumlah contoh cabang dan masjid Muhammadiyah yang berhasil karena manajemen yang baik. Ia menyebut ada cabang di Jawa Timur dengan aset ratusan miliar rupiah, bahkan memiliki rumah sakit dan unit usaha produktif.
Ia juga mencontohkan Masjid Nurul Jihad di Banjarmasin yang memiliki pemasukan ratusan juta rupiah per bulan, ambulans operasional, layanan jenazah terintegrasi, serta manajemen profesional dengan marbot yang digaji.
“Masjid harus punya marbot yang tinggal dan digaji. Jangan lagi dianggap tidak ikhlas kalau bekerja di masjid dan diberi gaji,” tegasnya.
Menurutnya, masjid makmur bukan hanya ramai jamaah, tetapi juga makmur kegiatannya, dananya, partisipasi anak mudanya, serta aman secara hukum dan ramah lingkungan.
Amanah Muktamar: Perbanyak Cabang dan Ranting
KH Mawardi mengingatkan amanah Muktamar Muhammadiyah untuk memperluas cabang dan ranting. Target nasional adalah sebagian besar kecamatan memiliki cabang dan persentase signifikan desa atau kelurahan memiliki ranting.
Kini, pendirian ranting tidak lagi harus menunggu adanya amal usaha. Bahkan, kelompok berbasis BTN, komunitas kerja, atau jamaah aktif sudah bisa menjadi ranting.
“Jamaah aktif ada di ranting. Basis anggota ada di ranting. Kalau ranting tidak jalan, sulit kita bicara ekonomi, sulit bicara kaderisasi,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya perguruan tinggi dan amal usaha peduli pada pengembangan cabang dan ranting. Perguruan tinggi Muhammadiyah, menurutnya, harus terlibat aktif membina basis jamaah di bawah.
Masjid sebagai Solusi, Bukan Sumber Masalah
Menutup materinya, KH Mawardi kembali menegaskan bahwa masjid harus menjadi solusi atas persoalan umat.
“Apapun masalahnya, masjid solusinya. Jangan masjid justru menjadi sumber masalah,” katanya.
Ia mengingatkan agar seluruh persoalan organisasi dan umat diselesaikan melalui musyawarah di masjid, setelah berjamaah dan dalam suasana ukhuwah.
Menurutnya, masa depan Muhammadiyah sangat bergantung pada hidupnya cabang, ranting, dan masjid sebagai pusat relasi sosial, pusat jamaah, dan pusat peradaban umat.





















