KHITTAH.CO, MAKASSAR — Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan Prof Ambo Asse menutup rangkaian Pengajian Ramadan 1447 H PWM Sulsel dengan ajakan memperkuat akidah, menjaga soliditas, dan membangun amal usaha secara sungguh-sungguh serta sabar.
Dalam penutupan yang berlangsung di Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara, Ahad, 1 Maret 2026, Prof Ambo menegaskan bahwa perjuangan memajukan Muhammadiyah tidak pernah lepas dari ujian.
Ia mengawali dengan mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 214.
“Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu,” ujarnya.
Menurut dia, ayat tersebut menjadi pengingat bahwa jihad dan kesabaran adalah syarat keberhasilan, termasuk dalam mengurus persyarikatan.
“Jihad itu saya maknai sebagai kesungguhan. Mengurus Muhammadiyah sampai sukses. Kalau kita sukses mengurus Muhammadiyah, itu kebahagiaan. Itulah surga-surga di dunia,” katanya.
Ia menekankan bahwa kesabaran yang dimaksud bukan sikap pasif atau menghindari masalah.
“Bukan sabar lalu pergi, tidur, dan menghindar dari masalah. Itu bukan sabar. Itu menyerah. Sabar itu aktif, kreatif, dinamis,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Prof Ambo juga mengapresiasi kemajuan Pesantren Gombara yang kini tampil dengan wajah baru. Ia mengenang masa krisis pada awal 2000-an ketika konflik internal sempat melanda.
Kini, menurut dia, capaian Gombara telah melampaui periode sebelumnya. Gedung bertingkat, fasilitas yang berkembang, hingga rencana pengembangan lanjutan menjadi tanda kebangkitan.
“Gombara sudah bangkit dan melebihi kemajuan sebelumnya,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa kemajuan itu hanya mungkin terwujud ketika konflik bisa diredam dan energi diarahkan pada pembangunan.
“Kalau ada amal usaha konflik, tunggu mundurnya. Tidak akan maju kalau terpecah,” tegasnya.
Akidah sebagai Fondasi
Prof Ambo menegaskan kembali bahwa seluruh gerak Muhammadiyah harus berlandaskan tauhid. Ia mengutip tujuan persyarikatan, yakni menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
“Akidah Islam adalah mentauhidkan Allah dengan sesungguhnya. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Itu dasar dari segala aktivitas kita,” katanya.
Tauhid, lanjutnya, bukan hanya keyakinan lisan, tetapi harus melahirkan amal saleh dan komitmen keikhlasan.
“Harus betul-betul ikhlas mengurus Muhammadiyah. Amal itu dikerjakan dengan kesungguhan dan kesabaran,” ujarnya.
Ia mengutip ayat, “Barang siapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.”
Menurut dia, keberhasilan amal usaha seperti sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi adalah buah dari iman yang diwujudkan dalam kerja nyata.
Sinergi dan Rapat
Prof Ambo juga menekankan pentingnya kolaborasi dan komunikasi dalam memajukan persyarikatan. Ia mengingatkan agar pimpinan di semua tingkatan tidak terjebak konflik internal.
“Jangan menyerupai orang yang berkonflik. Kalau di amal usaha ada kelompok-kelompok, bagaimana mau maju,” katanya.
Ia bahkan menyebut rapat sebagai denyut kehidupan organisasi.
“Organisasi itu hidup kalau rapat. Apa yang sudah dikerjakan pekan lalu, apa yang akan dikerjakan pekan depan. Kalau tidak rapat, tidak ada kegiatan,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong agar pengajian dan konsolidasi tidak berhenti di tingkat wilayah. Pimpinan daerah, cabang, hingga ranting diminta melanjutkan pengajian secara rutin.
“Kalau ranting, sekali sepekan. Cabang, dua pekan sekali. Daerah, sebulan sekali. Supaya semangat ini menyebar,” katanya.
Surga di Dunia
Menutup sambutannya, Prof Ambo mengajak seluruh pimpinan menjadikan kesuksesan mengelola amal usaha sebagai kebahagiaan bersama.
“Kita berharap surga itu kita peroleh di dunia. Mengurus Muhammadiyah dalam keadaan sukses. Itu kebahagiaan,” ujarnya.
Dengan pengajian Ramadan yang telah berlangsung dua hari, ia berharap komitmen tauhid, kesungguhan berjihad, dan kesabaran kolektif terus menguatkan gerak Muhammadiyah di Sulawesi Selatan.
“Akidah yang kokoh, amal yang sungguh-sungguh, dan kesabaran dalam menghadapi ujian. Itu yang akan membawa kita maju,” kata Prof Ambo.





















