Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Buka Pengajian Ramadan PDM Makassar, Prof Gagaring Pagalung Dorong Penguatan Identitas Kader Muhammadiyah

×

Buka Pengajian Ramadan PDM Makassar, Prof Gagaring Pagalung Dorong Penguatan Identitas Kader Muhammadiyah

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR — Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan (PWM Sulsel), Gagaring Pagalung, menekankan pentingnya penguatan identitas kader Muhammadiyah dalam kehidupan berorganisasi.

Pesan itu ia sampaikan saat membuka kegiatan Pengajian Ramadan 1447 Hijriah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar (PDM Makassar) di Pusat Dakwah Muhammadiyah (Pusdim) Makassar, Sabtu, 7 Maret 2026.

Dalam sambutannya, Gagaring mengajak para pengurus dan kader Muhammadiyah untuk mengukur kedalaman identitas mereka sebagai bagian dari persyarikatan.

Menurut dia, identitas kader dapat terlihat dari respons spiritual dan emosional ketika berhadapan dengan simbol-simbol organisasi Muhammadiyah.

“Ukuran seorang kader Muhammadiyah bisa dilihat dari bagaimana respons spiritual dan emosionalnya ketika berhadapan dengan simbol-simbol Muhammadiyah,” kata Gagaring dalam sambutannya.

Ia menjelaskan bahwa kader yang memiliki mental Muhammadiyah yang kuat akan tetap berkomitmen dalam kondisi apa pun. Komitmen tersebut, menurutnya, terlihat dari kedisiplinan dan kesungguhan dalam menjalankan tugas-tugas organisasi.

“Kader yang memiliki mental Muhammadiyah tidak akan tergoyahkan oleh situasi. Hujan, panas, siang hari, atau kondisi apa pun tidak menjadi alasan untuk mengurangi komitmennya,” ujar Gagaring.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kekuatan organisasi sangat bergantung pada kualitas mental para kadernya. Oleh karena itu, setiap anggota Muhammadiyah diharapkan terus memperkuat komitmen, kedisiplinan, serta semangat berkhidmat dalam menjalankan amanah persyarikatan.

Dalam penjelasannya, Gagaring juga menyoroti pentingnya pemahaman terhadap Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Ia menyebut bahwa perbedaan penetapan awal Ramadan, Idul Fitri, maupun hari Arafah di berbagai negara sering terjadi karena belum adanya referensi kalender Hijriah yang bersifat global.

Menurut dia, umat Islam memerlukan sistem kalender yang seragam agar penentuan hari-hari besar keagamaan dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi. Sistem tersebut diharapkan mampu menjadi rujukan bersama bagi umat Islam di seluruh dunia.

“Selama ini kita sering mengalami perbedaan tanggal hari raya karena belum ada referensi tunggal seperti kalender Masehi. Inilah yang menjadi urgensi Kalender Hijriah Global Tunggal,” ujar Gagaring.

Ia menambahkan bahwa gagasan kalender Hijriah global sebenarnya bukan hal baru. Ide tersebut sudah muncul sejak 1939 atau 1358 Hijriah yang dipelopori oleh seorang ulama Mesir, Ahmad Muhammad Syakir.

Menurut Gagaring, gagasan tersebut terus berkembang hingga akhirnya dibahas dalam forum internasional yang diikuti puluhan negara. Ia menjelaskan bahwa upaya penyatuan kalender Hijriah pernah dibahas dalam konferensi internasional di Istanbul pada 2016 yang dihadiri sekitar 60 hingga 70 negara.

“Kajian tentang kalender Hijriah global terus berkembang. Pada 2016 bahkan digelar konferensi internasional di Istanbul yang dihadiri sekitar 60 hingga 70 negara,” kata Gagaring.

Ia berharap gagasan kalender Hijriah global dapat terus didiskusikan secara serius oleh para ulama dan ilmuwan Muslim di berbagai negara. Menurutnya, keseragaman kalender Hijriah akan membantu memperkuat persatuan umat Islam dalam menjalankan ibadah dan perayaan hari-hari besar.

Pengajian Ramadan yang digelar PDM Makassar tersebut dihadiri oleh berbagai unsur pimpinan Muhammadiyah di tingkat daerah dan cabang, termasuk majelis, lembaga, serta organisasi otonom. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan buka puasa bersama sebagai momentum mempererat ukhuwah di antara para pengurus.

Melalui kegiatan tersebut, PWM Sulsel berharap para kader Muhammadiyah dapat terus memperkuat identitas organisasi sekaligus meningkatkan komitmen dalam memajukan persyarikatan.

Momentum Ramadan diharapkan menjadi sarana refleksi spiritual sekaligus penguatan solidaritas dalam menjalankan dakwah Muhammadiyah di tengah masyarakat.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply